Selasa, 07 Januari 2020

Ngaku Suvenir, Traveler Nekat Bawa Peluncur Misil ke Pesawat

Kadang, ada-ada saja ulah traveler yang bepergian naik pesawat. Di AS malah ada penumpang yang nekat bawa peluncur rudal ke pesawat dan mengaku suvenir. Haduh!

Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Rabu (31/7/2019), seorang penumpang pria terpaksa disetop oleh petugas keamanan bandara AS atau TSA di Bandara Baltimore.

Alasannya, pria yang identitasnya dirahasiakan itu kedapatan membawa peluncur misil saat pulang dari Kuwait Senin kemarin (29/7). Informasi itu pun di-tweet di laman Twitter TSA.

Mengaku anggota militer, pria itu berkilah kalau peluncur rudal yang dibawanya merupakan suvenir yang ingin ia bawa pulang. Walau diketahui sudah tak aktif, replika senjata memang dilarang keras naik pesawat.

Salah seorang pengguna Twitter yang mengaku bekas anggota militer ikut bersimpati akan rekannya tersebut. Hanya saja, ia paham kalau tak mungkin membawa benda seperti itu naik pesawat.

Namun, ada juga yang beranggapan kalau hal itu tidak jadi masalah. Mengingat peluncur rudal itu tak memiliki isi dan tak membahayakan.

"Jika itu kosong, maka tak jadi masalah. Hanya sebuah tabung tak berbahaya yang terbuat dari campuran komposit dan metal," kicau salah satu warganet seperti diberitakan media The Sun.

Berlibur Sejenak di Bondowoso

Nama Kota Bondowoso mungkin jarang masuk wishlist liburan. Namun, sempatkan sejenak untuk mengunjungi kota tapal kuda ini yang damai dan sejuk.
Setiap orang memiliki tujuan yang berbeda-beda saat berwisata, menghilangkan rasa penat, menambah koleksi foto destinasi, mencicipi kuliner khas dan masih banyak lagi. Sejujurnya, saya mencari sesuatu yang berbeda untuk perjalanan kali ini.

Sudah lama sekali tidak menyapa udara segar di Bondowoso, salah satu kota di Jawa Timur yang penduduknya tidak lebih banyak dari kota domisili saya, Sidoarjo. Namun, Bondowoso memiliki daya tarik tersendiri.

Perjalanan kali ini, tidak membuat rencana apapun, ingin menikmati suasana yang benar-benar baru. Dari Surabaya menuju Bondowoso menggunakan transportasi Kereta Api, transportasi favorite saya, jika memesan travel atau menggunakan sepeda motor pribadi, lelah dengan jalanan yang berkelok. Namun, jika menggunakan Kereta Api, tujuan akhirnya hanya sampai di Jember, selanjutnya menyewa mobil.

Tidak terlalu kaget dengan suasana padatnya kota Jember, bisa dibilang hampir mirip dengan Surabaya, mulai padat kendaraan, penduduk, dan mall-mall mulai menghiasi jalanan Kota suwar-suwir ini.

Sangat kontras dengan Jember, Bondowoso bisa dibilang cocok untuk kalian yang ingin meninggalkan sejenak dari padatnya rutinitas, hawa yang sejuk daan menawarkan kedamaian, tidak ada gedung-gedung tinggi seperti mall yang sering terlihat di Surabaya, jalanan ramai tapi tak terjadi macet berkepanjangan yang bisa membuat emosi.

Sebenarnya banyak penduduk di Bondowoso yang usia produktif, tapi mereka lebih banyak bekerja atau kuliah di Jember maupun kota besar lainnya. Penduduk di kota yang memproduksi tape ini terlihat lebih banyak yang berdagang.

Jajanan dan kulinernya sangat nikmat dan juga murah, harga air mineral yang ukurannya gelas, seharga 500 rupiah, jajanan gorengan masih ada yang harganya 500. Pecel yang laris dekat dengan pasar, seharga 10.000 dengan paket komplit dan lauk dendeng ragi.

Saya dan orangtua saya sempat bercengkerama, jika kota yang dinginnya seperti di Malang ini, malah merencanakan masa depan, yaitu ingin menghabiskan masa tua di Bondowoso saja, alasannya sederhana, kota ini jauh dari hiruk-pikuk.

Bagaimana tidak, kota yang dikelilingi oleh 3 Gunung yaitu, kaki Gunung Raung, Gunung Ijen dan kaki Gunung Argopuro, siapa yang menolak jika suasananya kembali ke alam, kebutuhan hidup murah, tidak bising dan jauh macet maupun polusi.

Tidak ada kata bosan. Jika ingin berlibur, langsung saja menikmati pemandangan atau mendaki gunung yang telah nampak dengan jelas di depan mata. Namun, hal yang susah untuk ditemukan adalah angkutan umum, hanya ada di jam-jam tertentu saja, kadang lama saat menunggu di pinggir jalan meskipun di jalan besar.

