Rabu, 16 Juni 2021

Update Terkini Perkembangan Vaksin Merah Putih, Jadinya Kapan Ready?

  Indonesia mengimpor beberapa jenis vaksin Corona, seperti Sinovac, AstraZeneca, dan Sinopharm, untuk memerangi pandemi COVID-19 yang kini semakin melonjak. Di samping itu, Indonesia juga mengembangkan vaksin Merah Putih, yakni vaksin yang dibuat sendiri oleh ilmuwan lokal.

Saat ini, ada tujuh kandidat vaksin Merah Putih yang sudah menunjukkan perkembangan yang menjanjikan.

https://kamumovie28.com/movies/that-enchanting-night/


Dari tujuh kandidat tersebut, dua di antaranya yaitu yang dikembangkan oleh Universitas Airlangga dan Lembaga Eijkman, sudah mengalami perkembangan yang signifikan. Bahkan salah satunya diprediksi bisa segera mendapat emergency use authorization (EUA) pada awal 2022 mendatang.


Berikut perkembangan terkini riset vaksin Merah Putih di 7 institusi yang terlibat.


1. Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman

Platform: Subunit Protein Rekombinan


Progres: Lembaga Eijkman dan PT Bio Farma tengah melakukan ekspresi protein spike. Diperkirakan melakukan uji preklinis pada November 2021.


Untuk uji klinis fase 1-3, diperkirakan bisa dilakukan pada Januari 2022 sampai Agustus 2022 dan EUA diharapkan bisa keluar pada September tahun depan.


"Lembaga Eijkman sudah menyelesaikan 90 persen lebih fase RBD-nya dan saat ini sedang dalam proses transisi dari RBD ke industri, yaitu Bio Farma," kata Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) Prof Amin Subandrio dalam Rapat RDP Komisi VII DPR RI, Rabu (16/6/2021).


2. Universitas Airlangga (Unair)

Platform: Inactivated Virus


Progres: Tengah melalui uji preklinis. Diperkirakan akan melakukan uji klinik fase 1-3 pada Agustus 2021 dan mendapat EUA pada Maret 2022.


3. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Platform: Rekombinan


Progres: Sudah mendapat protein rekombinan fusi. Diperkirakan seed vaccine bisa siap pada Agustus 2021, kemudian uji preklinis pada Januari 2022. Jika berjalan lancar, uji klinis bisa dilakukan pada April-Desember 2022 dan mendapat EUA pada Januari 2023.


Bagaimana perkembangan vaksin Merah Putih yang dikembangkan UI hingga ITB? Klik ke halaman selanjutnya.


4. Institut Teknologi Bandung (ITB)

Platform: Subunit Protein Rekombinan dan Adenovirus Vector


Progres: Purifikasi Protein Subunit dan Produksi Vector Adenovirus sudah dilakukan. Masuk dalam tahap uji imunogenisitas di tahun ini.


5. Universitas Indonesia (UI)

Platform: DNA, mRNA, dan Virus Like Particles


Progres: Untuk vaksin berbasis DNA diperkirakan bisa mulai melakukan uji klinik fase 1 dan 2 pada Januari-Juni 2022. Kemudian EUA diharapkan bisa keluar pada Juli 2022. Sementara itu, untuk platform mRNA dan virus Like Particles, masih belum diketahui detail perkembangannya.


6. Universitas Gadjah Mada (UGM)

Platform: Subunit Protein Rekombinan


Progres: Pengembangan dan pemurnian DNA sudah dilakukan. Diperkirakan akhir 2021 ini sudah dapat dilakukan uji imunogenisitas.


7. Universitas Padjadjaran (Unpad)

Platform: Protein Rekombinan dan Peptida, igY Anti-RBD spike SARS-CoV-2 sebagai kandidat dari vaksin pasif covid-19.


Progres: Sudah mengajukan izin ke komisi etik hewan untuk penggunaan hewan dalam uji coba dan uji toksisitas.


Diperkirakan seed vaksin Merah Putih dari institusi ini bisa diperoleh September 2021, uji preklinis bisa selesai pada Oktober 2021, uji klinik 1-3 diperkirakan selesai pada September 2022, dan akan mendapatkan EUA pada September 2022.

https://kamumovie28.com/movies/project-a-part-ii/

Tawarkan Vaksin Nusantara, Terawan: RI Tak Mau Duluan Akhiri COVID-19?

 Eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto merasa vaksin Nusantara berbasis dendritik yang dia prakarsai tak memiliki persoalan. Ia mengaku uji klinis vaksin Nusantara mengikuti kaidah baru pembuatan vaksin dendritik lantaran belum pernah ada yang membuatnya untuk mengatasi COVID-19.

