Rabu, 04 Desember 2019

Selamat Hari Pendidikan Nasional! Mari Simak Lagi Sejarahnya

Setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas. Bagaimana sejarah hari itu dapat diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional?

Hari Pendidikan Nasional ditetapkan pemerintah Indonesia untuk memperingati kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar Dewantara merupakan tokoh pelopor pendidikan di Indonesia dan pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa.

Ki Hadjar Dewantara juga merupakan pahlawan nasional yang dihormati sebagai bapak pendidikan nasional di Indonesia. Ki Hadjar Dewantara lahir dari keluarga kaya Indonesia selama era kolonialisme Belanda.

Dia dikenal karena berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya yang bisa mengenyam bangku pendidikan. Atas kritiknya itu, Ki Hadjar diasingkan ke Belanda.

Ki Hadjar meninggal pada 26 April 1959. Untuk menghormati jasa-jasanya, pemerintah menetapkan tanggal kelahirannya sebagai Hari Pendidikan Nasional. Penetapan itu melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959.

Nah setiap tahun, ada tema untuk Hari Pendidikan Nasional. Pada tahun ini, tema yang diangkat adalah Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan.

Upacara Hari Pendidikan Nasional 2019 diadakan di halaman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Upacara ini dipimpin langsung oleh Mendikbud Muhadjir Effendy. Dalam acara itu, Muhadjir berpesan jajarannya harus kerja lebih keras lagi meningkatkan sumber daya manusia (SDM).

Mendikbud: Korupsi Dana Pendidikan Dosanya 10 Kali Lipat Lebih Besar

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengimbau pemerintah daerah bisa menjaga anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan yang porsinya cukup besar rentan disalahgunakan.

"Karena itu saya mengimbau betul kepada pemerintah daerah untuk gunakan anggaran transfer daerah sektor pendidikan terutama sebaik-baiknya, jangan sampai dikorupsi, jangan sampai bocor," kata Muhadjir di kantor pusat Kemendikbud, Jakarta, Kamis (2/5/2019).

"Ingat mengkorupsi anggaran pendidikan itu dosanya 10 kali lipat dibanding anggaran yang lain, karena itu menyangkut masa depan anak-anak kita, masa depan Indonesia," sambungnya.

Ia menjelaskan pendidikan adalah tanggung jawab pemerintahan konkuren (pusat, provinsi, dan kota). Oleh karena itu, wewenangnya pun terbagi antara pusat dan daerah, yang kemudian pembagian itu tercermin dalam pembagian anggaran.

"Sekarang anggaran pendidikan itu hampir 64% itu adalah jadi transfer, anggaran transfer daerah. Sementara yang dikelola oleh kementerian di bidang kebudayaan sebagai leading sector di bidang pendidikan itu hanya sekitar 7 koma sekian persen," katanya.

Hal tersebut, menurutnya, telah sesuai dengan apa yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah, yang menyebutkan pendidikan itu merupakan urusan pemerintahan konkuren yang berbentuk layanan dasar dan wajib.

Sebagai informasi, hari ini Kemendikbud merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Kegiatan tersebut berpusat di kantor pusat Kemendikbud di Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, dimulai dengan upacara Hardiknas yang dipimpin oleh Muhadjir.

Ki Hajar Dewantara, Inilah 5 Fakta Sejarah Perjuangannya

 Ki Hajar Dewantara atau sering dikenal dengan bapak Pendidikan Nasional adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia. Penasaran dengan kisah perjuangannya?

Lewat perjuangannya di bidang politik dan pendidikan inilah, kemudian pemerintah Republik Indonesia menghormatinya dengan berbagai jabatan dalam pemerintahan RI. Seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1950 dan mengangkat Ki Hajar Dewantara sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1959.

Berikut 5 Fakta Sejarah Perjuangan Ki Hajar Dewantara yang dikutip dari berbagai sumber:

1. Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889. Dia lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, putra dari Gusti Pangeran Haryo Soerjaningrat, atau cucu Sri Paku Alam III. Dari genealoginya, Ki Hajar Dewantara adalah keluarga bangsawan Pakualaman. Sebagai bangsawan Jawa, Ki Hajar Dewantara mengenyam pendidikan Europeesche Lagere School (ELS), yakni Sekolah Rendah untuk Anak-anak Eropa. Kemudian setelah lulus, Ki Hajar Dewantara mendapat kesempatan masuk STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen), biasa disebut Sekolah Dokter Jawa. Namun karena kondisi kesehatannya tidak mengizinkan, sehingga Ki Hajar Dewantara tidak tamat dari sekolah ini.

