Minggu, 16 Mei 2021

Kekaguman Pemenang Nobel Kepada Para Ilmuwan Muslim

 Fisikawan teoretis pemenang Hadiah Nobel Steven Weinberg mengomentari soal Islam dan sains. Menurutnya ilmuwan muslim di zaman dulu memiliki kemajuan luar biasa karena dedikasinya pada ilmu sains.

Penulis 'To Explain the World: The Discovery of Modern Science' ini mengatakan kepada National Geographic bahwa menjadi ilmuwan tidak berarti seseorang harus menyingkirkan segala kepercayaan terhadap agama.

https://tendabiru21.net/movies/tent-of-miracles/


"Yang saya katakan adalah, untuk menjadi ilmuwan, Anda tidak harus berkomitmen untuk tidak beragama. Ada beberapa ilmuwan yang sangat baik yang cukup religius, dan ada sepanjang sejarah. Galileo cukup religius, begitu pula Newton, meskipun dengan cara yang agak tidak ortodoks," ujarnya, seperti dilansir detikINET, Kamis (29/4/2021).


Tetapi ketika sedang bergulat dengan sains, Weinberg mengatakan seseorang harus tahu garis pembatasnya dengan agama. Mengapa demikian? Sebab, ada hal yang sifatnya keilahian, yang supernatural, yang tidak bisa dijelaskan. Di sisi lain ada sains yang mencetuskan ide-ide yang melampaui akal manusia untuk menjelaskan alam.


"Jadi yang saya katakan adalah Anda bisa menjadi religius atau tidak - saya terkenal tidak religius - dan tetap menjadi ilmuwan yang sangat baik. Tapi Anda tidak bisa membawa agama ke dalam sains. Teori ilmiah Anda tidak boleh bergantung pada asumsi tentang Tuhan," pendapatnya.


Soal kejayaan Islam dalam dunia sains, Weinberg juga angkat suara. Ia mengatakan masa keemasan ilmu pengetahuan Islam berakhir antara tahun 1100 dan 1200 M. Padahal saat itu ilmuwan Muslim jauh lebih maju dari orang-orang sezaman mereka dengan ilmuwan Kristiani Eropa.


"Tetapi setelah astronom Eropa mulai menggunakan teleskop, tidak ada astronom di dunia Muslim yang menggunakan teleskop hingga zaman modern. Itu karena mereka tidak membangun observatorium untuk melakukan sains. Mereka membangunnya untuk tujuan membuat kalender agama dan menentukan arah ke Makkah," katanya.


Ketika ditanya apakah Islam membuat ilmuwan jadi jauh dengan sains, Weinberg dengan tegas menjawab tidak. Faktanya, ajaran Islam tidak menghambat para ilmuwan Muslim mengembangkan sains. Kondisi ilmuwan Muslim di masa modern lebih pada dedikasi yang nampaknya kurang seteguh ilmuwan Muslim terdahulu.


"Salah satu teman baik saya di bidang sains adalah Abdus Salam. Dia adalah fisikawan teoritis terbaik dan seorang Muslim yang taat. Tapi dia tidak mencampurkan Islam ke dalam ilmunya," ujarnya.


Pada masa keemasan peradaban Islam, Islam tidak menghambat sains. Namun, kata Weinberg, para ilmuwan Muslim pun tidak mencampur ajaran agama ke dalam sains. Agama dan sains bukan untuk dipertentangkan, tapi punya jalur masing-masing untuk berkembang. Para ilmuwan Muslim di zaman dahulu, fokus mengembangkan sains tanpa harus kaku memberi label Islam. Sehingga, ilmu yang dikembangkan para ilmuwan Muslim bisa berkembang luas kepada bangsa-bangsa lain.


"Di masa keemasan sains Islam, mereka tidak melakukan sains Islam, mereka melakukan sains," pungkasnya.

https://tendabiru21.net/movies/carry-on-camping/

Virus Corona Purba Serbu Asia Timur 25 Ribu Tahun Lalu

 Studi terbaru mengungkapkan, virus Corona purba pernah menyerang wilayah Asia Timur sekitar 25.000 tahun lalu dan selama ribuan tahun setelahnya.

Pandemi COVID-19 yang telah menewaskan lebih dari 3 juta jiwa, memperlihatkan betapa rentan kita terhadap virus baru. Tapi meski ancaman ini tampak baru, nyatanya manusia telah memerangi virus berbahaya ini sejak lama.

https://tendabiru21.net/movies/eurovision-song-contest-the-story-of-fire-saga/


"Selalu ada virus yang menginfeksi populasi manusia. Virus benar-benar salah satu pendorong utama seleksi alam dalam genom manusia," kata penulis studi David Enard, asisten profesor ekologi dan evolusi di University of Arizona, dikutip dari Live Science, Kamis (29/4/2021).


Hal itu karena gen yang meningkatkan peluang orang untuk bertahan hidup dari patogen, lebih mungkin diwariskan ke generasi baru. Dengan menggunakan alat modern, para peneliti dapat mendeteksi sidik jari patogen purba ini dalam DNA manusia yang hidup saat ini.


"Informasi ini berguna dalam memberikan wawasan untuk membantu memprediksi pandemi di masa depan. Hampir selalu benar bahwa hal-hal yang terjadi di masa lalu mungkin terjadi lagi di masa mendatang," kata Enard.


Menggunakan informasi yang tersedia di database publik, Enard dan timnya menganalisis genom 2.504 orang di 26 populasi manusia yang berbeda di seluruh dunia. Temuan ini telah dimasukkan ke database pracetak repositori ilmu biologi bioRxiv pada 13 Januari, dan studi sedang dalam proses ditinjau untuk publikasi dalam jurnal ilmiah.


Ketika virus Corona menyelinap ke dalam sel manusia, mereka membajak mesin sel untuk bereplikasi. Artinya, keberhasilan virus bergantung pada interaksinya dengan ratusan protein manusia yang berbeda.


Para peneliti memperbesar sekumpulan 420 protein manusia yang diketahui berinteraksi dengan virus Corona. Sebanyak 332 di antaranya berinteraksi dengan SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19. Sebagian besar protein ini membantu virus untuk mereplikasi di dalam sel, tetapi beberapa ada yang membantu sel melawan virus.

Gen yang mengkode protein tersebut bermutasi secara acak dan terus-menerus. Tetapi jika mutasi memberikan keuntungan pada gen, seperti kemampuan yang lebih baik untuk melawan virus, mutasi tersebut akan memiliki peluang lebih baik untuk diturunkan ke generasi berikutnya.

Para peneliti menemukan bahwa pada orang keturunan Asia Timur, gen tertentu yang diketahui berinteraksi dengan virus Corona telah diturunkan dari nenek moyangnya. Dengan kata lain, seiring waktu, varian tertentu muncul lebih sering daripada yang diperkirakan.


Serangkaian mutasi ini kemungkinan besar membantu nenek moyang populasi manusia ini, menjadi lebih resisten terhadap virus purba dengan mengubah seberapa banyak protein ini dibuat oleh sel.


Para peneliti menemukan bahwa varian gen yang mengkode 42 dari 420 protein yang mereka analisis mulai meningkat frekuensinya sekitar 25.000 tahun yang lalu. Penyebaran varian yang menguntungkan berlanjut hingga sekitar 5.000 tahun yang lalu, menunjukkan bahwa virus purba terus mengancam populasi ini untuk waktu yang lama.

https://tendabiru21.net/movies/the-red-tent/