"Saya bingung, apa titik persoalannya. Buat kami sebagai peneliti itu merasa ndak ada persoalan. Kaidah yang kami gunakan adalah kaidah yang baru. Karena apa? Dendritic cell vaccine ini belum ada yang pernah mengerjakan untuk COVID-19," jelasnya dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI, Rabu (16/6/2021).


"Jadi tentunya harus menggunakan kaidah-kaidah yang baru yang beda, karena disuntikkan ke badan kita ya, dendritik sel kita sendiri, bukan dari orang lain, tentunya titik temu persoalan-persoalan itu tergantung duduk bersama," sambungnya.


Menyoal apakah vaksin Nusantara buatan Amerika atau Indonesia, Terawan menyinggung hal tersebut hanya berdasarkan persepsi saja. Ia, yang sempat menjabarkan cara pembuatan vaksin dendritik di depan Komisi VII DPR RI, menegaskan para peneliti memahami betul cara pembuatannya sehingga publik bebas menilai apakah vaksin benar buatan anak bangsa atau produksi Amerika.


"Dan bisa juga karena ada teman ini merupakan jalinan riset bersama ya ada juga teman Amerika, ada juga teman Indonesia. Nah, itu mau disebut bagaimana, terserah dari jalan berpikirnya," kata dia.


"Yang paling penting kami percaya bahwa semua punya good way, punya keinginan yang baik, dan saya percaya, kalau kita bersama-sama, duduk bersama, kita mampu menyelesaikan pandemi ini dengan benar," jelasnya.

Tak hanya itu, Terawan mengklaim vaksin Nusantara bak kunci untuk mengakhiri pandemi COVID-19. Ia mengaku hal ini berdasarkan hipotesis di dunia yang mengatakan vaksin berbasis dendritik erat kaitannya dengan the beginning of the end.


"Memang di literatur-literatur paling lama dari kejadian SARS dulu di China, Beijing, dan sebagainya, sel T-nya itu masih ada sampai 6 tahun dan itulah yang riset-riset di dunia mengemukakan muncullah hipotesis di mana dendritic cell vaccine ini dianggap sebagai the beginning of the end, yang memulai untuk mengakhiri cancer maupun COVID-19," bebernya.


"Kebetulan kita membangunnya, apakah tidak boleh kita memulai duluan? Iya, saya serahkan jawaban ke semua orang, apakah Indonesia tidak boleh memulai duluan? Saya tidak tahu untuk jawaban itu," katanya lagi.


Terawan mengatakan salah satu cara menuntaskan wabah COVID-19 adalah tercapainya herd immunity. Sementara itu, vaksin Nusantara disebutnya dalam uji klinis tahap awal terbukti membentuk imunitas tubuh yang bertahan hingga tiga bulan, dan akan diuji lebih lanjut untuk melihat apakah selama enam bulan imunitasnya tetap tinggi.

https://kamumovie28.com/movies/the-good-the-bad-the-beauty/


Update Terkini Perkembangan Vaksin Merah Putih, Jadinya Kapan Ready?


 Indonesia mengimpor beberapa jenis vaksin Corona, seperti Sinovac, AstraZeneca, dan Sinopharm, untuk memerangi pandemi COVID-19 yang kini semakin melonjak. Di samping itu, Indonesia juga mengembangkan vaksin Merah Putih, yakni vaksin yang dibuat sendiri oleh ilmuwan lokal.

Saat ini, ada tujuh kandidat vaksin Merah Putih yang sudah menunjukkan perkembangan yang menjanjikan.


Dari tujuh kandidat tersebut, dua di antaranya yaitu yang dikembangkan oleh Universitas Airlangga dan Lembaga Eijkman, sudah mengalami perkembangan yang signifikan. Bahkan salah satunya diprediksi bisa segera mendapat emergency use authorization (EUA) pada awal 2022 mendatang.


Berikut perkembangan terkini riset vaksin Merah Putih di 7 institusi yang terlibat.


1. Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman

Platform: Subunit Protein Rekombinan


Progres: Lembaga Eijkman dan PT Bio Farma tengah melakukan ekspresi protein spike. Diperkirakan melakukan uji preklinis pada November 2021.


Untuk uji klinis fase 1-3, diperkirakan bisa dilakukan pada Januari 2022 sampai Agustus 2022 dan EUA diharapkan bisa keluar pada September tahun depan.


"Lembaga Eijkman sudah menyelesaikan 90 persen lebih fase RBD-nya dan saat ini sedang dalam proses transisi dari RBD ke industri, yaitu Bio Farma," kata Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) Prof Amin Subandrio dalam Rapat RDP Komisi VII DPR RI, Rabu (16/6/2021).

https://kamumovie28.com/movies/who-is-the-craftiest/