Senin, 19 April 2021

Awas Clubhouse Palsu untuk PC, Isinya Malware!

 Sejumlah iklan Facebook menyamar sebagai aplikasi Clubhouse untuk pengguna PC. Aplikasi ini tentu saja palsu, karena sejatinya berisi malware yang mengincar korban.

Saat diklik, iklan ini akan mengarahkan pengguna ke website Clubhouse palsu, termasuk tampilan screenshot aplikasi Clubhouse untuk PC, beserta tautan unduhan ke aplikasi berbahaya. Untuk diketahui, Clubhouse sejauh ini hanya ada di perangkat iOS.


Saat dibuka, aplikasi berbahaya ini mencoba berkomunikasi dengan server perintah dan kontrol untuk mendapatkan instruksi tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Lebih lanjut, aplikasi jahat tersebut mencoba menginfeksi mesin yang kemudian akan diisolasi dengan ransomware.


Seperti dikutip dari Tech Crunch, Sabtu (10/4/2021) penjahat dunia maya memang kerap mendompleng sebuah momen atau aplikasi yang sedang populer untuk menjerat korban. Clubhouse tentu saja bisa dimanfaatkan karena saat ini banyak orang mencarinya, dan penasaran menjajal aplikasi tersebut.


Clubhouse didownload lebih dari 8 juta kali secara global. Antusiasme yang tinggi ini memancing para penjahat cyber membuat tiruannya sebagai kedok untuk menyebar malware.


Meski demikian, tampaknya antusiasme terhadap Clubhouse di Facebook tidak sebesar itu. Setiap halaman Facebook yang meniru Clubhouse hanya memiliki sedikit like, tetapi masih aktif. Tetap saja, iklan-iklan semacam ini berpotensi membahayakan dan harus dibersihkan.


Saat dikonfirmasi, Facebook tidak menyebutkan ada berapa banyak akun yang mengklik iklan yang mengarah ke situs Clubhouse palsu. Namun setidaknya, ada sembilan iklan Clubhouse berseliweran di Facebook.


Beberapa iklan menampilkan kalimat, "Clubhouse kini tersedia untuk PC", dan iklan lainnya mencatut foto sang pendiri Clubhouse Paul Davidson dan Rohan Seth. Clubhouse sendiri tidak berkomentar apapun mengenai isu ini. Saat ini iklan-iklan tersebut telah dihapus dari Facebook Ad Library.

https://maymovie98.com/movies/the-6-000-000-dollar-man/


Pangeran Samsung Dipenjara, Perusahaannya Terkatung-katung


 Dengan ketidakhadiran Vice Chairman dan pemimpin de-facto Samsung Lee Jae-yong, raksasa teknologi asal Korea Selatan ini berada dalam masa krisis. Menjalankan perusahaan besar tentu saja tidak mudah, dan jelas bukan sesuatu yang bisa dilakukan dari penjara.

Sang Pangeran Samsung masuk bui sejak Januari atas kasus suap yang menjeratnya. Pria yang juga dikenal dengan nama Jay Y Lee ini tidak mengajukan banding atas putusan tersebut. Artinya, dia bersedia menjalani vonis seluruh hukuman yakni penjara selama dua setengah tahun.


Sebagai orang penting Samsung, persetujuan Jay Y Lee diperlukan untuk keputusan bisnis utama. Ketidakhadirannya membuat Samsung terkatung-katung. Keputusan yang terkait dengan investasi baru dan strategi masa depan perlu segera diselesaikan, tetapi para eksekutif Samsung tidak punya waktu berdiskusi dengan pemimpin mereka.


Sangat sulit bagi Jay Y Lee untuk membuat keputusan strategis selama dia di penjara. Para eksekutif Samsung hanya diberi waktu 10 menit untuk bertemu dengannya dan itu jelas tidak cukup untuk membahas hal-hal yang begitu rumit.


Alhasil, sejumlah keputusan besar pun ditunda karena ketidakhadiran Jay Y Lee. Salah satu contohnya, Samsung telah mengusulkan investasi bernilai multi-miliar dolar ke Amerika Serikat. Mereka bermaksud membangun pabrik pembuatan chip baru di tengah seretnya pasokan komponen semikonduktor global.

https://maymovie98.com/movies/exposed-3/

Twitter Kena Sensor Rusia, Aksesnya Dibikin Lemot

 Rusia menerapkan metode sensor baru dalam upayanya membungkam Twitter. Alih-alih langsung memblokir, negara tersebut menggunakan cara halus dengan melambatkan aksesnya.

Berdasarkan riset Censored Planet, platform pengukuran sensor yang mengumpulkan data di lebih dari 200 negara, Rusia diam-diam melambatkan lalu lintas data Twitter ke penggunanya di Rusia hingga 128kbps saja.


