Kabar bahagia datang dari miliarder dermawan MacKenzie Scott. Dia telah menikah dengan seorang guru sains di Seattle, AS bernama Dan Jewett.
Scott sebelumnya adalah istri dari pendiri Amazon dan orang terkaya dunia Jeff Bezos. Namun pernikahan mereka yang sudah berlangsung 25 tahun kandas, dan mereka bercerai di tahun 2019.
Drama perselingkuhan yang dilakukan Bezos membuat banyak orang bersimpati pada Scott. Dan tentu saja, kabar mengenai pernikahan keduanya pun dinantikan.
Dikutip dari Geek Wire, Jewett yang kini menjadi suaminya, adalah seorang guru sains di Lakeside, sebuah sekolah swasta eksklusif di utara Seattle. Sekolah ini dikenal sebagai almamater pendiri Microsoft Bill Gates dan Paul Allen.
Baik Scott maupun Jewett sama-sama dikenal dermawan. Dalam website The Giving Pledge, situs tempat orang-orang super kaya menjanjikan harta mereka diserahkan untuk amal, Jewett secara khusus menulis di halaman MacKenzie Scott.
"Aneh rasanya menulis surat yang menunjukkan bahwa saya berencana memberikan sebagian besar kekayaan seumur hidup. Ini artinya melakukan yang terbaik untuk mengikuti teladan orang-orang sebelumnya, dengan meneruskan segala jenis sumber daya mulai dari waktu, energi, hingga harta materi yang saya milik untuk diberikan. Sekarang, secara kebetulan yang membahagiakan, saya menikah dengan salah satu orang paling dermawan dan baik hati yang saya kenal, dan bergabung dengannya dalam komitmen untuk mewariskan finansial untuk melayani orang lain," tulisnya.
Scott sendiri berada di urutan ke-22 orang terkaya dunia dengan perkiraan total kekayaan USD 53,5 miliar berdasarkan catatan Bloomberg. Dalam beberapa bulan belakangan, Scott menambah lagi dana untuk donasi. Desember lalu, dia berkomitmen akan memberikan sekitar USD 4 miliar ke 384 lembaga nirlaba, pendidikan, dan amal.
Merespons kabar pernikahan mantan istrinya, Jeff Bezos mengatakan turut berbahagia. "Dan Jewett adalah pria yang hebat. Saya ikut merasa gembira untuk mereka berdua," tutupnya.
https://movieon28.com/movies/a-good-day-to-die-hard/
Hacker Rusia dan China Diduga Curi Data Vaksin Eropa
Hacker Rusia dan China diduga melakukan serangan cyber terhadap European Medicines Agency (EMA) pada Desember 2020. Serangan ini bertujuan mencuri dokumen untuk vaksin COVID-19 dan perawatan pasien yang sedang berjalan.
Laporan ini disampaikan Reuters yang mengutip sumber surat kabar Belanda De Volkskrant. Dalam laporannya, surat kabar tersebut mengklaim bahwa para penyusup asal Rusia memiliki akses selama lebih dari sebulan. Mereka mengincar pembelian vaksin Pfizer atau BioNTech.
Sedangkan peretas asal China dilaporkan melakukan serangan pada paruh pertama 2020 dan selama tahap awal pandemi, sedangkan Rusia menyusul di sekitar akhir tahun tersebut.
EMA mengungkapkan adanya pelanggaran akses pada bulan Desember, tetapi tidak menyebutkan pelakunya atau memberikan motif spesifik. Lembaga tersebut menegaskan kembali bahwa penyelidikan kriminal saat ini sedang berlangsung. Namun EMA menolak berkomentar tentang siapa yang terlibat dalam peretasan tersebut.
Sementara itu, Rusia dan China secara historis membantah adanya upaya kampanye peretasan apa pun terlepas dari adanya bukti-bukti. Sementara itu, sebenarnya tidak mengherankan jika Rusia dan China terlibat. Keduanya punya sejarah panjang berkaitan dengan peretasan yang disponsori negara.
Kalaupun benar, meski motivasi pasti mereka tidak jelas, sejumlah pengamat menduga mereka mungkin saja menggunakan data EMA untuk menargetkan negara-negara yang sangat membutuhkan pasokan vaksin tambahan.