Senin, 06 Januari 2020

Waspada Tsunami, Tamu Hotel di Anyer Sempat Naik ke Lantai Tertinggi

Peringatan tsunami Banten akhirnya selesai. Sebelumnya, tamu hotel di Anyer sempat dievakuasi ke lantai tertinggi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencabut peringatan tsunami pascagempa Banten, Jumat (2/8/2019) pukul 21.35 WIB. Peringatan tsunami sebelumnya diterbitkan setelah terjadi gempa magnitudo 7,4 di 147 km barat daya Sumur, Pandeglang, Banten di kedalaman 10 km.

"Saat gempa, lampu bergoyang dan terdengar suara kaca kamar hotel bergetar," kata Doddy Fathurahman, GM Hotel Aston Anyer kepada detikcom.

Menurutnya tamu sedikit kalut karena trauma kejadian gempa 2018 lalu. Karena ada ancaman tsunami, para tamu dievakuasi ke lantai 6, lantai tertinggi di hotel tepi Pantai Anyer itu.

"Kita kasih makanan dan minuman, free flow buffet dinner, anak-anak kita kasih mainan," kata dia.

Namun ada juga beberapa tamu yang mendadak meminta check out pasca gempa, sebanyak 15 kamar. Usai peringatan tsunami dicabut, para tamu pun kembali ke kamar. Bangunan hotel menurut Doddy tidak rusak, namun pihak hotel tetap melakukan inspeksi bangunan.

"Tamu sudah kembali ke kamar masing-masing. Banten kan baru recovery dari gempa, sekarang ada gempa lagi. Besok karena weekend harapannya okupansi bisa 100 persen," pungkasnya.

Tempat Wisata Baru di Dieng Buat Hangatkan Badan

Bagi traveler yang ingin menghangatkan badan di dataran tinggi Dieng, datang saja ke destinasi baru ini. Namanya pemandian air hangat Bitingan.

Selain udaranya yang sejuk, air di pemandian tersebut jernih. Ditambah pemandangan ebun Carica yang menjadi salah satu buah khas di Dataran Tinggi Dieng.

Lokasinya pun tidak jauh dari tempat perhelatan Dieng Culture Festival (DCF). Hanya berjarak sekitar 5 Km dari lokasi DCF. Sayangnya, sampai saat ini tidak ada transportasi umum yang menghubungkan pemandian air hangat tersebut ke lokasi DCF.

"Kalau angkutan umum tidak ada. Kalau yang membawa kendaraan sendiri, wisatawan menuju arah barat ke Desa Kepakisan Kecamatan Batur, Banjarnegara," terang Kepala UPT Pengelolaan Objek Wisata Banjarnegara Aryadi Darwanto di Dieng, Jumat (2/8/2019).

Aryadi menjelaskan, wisata pemandian air hangat ini baru mulai beroperasi sejak libur Lebaran 2019 lalu. Sehingga, hingga saat ini belum banyak wisatawan yang datang.

"Sejauh ini baru ramai warga sekitar, untuk wisatawan belum banyak yang ke sini. Keunggulannya, airnya benar-benar jernih dan pemandangan alamnya bagus," ujarnya.

Untuk menikmati objek wisata ini, wisatawan cukup membayar tiket masuk sebesar Rp 3.000 per orang. Dengan biaya tersebut, wisatawan bisa menghangatkan tubuh hingga pukul 20.00 WIB.

"Di Dusun Bitingan sebenarnya ada dua pemandian air hangat. Satunya di antara kebun carica, satunya lagi di tengah pemukiman. Untuk yang baru ini berada di antara kebun carica," jelasnya.


Air hangat ini berasal dari Gunung Sipandu. Sebelumnya, air hangat ini hanya dimanfaatkan warga untuk menyirami tanaman. Aryadi menyampaikan, selain pemandian air hangat di Bitingan, juga ada pemandian air hangat di D'Qiano.

"Kalau di D'Qiano sudah banyak yang tahu dan sudah lama, lokasinya di dekat Kawah Sileri," kata dia.

Bertemu di Pesawat, Jatuh Cinta Lalu Menikah

Ini bukanlah kisah film Hollywood. Sean Kavanagh (29) naik pesawat, bertemu seorang wanita, lalu jatuh cinta dan kini menikah. Duh, bahagianya!

Musim panas 2015, seorang guru SMA dari Boston, Amerika Serikat bernama Sean Kavanagh traveling ke Timur Tengah untuk mengajar sekalian sambil liburan. Tak disangka di tengah perjalanan, Sean bertemu dengan belahan hatinya, seorang pegawai asuransi bernama Anna Gorga (27).

