Minggu, 16 Mei 2021

Spotify Luncurkan Podcast Sendiri

  Pada acara Apple Spring Loaded perusahaan mengumumkan bahwa mereka akan meluncurkan layanan langganan podcast baru. Tampak tak mau kalah saing, Spotify pun kini telah meluncurkan hal serupa pada platformnya.

Meski dalam beberapa Spotify akan menggunakan Anchor untuk membantu memproses langganan dan konten berbayar.


"Dengan memungkinkan distribusi luas konten khusus pelanggan, tujuan kami adalah membantu podcaster memaksimalkan pemirsa langganan mereka dan mengembangkan mereka dari basis pendengar yang ada. Dalam Spotify, konten ini dapat ditelusuri dan ditemukan seperti episode podcast lainnya." kata Spotify seperti dilansir detiKINET dari Ubergizmo, Kamis (29/4/2021).


Pengguna dapat mencari podcast berbayar melalui aplikasi, namun jika mereka ingin berlangganan mereka harus keluar dari aplikasi dan membayar melalui Anchor yang pada gilirannya membantu perusahaan menghindari perusahaan membayar seperti Apple potongan 30% untuk pembelian dalam aplikasi.


Spotify berharap dapat menarik kreator ke platformnya dengan mengumumkan bahwa selama dua tahun pertama mereka tidak akan memotong pendapatan tetapi setelah itu mereka akan mengambil potongan 5% yang mereka klaim sangat kompetitif.


Podcast telah mendapatkan banyak popularitas dalam beberapa tahun terakhir. Belum lama ini, Spotify berhasil menggaet kreator ternama Joe Rogan di mana mereka meyakinkannya untuk membuat podcast eksklusif untuk platform mereka

https://tendabiru21.net/movies/the-tent-2/


Pengguna Aktif Harian Microsoft Teams Melonjak Tajam


 Microsoft Teams saat ini memiliki 145 juta orang yang menggunakan layanan konferensi onlinenya. Angka tersebut meningkat sebesar 26% sejak Microsoft mengungkapkan pengguna Teams telah melonjak selama pandemi menjadi 115 juta pengguna aktif harian pada bulan Oktober 2020.

Penggunaan Teams telah melonjak selama setahun terakhir, mengingat para pengguna dari kalangan korporat terus berbondong-bondong ke layanan seperti Teams, Slack, dan Zoom untuk memenuhi kebutuhan mereka saat bekerja dari rumah.


Pada awal-awal pandemi, Microsoft memiliki sekitar 32 juta pengguna aktif Microsoft Teams harian lalu bertambah menjadi 75 juta pengguna dalam hitungan minggu. Angka tersebut kemudian telah berlipat ganda bahkan sejak awal pandemi.


Ini merupakan jumlah pertumbuhan yang mengesankan. Apalagi Microsoft memang sedang secara agresif mendorong bisnis untuk beralih ke cloud dan mengadopsi Teams selama setahun terakhir.


Sementara itu, pesaingnya seperti Google dan Zoom tidak mengungkapkan pengguna aktif harian dan memilih peserta aktif harian yang lebih samar. Artinya, satu pengguna dapat dihitung beberapa kali jika mereka berpartisipasi dalam rapat yang berbeda dalam satu hari.


Zoom mengungkapkan, tahun lalu mereka memiliki 300 juta peserta aktif harian, dan Google mengatakan ada 100 juta pengguna aktif harian tahun lalu. Sedangkan Slack mengungkapkan bahwa mereka memiliki 12,5 juta pengguna secara bersamaan selama awal pandemi tahun lalu.