Selain mengandalkan kendaraan pribadi, di sini banyak sekali becak yang beroperasi. Becak yang dikayuh atau yang bermotor, tarifnya berbeda-beda. Kadang, jika bertanya berapa tarif untuk ke suatu tempat, malah pak supir becak, hanya berkata, seikhlasnya saja. Ah, mana tega jika memberikan uang hanya seikhlasnya, biasanya saya memberi uang 5.000 untuk jarak dekat. Untuk jarak jauh menyesuaikan saja, apalagi jika membawa barang.

Banyak sekali keramahan, kenyamanan, keindahan dan halphal baik yang ditemukan di sini, semakin bersemangat untuk mencari nafkah, menambah pundi-pundi tabungan dan menetap di Bondowoso saat pensiun nanti.

Memakai Koteka, Bangga Jadi Bagian Indonesia

Koteka menjadi identitas dari Papua. Sebagai pakaian tradisional yang terancam punah, pakai koteka itu gampang-gampang susah lho.

Liburan ke Papua pasti tak bisa lepas dari suvenir khasnya, koteka. Koteka sendiri menjadi pakaian tradisional yang dipakai oleh kaum pria.

Sayangnya, pemakaian koteka sebagai baju tradisional sudah menurun drastis. Bahkan koteka terancam punah karena penduduk Papua tak lagi memakainya.

Tak ada yang lebih tepat dari peribahasa, tak kenal maka tak sayang. Mari melihat ke masa lalu, menilai fungsi utama dari pakaian ini.

Pertanyaan pertama yang bisa kita lontarkan, kenapa orang Papua pakai koteka?

Alasannya sangat sederhana, karena koteka mempermudah pergerakan mereka saat masuk ke hutan dan berburu. Baju modern seperti yang kita pakai ini, hanya akan memperburuk keadaan. Bukannya nyaman, orang Papua bisa kegerahan di dalam hutan. Hewan buruan pun sangat sensitif dengan warna.

Tim detikcom pernah mencoba untuk memakai koteka. Afif Farhan, Wakil Redaktur Pelaksana detikTraveler, menceritakan pengalamannya bersama Suku Dani di Wamena.

"Pergi ke Wamena tahun 2012, tepatnya di Distrik Kurulu. Saat itu saya tinggal di Honai khusus wisatawan, bersama Suku Dani," kenang Afif, Rabu (31/7/2019)

Afif merasakan langsung kehidupan warga Suku Dani, termasuk memakai koteka. Supaya tidak asing dengan koteka, Afif dikenalkan terlebih dahulu tentang pembuatannya.

"Saya terkejut, karena koteka ternyata dibuat dari labu panjang yang berwarna hijau," cerita Afif.

Dalam pembuatannya, labu panjang tersebut akan dipotong pangkalnya. Kemudian, labu dipanggang supaya isinya bisa dibersihkan. Setelah bersih, labu akan kembali dipanaskan di atas api sampai keras dan berwarna coklat kehitaman.

Koteka yang baru selesai dipanggang dijemur terlebih dahulu sebentar. Tidak sampai setengah jam, koteka akan kering dan sudah bisa digunakan.

"Ketika sudah jadi, orang papua menawarkan saya untuk memakai koteka. Saya pun penasaran ingin coba," lanjut Afif.

Menjadi pengalaman sekali seumur hidup, koteka memberikan euforia tersendiri bagi Afif.

"Pada saat itu malu karena harus telanjang di depan pria Suku Dani (yang menemani), tidak biasa. Tapi cara pakai koteka ternyata cukup sederhana," ungkap Afif.

Bagian pangkal koteka yang sudah dibersihkan tinggal langsung dimasukkan ke dalam penis. Ujung koteka diikat dengan tali rotan dan di lilitkan ke tubuh.

"Nah, ternyata ada 2 cara pemakaian koteka. Cara yang kedua adalah memasukkan penis dan satu buah zakar bersamaan ke dalam koteka. Alasannya supaya tidak lepas," jelas Afif.

Cara pengikatannya pun dua macam, traveler. Kalau yang sederhana cukup dililitkan ke tubuh. Tipe kedua yaitu dengan menambahkan tali rotan yang melewati bokong.

Apa rasanya pakai koteka?

"Rasanya adem, enak banget kena angin, enggak gatel. Tapi agak susah waktu jalan karena belum terbiasa. Jadi saya jalan setengah jam untuk menyesuaikan gerak badan dan koteka, gampang-gampang susahlah," tutur Afif.

Ada rasa bangga mengalir dalam sanubari sewaktu memakai koteka.

"Bangga karena identitasnya. Bangga karena merasakan apa yang orang Papua rasakan. Saya nggak ada rasa terhina pakai koteka. Kita sama-sama Indonesia," ujarnya mantap.

Koteka sendiri mulai dikenalkan kepada anak-anak saat mereka sudah bisa berjalan. Koteka digunakan saat beraktifitas dan dilepas saat tidur.

Meski keras, koteka rupanya bisa pecah dan rusak. Ada yang rusak karena berburu atau perang. Kalau rusak tinggal ganti saja kok..

detikTravel masih akan membahas segala hal terkait koteka. Lanjutkan pencarian terbaru tentang koteka dalam Travel Highlight: Koteka Terancam Punah.