Sabtu, 17 April 2021

Vaksin Nusantara Dituding Bukan Karya Anak Bangsa, Penelitinya Meradang

 Salah satu peneliti vaksin Nusantara dr Muhammad Karyana angkat bicara usai vaksinnya ramai dituding bukan karya anak bangsa. Ia berdalih, bantuan dari Amerika Serikat atau pihak AIVITA Biomedical hanya sebatas transfer alih teknologi.

Menurutnya, penelitian vaksin berbasis sel dendritik ini tentu akan dikembangkan secara mandiri.


"Darahnya darah siapa, yang ngerjain siapa begitu? itu apa semua orang AS datang sendiri? Ya makanya nanti kita harapkan kalau di RSUP dr Kariadi sudah bisa, maka bisa mengajak RS lain," kata dr Karyana, dikutip dari CNNIndonesia.


Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebelumnya juga mengungkap hasil hearing atau diskusi bersama para peneliti vaksin Nusantara 16 Maret 2021. Disebutkan, para peneliti tak menguasai proses pengembangan vaksin berteknologi dendritik.


Hal ini dibantah dr Karyana. Ditemui di Kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), ia menyebut seluruh peneliti sudah menguasai proses pengembangan dan penggunaan sel dendritik pada relawan uji vaksin Nusantara meski tak menampik kenyataan di uji Fase I, ada 3 subjek pilot project yang dikerjakan peneliti AIVITA dari AS.


Pengembangan vaksin diklaim cukup murah

Perihal vaksin yang disebut-sebut memakan biaya mahal, dr Karyana juga keberatan. Ia menegaskan vaksin Nusantara justru bisa memangkas biaya penyimpanan dan distribusi karena tak membutuhkan cold chain.


"Mungkin mahal yang dimaksud itu hanya proses waktu dibuat. Tapi adanya transfer alih teknologi ya itu kita harapkan bisa buat sendiri, dan nanti lebih murah," tuturnya.


Didanai Kemenkes saat dr Terawan menjabat

dr Karyana yang juga Pelaksana Tugas Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membenarkan pembiayaan uji Fase I mengalir dari Balitbangkes, Kemenkes. Namun, soal informasi aliran dana yang beredar mencapai Rp 29 miliar menurutnya keliru.


"Iya (didanai), tapi tidak (29 miliar), belum. Uji klinis Fase I hanya 28 orang, hanya berapa, itu juga sebagian besar uangnya digunakan untuk beli peralatan yang kita taruh di RSUP dr Kariadi," kata dr Karyana tanpa memastikan detail jumlah dana yang diberikan pada uji fase I vaksin Nusantara.


Kata dia, pembiayaan vaksin Nusantara kini sudah disetop sejak Terawan Agus Putranto tak lagi menjabat sebagai Menkes dan digantikan Budi Gunadi Sadikin.


"Iya dihentikan setelah beliau diganti," pungkasnya.


dr Karyana menyebut pembiayaan vaksin Nusantara wajar karena jika berhasil, bisa memenuhi pasokan vaksin Corona di Indonesia.

https://indomovie28.net/movies/the-last-big-save/


Didukung Pemerintah, Vaksin Merah Putih Ditargetkan Rampung Awal 2022


Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito menegaskan pihaknya mendukung percepatan proses penelitian hingga proses produksi vaksin Merah Putih.

Penny menyebut proses penelitian untuk vaksin Merah Putih yang dilakukan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman sudah sesuai dengan ketentuan pengembangan vaksin yang disyaratkan BPOM.


Penny menjabarkan tahapan penelitian dalam pengembangan vaksin harus memenuhi standar high-tech dan advance, sehingga semua tahapan harus diikuti dengan hati-hati. Ia mengulas, Presiden Joko Widodo juga telah mengingatkan pengembangan vaksin harus mengikuti persyaratan dan tahapan yang komprehensif.


"Kami sudah menerbitkan tools pengembangan vaksin di lembaga riset dan kami menyambut baik bahwa progres sudah berjalan dan tentu kita harus bersabar," ujar Penny dikutip dalam keterangan tertulis, Jumat (16/4/2021).


BPOM, kata Penny, memberikan pendampingan, relaksasi, juga terobosan yang tetap mengedepankan mutu dan keamanan dalam pengembangan vaksin Merah Putih. Ia menyampaikan pemerintah juga bekerja sama dengan semua pihak, baik lembaga penelitian, universitas, produsen vaksin seperti Bio Farma dan lembaga terkait untuk mendapatkan vaksin yang berkhasiat dan aman.


"Kita all out membantu sehingga vaksin Merah Putih ini bisa secepatnya sesuai timeline yang ada atau akan dipercepat, kita lihat nanti progresnya untuk bisa terwujud setiap tahapannya," cetus Penny.


Kepala Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Subandrio menerangkan penelitian untuk vaksin Merah Putih telah memasuki tahap akhir untuk pengembangan bibit vaksin selama 12 bulan. Eijkman saat ini dalam tahap optimasi agar vaksin yang diproduksi berkualitas baik. Selain itu juga proses pengalihan vaksin dari skala R&D di laboratorium ke skala industri untuk dilakukan uji klinis juga tengah dijalankan.