Dikutip dari The Verge, pertumbuhan Microsoft Teams yang luar biasa mungkin menjelaskan mengapa layanan ini mengalami masalah di tahun ini. Untuk diketahui, layanan Teams di seluruh dunia down selama dua jam setelah adanya pemadaman awal bulan ini dan masalah konektivitas bulan lalu.

https://tendabiru21.net/movies/the-black-tent/

Kekaguman Pemenang Nobel Kepada Para Ilmuwan Muslim

 Fisikawan teoretis pemenang Hadiah Nobel Steven Weinberg mengomentari soal Islam dan sains. Menurutnya ilmuwan muslim di zaman dulu memiliki kemajuan luar biasa karena dedikasinya pada ilmu sains.

Penulis 'To Explain the World: The Discovery of Modern Science' ini mengatakan kepada National Geographic bahwa menjadi ilmuwan tidak berarti seseorang harus menyingkirkan segala kepercayaan terhadap agama.

https://tendabiru21.net/movies/tent-of-miracles/


"Yang saya katakan adalah, untuk menjadi ilmuwan, Anda tidak harus berkomitmen untuk tidak beragama. Ada beberapa ilmuwan yang sangat baik yang cukup religius, dan ada sepanjang sejarah. Galileo cukup religius, begitu pula Newton, meskipun dengan cara yang agak tidak ortodoks," ujarnya, seperti dilansir detikINET, Kamis (29/4/2021).


Tetapi ketika sedang bergulat dengan sains, Weinberg mengatakan seseorang harus tahu garis pembatasnya dengan agama. Mengapa demikian? Sebab, ada hal yang sifatnya keilahian, yang supernatural, yang tidak bisa dijelaskan. Di sisi lain ada sains yang mencetuskan ide-ide yang melampaui akal manusia untuk menjelaskan alam.


"Jadi yang saya katakan adalah Anda bisa menjadi religius atau tidak - saya terkenal tidak religius - dan tetap menjadi ilmuwan yang sangat baik. Tapi Anda tidak bisa membawa agama ke dalam sains. Teori ilmiah Anda tidak boleh bergantung pada asumsi tentang Tuhan," pendapatnya.


Soal kejayaan Islam dalam dunia sains, Weinberg juga angkat suara. Ia mengatakan masa keemasan ilmu pengetahuan Islam berakhir antara tahun 1100 dan 1200 M. Padahal saat itu ilmuwan Muslim jauh lebih maju dari orang-orang sezaman mereka dengan ilmuwan Kristiani Eropa.


"Tetapi setelah astronom Eropa mulai menggunakan teleskop, tidak ada astronom di dunia Muslim yang menggunakan teleskop hingga zaman modern. Itu karena mereka tidak membangun observatorium untuk melakukan sains. Mereka membangunnya untuk tujuan membuat kalender agama dan menentukan arah ke Makkah," katanya.


Ketika ditanya apakah Islam membuat ilmuwan jadi jauh dengan sains, Weinberg dengan tegas menjawab tidak. Faktanya, ajaran Islam tidak menghambat para ilmuwan Muslim mengembangkan sains. Kondisi ilmuwan Muslim di masa modern lebih pada dedikasi yang nampaknya kurang seteguh ilmuwan Muslim terdahulu.


"Salah satu teman baik saya di bidang sains adalah Abdus Salam. Dia adalah fisikawan teoritis terbaik dan seorang Muslim yang taat. Tapi dia tidak mencampurkan Islam ke dalam ilmunya," ujarnya.


Pada masa keemasan peradaban Islam, Islam tidak menghambat sains. Namun, kata Weinberg, para ilmuwan Muslim pun tidak mencampur ajaran agama ke dalam sains. Agama dan sains bukan untuk dipertentangkan, tapi punya jalur masing-masing untuk berkembang. Para ilmuwan Muslim di zaman dahulu, fokus mengembangkan sains tanpa harus kaku memberi label Islam. Sehingga, ilmu yang dikembangkan para ilmuwan Muslim bisa berkembang luas kepada bangsa-bangsa lain.


"Di masa keemasan sains Islam, mereka tidak melakukan sains Islam, mereka melakukan sains," pungkasnya.

https://tendabiru21.net/movies/carry-on-camping/