Senin, 17 Mei 2021

Inikah Penyebab Vaksin Corona AstraZeneca Picu Pembekuan Darah?

 Di tengah lajunya program vaksinasi COVID-19 di seluruh dunia, muncul kabar adanya kasus pembekuan darah yang disebut-sebut berkaitan dengan vaksin. Vaksin yang dimaksud adalah vaksin COVID-19 AstraZeneca dan Johnson & Johnson (J&J).

Sampai saat ini, para ilmuwan di dunia terus mencari tahu dan memahami mengapa kedua vaksin tersebut bisa menyebabkan pembekuan darah. Meski jarang, kondisi ini bisa berpotensi mematikan.


"Memahami penyebabnya sangat penting untuk vaksin generasi berikutnya, karena virus Corona akan tetap bersama kita dan vaksinasi kemungkinan besar akan menjadi musiman," kata seorang profesor di Universitas Erasmus, Belanda, Eric Van Gorp, yang dikutip dari Fox News, Senin (17/5/2021).


Di Jerman, seorang peneliti mengklaim telah menemukan apa yang memicu pembekuan darah tersebut. Hal ini dikemukakan seorang peneliti Prof Andreas Geinacher dan timnya di Universitas Greifswald.


Mereka percaya, vaksin dengan platform adenovirus yang ditujukan untuk melawan virus bisa menyebabkan autoimun respons yang menyebabkan pembekuan darah. Menurut Prof Geinacher, reaksi itu bisa dikaitkan dengan protein yang tersesat dan pengawet yang dia temukan dalam vaksin AstraZeneca.

Prof Geinacher dan timnya juga baru saja mulai memeriksa vaksin J&J, telah mengidentifikasi lebih dari 1.000 protein dalam vaksin AstraZeneca yang berasal dari sel manusia. Selain itu, ia juga menemukan pengawet yang dikenal sebagai asam ethylenediaminetetraacetic atau EDTA.


Hipotesis mereka adalah, EDTA yang umumnya untuk obat-obatan dan produk lain, membantu protein tersebut masuk ke aliran darah, di mana mereka mengikat komponen darah yang disebut faktor trombosit atau PF4 membentuk kompleks yang mengaktifkan produksi antibodi.


Peradangan yang disebabkan oleh vaksin dan dikombinasikan dengan kompleks PF4 bisa mengelabui sistem kekebalan agar percaya bahwa tubuh terinfeksi bakteri. Hal ini memicu mekanisme pertahanan kuno yang kemudian tidak terkendali dan menyebabkan pembekuan dan pendarahan.


Di sisi lain, Prof John Kelton dari McMaster University di Kanada pun menguji pasien dengan gejala pembekuan darah pasca vaksinasi. Mereka mereplikasi beberapa penelitian Prof Geinacher dan mengkonfirmasi temuannya. Namun, penyebabnya masih tidak jelas.


"Hipotesis (Prof Geinacher) bisa saja benar, tapi bisa juga salah," kata Prof Kelton.

https://nonton08.com/movies/shut-up-gulli/


Update Corona RI 17 Mei: Tambah 4.295 Kasus Baru, Kasus Aktif 89.129


 Jumlah kasus virus Corona COVID-19 bertambah 4.295 kasus pada Senin (17/5/2021). Total kasus positif sebanyak 1.744.045, sembuh 1.606.611, meninggal 48.305 kasus.

Kasus aktif tercatat sebanyak 89.129, jumlah spesimen yang diperiksa 45.653, dan suspek sebanyak 79.815 orang.


Detail penambahan kasus COVID-19 adalah sebagai berikut.


Kasus positif bertambah 4.295 menjadi 1.744.045

Pasien sembuh bertambah 5.754 menjadi 1.606.611

Pasien meninggal bertambah 212 menjadi 48.305

Sebelumnya, pada Minggu (16/5/2021), tercatat total sebanyak 1.739.750 kasus positif virus Corona COVID-19, 1.600.857 pasien sembuh, dan 48.039 kasus meninggal dunia.

https://nonton08.com/movies/shut-in/

Harga Vaksin Corona Gotong Royong Sudah Ditetapkan! Ini Keterangan Menkes

 Pemerintah telah menetapkan harga vaksin COVID-19 yang akan diberikan melalui layanan vaksin gotong royong. Disebutkan, harga per dosis untuk vaksin Corona buatan Sinopharm adalah Rp 321.660.