"Proses selanjutnya akan lebih banyak dilakukan Bio Farma, tetapi Eijkman tidak lepas tangan tetap terlibat sampai dengan uji klinis fase 1,2, dan 3," jelas Amin.


Berdasarkan keterangan Penny, BPOM memperkirakan vaksin Merah Putih yang diproduksi Bio Farma sudah bisa menyelesaikan uji klinis pada semester I-2022 dan proses produksi sudah berjalan pada semester I-2022.

https://indomovie28.net/movies/the-mummy-tomb-of-the-dragon-emperor/


Lelah Tapi Gairah Seks Sedang Memuncak? 4 Posisi Hemat Energi Ini Bisa Dicoba

 Dalam beberapa waktu, pasangan tentunya pernah merasa libido sedang berada di puncaknya, namun terlalu lelah untuk berhubungan seks. Tahukah kamu bahwa seks juga akan tetap terasa nikmat meski tubuh terasa lelah?

Faktanya, menurut pakar seks Marla Renee Stewart, MA, bercinta saat sedang mengantuk atau lelah juga bisa terasa nikmat, khususnya karena rasa kelelahan tersebut akan mengurangi dorongan selama bercinta.


Selain itu, seks juga akan terasa lebih intim lantaran pasangan tidak hanya fokus pada gerakan, melainkan fokus pada sensasi yang dirasakan selama bercinta. Tentunya, posisi yang dipilih untuk bercinta saat sedang mengantuk tak kalah pentingnya untuk diperhatikan.


Sebab, beberapa variasi bercinta membutuhkan lebih banyak energi dan tenaga yang tidak cocok jika dipilih saat kondisi pasangan sedang mengantuk atau kelelahan.


Dikutip dari laman Bustle, berikut 4 variasi bercinta bagi pasangan yang sudah mengantuk, tetapi tetap ingin berhubungan intim.


1. Missionary

Variasi di mana wanita berada di bawah, sedangkan pria di atas ini cocok untuk dilakukan saat sedang mengantuk. Para pasangan bisa mencoba angle yang berbeda-beda pada posisi ini untuk menstimulasi klitoris wanita. Ketika pria yang berada di atas tidak dalam kondisi mengantuk, maka pria bisa fokus melakukan dorongan. Sementara itu, wanita yang kelelahan bisa memejamkan mata dan fokus pada sensasinya.


2. Spooning

Posisi yang satu ini memang menjadi favorit para pasangan yang ingin bercinta, tetapi sedang tidak bertenaga. Kamu dan pasangan dapat berbaring menyamping menghadap ke arah yang sama. Pada variasi spooning, akan lebih baik jika pasangan menggunakan lubrikan untuk mempermudah penetrasi.


Spooning cocok untuk pasangan yang ingin bercinta, namun sedang lemas lantaran pasangan tidak memerlukan banyak energi saat penetrasi. Apabila ingin membuat suasana terasa lebih 'panas' pria juga bisa menstimulasi klitoris pasangannya pada posisi ini.


3. Face to face

Face to face merupakan variasi di mana pria bisa duduk di atas kasur, sementara wanita akan duduk di pangkuannya dengan posisi berhadapan. Dengan demikian, pria bisa memulai penetrasi secara perlahan. Agar tak terlalu menghabiskan banyak energi, pasangan bisa menggunakan lubrikan dan meletakkan bantal di bawah panggul untuk menemukan angle yang pas.


4. Woman on top

Sesuai namanya, pada variasi ini pria dapat berbaring terlentang di kasur, sedangkan wanita akan berada di atasnya. Agar pasangan berada dalam posisi yang lebih dekat, pria bisa melebarkan kakinya dan sedikit menaikkannya. Posisi ini cocok saat sedang mengantuk atau kelelahan, tetapi wanita tetap ingin mengontrol sesi bercinta sesuai dengan keinginannya.

https://indomovie28.net/movies/the-lost-husband/


Vaksin Nusantara Dituding Bukan Karya Anak Bangsa, Penelitinya Meradang


Salah satu peneliti vaksin Nusantara dr Muhammad Karyana angkat bicara usai vaksinnya ramai dituding bukan karya anak bangsa. Ia berdalih, bantuan dari Amerika Serikat atau pihak AIVITA Biomedical hanya sebatas transfer alih teknologi.

Menurutnya, penelitian vaksin berbasis sel dendritik ini tentu akan dikembangkan secara mandiri.


"Darahnya darah siapa, yang ngerjain siapa begitu? itu apa semua orang AS datang sendiri? Ya makanya nanti kita harapkan kalau di RSUP dr Kariadi sudah bisa, maka bisa mengajak RS lain," kata dr Karyana, dikutip dari CNNIndonesia.


Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebelumnya juga mengungkap hasil hearing atau diskusi bersama para peneliti vaksin Nusantara 16 Maret 2021. Disebutkan, para peneliti tak menguasai proses pengembangan vaksin berteknologi dendritik.


Hal ini dibantah dr Karyana. Ditemui di Kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), ia menyebut seluruh peneliti sudah menguasai proses pengembangan dan penggunaan sel dendritik pada relawan uji vaksin Nusantara meski tak menampik kenyataan di uji Fase I, ada 3 subjek pilot project yang dikerjakan peneliti AIVITA dari AS.

https://indomovie28.net/movies/babylon-a-d/