Kisah percintaan mereka berdua pun menarik untuk disimak. Dilansir detikcom dari CNN, Jumat (2/8/2019), sebelum pergi ke Timur Tengah, Sean berhenti sejenak di Kepulauan Azore, Portugal untuk nonton Bull Running Festival.

Di periode waktu yang sama, Anna kebetulan juga sedang liburan di sana. Cuma bedanya, Sean nonton orang-orang dikejar sapi jantan yang ngamuk, sementara Anna sedang belajar naik kuda di sebuah peternakan.

"Saya lari dari sapi jantan, dan dia sedang mengendarai kuda. Kita tidak sedang berlari ke satu sama lain, tapi kami berada di satu penerbangan yang sama ke Lisbon," kisah Sean.

Sebenarnya saat itu Anna harusnya naik ke penerbangan sebelum penerbangan milik Sean, tapi karena penerbangannya di-cancel, jadinya Anna harus naik penerbangan yang sama dengan Sean.

Semula, antara Sean dan Anna tidak saling memperhatikan saat naik pesawat. Meski duduk di satu baris kursi yang sama, ada satu orang penumpang lain yang duduk di antara mereka.

Tapi tiba-tiba semua berubah ketika penumpang yang duduk di tengah meminta tukar kursi dengan Sean. Sean pun setuju. Jadilah Sean duduk di samping Anna yang daritadi melihat jendela pesawat.

Baru setelah mereka duduk bersebelahan, Anna baru menyadari Sean ganteng juga. Sean pun mengangap Anna cute. Obrolan pun mengalir di antara keduanya. Lama-lama, obrolan antar keduanya makin intens dan terasa ada kecocokan satu sama lain.

Obrolan asyik di atas ketinggian 30 ribu kaki itu harus berakhir ketika mereka mendarat di Lisbon. Sean melanjutkan perjalanan ke Israel, sementara Anna harus melanjutkan perjalanan ke Zurich, Swiss.

"Kalau kamu lewat Zurich, kasih tahu aku ya, kita bisa ngopi dulu, kataku saat itu. Eh, ternyata dia menganggap itu serius," ucap Anna.

Menjelang musim panas berakhir, Sean pun pergi ke Zurich untuk bertemu Anna. Mereka menghabiskan waktu bersama. Mereka bahkan merencanakan liburan bareng ke Valencia, Spanyol. Tapi keduanya menganggap itu hanyalah cinta sesaat.

Pasangan beda benua ini merasa mereka tidak bisa bersatu. Apalagi saat itu, Anna juga sudah punya pasangan. Sean pun kembali ke Boston dan Anna balik ke Zurich.

Namun, takdir menggariskan mereka berpapasan lagi. Saat itu Anna dapat tawaran bekerja di Miami, AS. Tanpa pikir panjang lagi, Anna mengiyakan tawaran tersebut. Berada di negara yang sama dengan Sean jelas membuat Anna sangat gembira.

Dia pun bertemu dengan Sean lagi. Mereka menghabiskan waktu di DC hingga Meksiko. Bahkan Anna juga dikenalkan ke teman-teman dan keluarga Sean. Sampai akhirnya kontrak kerja Anna habis dan dia harus kembali lagi ke Zurich.

Saat itulah rasa galau dan segala ketidakpastian kembali melanda pasangan LDR ini. "Apakah mungkin romansa saat liburan ini bisa berakhir dengan Happy Ending?"

"Ini sungguh tidak mudah, jujur saja. Terkadang aku berpikir, kenapa aku mau membuat hidupku jadi sangat rumit seperti ini?" ucap Anna.

Tapi takdir sekali lagi berpihak kepada Anna. Dia mendapat tawaran bekerja dari kantornya untuk mengisi pos yang kosong di Boston, AS. Akhirnya, setelah sekian lama, Anna bisa berada di satu kota dan negara yang sama dengan Sean, pujaan hatinya.

Meski proses untuk mendapat visa AS tidak mudah, akhirnya pada musim semi 2018, mereka berdua resmi menikah. Dan pada bulan Juli 2019, mereka kembali ke Kepulauan Azore, Portugal untuk melangsungkan resepsi pernikahan dengan mengundang keluarga dan sahabat terdekat.

"Ini (Kepulauan Azore -red) berada di antara benua Amerika dan Eropa. Jadi di sinilah kedua benua bertemu. Di sini juga kami bertemu dan kami berdua jatuh cinta pada tempat ini. Ini sangat simbolik dan sangat berarti bagi kami," pungkas Anna.