Ketentuan harga tersebut telah tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/4643.2021. Keputusan ini telah diteken oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin pada 11 Mei 2021.


"Harga pembelian vaksin sebesar Rp 321.660 (tiga ratus dua puluh satu ribu enam ratus enam puluh rupiah) per dosis," tertulis dalam keputusan menteri, dikutip detikcom, Minggu (16/5/2021).


Akan tetapi, tarif pelayanan vaksinasi belum termasuk di dalam harga tersebut. Disebutkan, tarif pelayanan vaksinasi sebesar Rp 117.910 per dosis. Dengan begitu jika dijumlahkan, total harga sekali penyuntikan vaksin COVID-19 dalam layanan vaksin gotong royong adalah Rp 439.570.


"Tarif maksimal pelayanan vaksinasi sebesar Rp 117.910 (seratus tujuh belas ribu sembilan ratus sepuluh rupiah) per dosis," lanjut keterangan.


Menkes menjelaskan, tarif yang telah ditetapkan tersebut adalah harga tertinggi tiap dosis vaksin yang dibeli pihak perusahaan. Artinya, harga tersebut sudah mencakup keuntungan 20 persen dan biaya distribusi ke kabupaten-kota. Namun, belum termasuk pajak pertambahan nilai (PPn).


Hal serupa pula diterapkan dalam penentuan harga layanan vaksinasi per dosis.


"Batas tertinggi atau tarif per dosis untuk pelayanan vaksinasi gotong royong yang dilakukan oleh fasilitas pelayanan kesehatan milik masyarakat atau swasta, sudah termasuk margin atau keuntungan 15 persen (15 persen), namun tidak termasuk pajak penghasilan (PPh)," terang dalam keputusan menteri.


Pemerintah juga berencana menggunakan vaksin Corona buatan Moderna dalam program vaksinasi gotong royong. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir dalam kesempatan sebelumnya.


"Sampai hari ini kami sudah melakukan proses komunikasi dan juga negosiasi dengan dua pengembang vaksin (vaksin Sinopharm dan vaksin Moderna)," terang Honesti, Senin (15/3/2021) terkait program vaksin gotong royong.

https://nonton08.com/movies/altitude-2/


Inikah Penyebab Vaksin Corona AstraZeneca Picu Pembekuan Darah?


 Di tengah lajunya program vaksinasi COVID-19 di seluruh dunia, muncul kabar adanya kasus pembekuan darah yang disebut-sebut berkaitan dengan vaksin. Vaksin yang dimaksud adalah vaksin COVID-19 AstraZeneca dan Johnson & Johnson (J&J).

Sampai saat ini, para ilmuwan di dunia terus mencari tahu dan memahami mengapa kedua vaksin tersebut bisa menyebabkan pembekuan darah. Meski jarang, kondisi ini bisa berpotensi mematikan.


"Memahami penyebabnya sangat penting untuk vaksin generasi berikutnya, karena virus Corona akan tetap bersama kita dan vaksinasi kemungkinan besar akan menjadi musiman," kata seorang profesor di Universitas Erasmus, Belanda, Eric Van Gorp, yang dikutip dari Fox News, Senin (17/5/2021).


Di Jerman, seorang peneliti mengklaim telah menemukan apa yang memicu pembekuan darah tersebut. Hal ini dikemukakan seorang peneliti Prof Andreas Geinacher dan timnya di Universitas Greifswald.


Mereka percaya, vaksin dengan platform adenovirus yang ditujukan untuk melawan virus bisa menyebabkan autoimun respons yang menyebabkan pembekuan darah. Menurut Prof Geinacher, reaksi itu bisa dikaitkan dengan protein yang tersesat dan pengawet yang dia temukan dalam vaksin AstraZeneca.

https://nonton08.com/movies/altitude/