Berbeda dengan teknik sensor internet Rusia di masa lalu yang biasanya melakukan pemblokiran langsung, memperlambat akses adalah hal baru yang dilakukan Rusia dan menguntungkan pihak yang menyensor.


"Berlawanan dengan pemblokiran yang mencegah akses ke konten, pembatasan akses bertujuan untuk menurunkan kualitas layanan, sehingga hampir tidak mungkin bagi pengguna untuk membedakan pembatasan yang disengaja dengan alasan seperti beban server yang tinggi atau jaringan macet," kata para peneliti Censored Planet dikutip dari Ars Technica, Sabtu (10/4/2021).


"Dengan prevalensi teknologi 'penggunaan ganda' seperti perangkat Deep Packet Inspection (DPI), pembatasan sangat mudah diterapkan oleh pihak berwenang, namun sulit bagi pengguna untuk mengatribusikannya atau mengelak," sambungnya.


Pembatasan ini dimulai sejak 10 Maret, seperti yang disebutkan dalam tweet Doug Madory direktur analisis internet di firma pengukuran akses internet Kentik.


Dalam upaya memperlambat lalu lintas yang ditujukan ke atau berasal dari Twitter, Madory menemukan, regulator Rusia menargetkan t.co, domain yang digunakan untuk menghosting semua konten yang dibagikan di situs. Dalam prosesnya, semua domain yang memiliki string * t.co * di dalamnya (misalnya, Microsoft.com atau reddit.com) juga akan dibatasi.


Langkah itu menyebabkan masalah internet meluas karena membuat domain yang terdampak menjadi tidak dapat digunakan secara efektif. Pelambatan juga menghabiskan memori dan sumber daya CPU dari server yang terpengaruh karena mengharuskan mereka untuk mempertahankan koneksi lebih lama dari biasanya.


Roskomnadzor, badan eksekutif Rusia yang mengatur komunikasi massa di negara itu, mengatakan bahwa mereka membatasi Twitter karena gagal menghapus konten yang melibatkan pornografi anak, obat-obatan, dan bunuh diri.


Lembaga tersebut juga mengatakan bahwa perlambatan mempengaruhi pengiriman audio, video, dan grafik, tetapi tidak dengan Twitter itu sendiri. Di sisi lain, langkah ini dihujani kritikan. Banyak pihak menilai, menyensor dengan membatasi ketersediaan Twitter adalah langkah yang tidak tepat. Sementara itu, Twitter menolak mengomentari isu ini.

https://maymovie98.com/movies/maju-kena-mundur-kena/


Awas Clubhouse Palsu untuk PC, Isinya Malware!


Sejumlah iklan Facebook menyamar sebagai aplikasi Clubhouse untuk pengguna PC. Aplikasi ini tentu saja palsu, karena sejatinya berisi malware yang mengincar korban.

Saat diklik, iklan ini akan mengarahkan pengguna ke website Clubhouse palsu, termasuk tampilan screenshot aplikasi Clubhouse untuk PC, beserta tautan unduhan ke aplikasi berbahaya. Untuk diketahui, Clubhouse sejauh ini hanya ada di perangkat iOS.


Saat dibuka, aplikasi berbahaya ini mencoba berkomunikasi dengan server perintah dan kontrol untuk mendapatkan instruksi tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Lebih lanjut, aplikasi jahat tersebut mencoba menginfeksi mesin yang kemudian akan diisolasi dengan ransomware.


Seperti dikutip dari Tech Crunch, Sabtu (10/4/2021) penjahat dunia maya memang kerap mendompleng sebuah momen atau aplikasi yang sedang populer untuk menjerat korban. Clubhouse tentu saja bisa dimanfaatkan karena saat ini banyak orang mencarinya, dan penasaran menjajal aplikasi tersebut.


Clubhouse didownload lebih dari 8 juta kali secara global. Antusiasme yang tinggi ini memancing para penjahat cyber membuat tiruannya sebagai kedok untuk menyebar malware.


Meski demikian, tampaknya antusiasme terhadap Clubhouse di Facebook tidak sebesar itu. Setiap halaman Facebook yang meniru Clubhouse hanya memiliki sedikit like, tetapi masih aktif. Tetap saja, iklan-iklan semacam ini berpotensi membahayakan dan harus dibersihkan.


Saat dikonfirmasi, Facebook tidak menyebutkan ada berapa banyak akun yang mengklik iklan yang mengarah ke situs Clubhouse palsu. Namun setidaknya, ada sembilan iklan Clubhouse berseliweran di Facebook.

https://maymovie98.com/movies/flora-4/