2. Menjadi Jurnalis

Sesudah meninggalkan STOVIA, Ki Hajar Dewantara belajar sebagai analis pada laboratorium Pabrik Gula Kalibagor, Banyumas. Setelah satu tahun beliau keluar karena dicabut kesempatan belajarnya secara cuma-cuma. Kemudan menjadi pembantu apotiker di Apotik Rathkamp, Malioboro Yogyakarta (1911), sambil menjadi jurnalis (wartawan) pada Surat Kabar "Sedyotomo"(Bahasa Jawa), dan "Midden Java" (Bahasa Belanda) di Yogyakarta dan "De Express" di Bandung.

Karena tulis-tulisan itu, Ki Hajar Dewantara dan bersama 2 temannya yakni, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Dr. E.F.E. Douwes Dekker, ditangkap dan ditahan dalam penjara. Kemudian pada 18 Agustus 1913 keluarlah Keputusan Pemerintah Hindia Belanda N0. 2a, Ki Hajar Dewantara dibuang ke Bangka, dr. Cipto Mangunkusumo ke Banda Neira, dan Dr. E.F.E. Douwes Dekker ke Timor Kupang. Namun atas kesepakatan mereka bertiga meminta supaya dibuang ke Belanda, dan permintaan mereka dikabulkan.

Saat menjalani pengasingannya di Belanda, Ki Hadjar Dewantara kemudian mulai bercita-bercita untuk memajukan kaumnya yaitu kaum pribumi. ia berhasil mendapatkan ijazah pendidikan yang dikenal dengan nama Europeesche Akte, atau ijazah pendidikan yang bergengsi di Belanda. Ijazah inilah yang membantu Beliau untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang akan ia buat di Indonesia. Di Belanda pula ia memperoleh pengaruh dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.

3. Organisasi Yang Diikuti Ki Hajar Dewantara

Berdirinya organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908, sebagai organisasi sosial dan politik kemudian mendorong Ki Hadjar
untuk bergabung di dalamnya. Di Budi Utomo ia berperan sebagai propaganda dalam menyadarkan masyarakat pribumi tentang pentingnya semangat kebersamaan dan persatuan sebagai bangsa Indonesia.

Pada tahun 1912 Ki Hajar Dewantara diajak oleh Douwes Dekker ke Bandung untuk bersama-sama mengasuh
Suratkabar Harian "De Express". Douwess Dekker kemudian mengajak untuk mendirikan organisasi yang bernama Indische Partij yang terkenal. Yakni partai politik pertama yang berani mencantumkan tujuan ke arah "Indonesia Merdeka".

Selanjutnya pada Juli 1913 Ki Hajar Dewantara bersama dr. Cipto Mangunkusumo di Bandung, mendirikan "Comite Tot Herdenking van Nederlandsch Honderdjarige Vrijheid", dalam bahasa Indonesia disingkat Komite Bumi Putera, yaitu Panitia untuk memperingati 100 tahun Kemerdekaan Belanda. Komite tersebut bertujuan untuk memprotes akan adanya peringatan 100 tahun Kemerdekaan Belanda, dari penjajahan Perancis yang akan diadakan pada 15 Nopember 1913.

4. Bentuk Perjuangan Ki Hajar Dewantara

Di bidang pendidikan, Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa, pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik, agar mencintai bangsa dan Tanah Airnya, serta berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.

Prasarana Ki Hadjar Dewantara tentang Pendidikan Nasional dan penyelenggaraan/pembinaan perguruan nasional, diterima oleh Kongres Perkumpulan Partai-partai Politik Kebangsaan Indonesia (PPKI) di Surabaya. Dalam kongres yang berlangsung 31 Agustus 1928 tersebut, Beliau mengemukakan perlunya pengajaran nasional sebelum bangsa Indonesia mempunyai pemerintahan nasional sendiri.

Di bidang pers, bagi Ki Hadjar Dewantara majalah atau surat kabar merupakan wahana yang sangat penting bagi suatu lembaga untuk menyebarkan cita-citanya kepada masyarakat. Oleh karena itu, beliau menerbitkan brosur dan majalah "Wasita" (tahun 1928-1931), selanjutnya menerbitkan majalah "Pusara" (1931). Di samping kedua majalah tersebut,