Kadang, ada-ada saja ulah traveler yang bepergian naik pesawat. Di AS malah ada penumpang yang nekat bawa peluncur rudal ke pesawat dan mengaku suvenir. Haduh!
Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Rabu (31/7/2019), seorang penumpang pria terpaksa disetop oleh petugas keamanan bandara AS atau TSA di Bandara Baltimore.
Alasannya, pria yang identitasnya dirahasiakan itu kedapatan membawa peluncur misil saat pulang dari Kuwait Senin kemarin (29/7). Informasi itu pun di-tweet di laman Twitter TSA.
Mengaku anggota militer, pria itu berkilah kalau peluncur rudal yang dibawanya merupakan suvenir yang ingin ia bawa pulang. Walau diketahui sudah tak aktif, replika senjata memang dilarang keras naik pesawat.
Salah seorang pengguna Twitter yang mengaku bekas anggota militer ikut bersimpati akan rekannya tersebut. Hanya saja, ia paham kalau tak mungkin membawa benda seperti itu naik pesawat.
Namun, ada juga yang beranggapan kalau hal itu tidak jadi masalah. Mengingat peluncur rudal itu tak memiliki isi dan tak membahayakan.
"Jika itu kosong, maka tak jadi masalah. Hanya sebuah tabung tak berbahaya yang terbuat dari campuran komposit dan metal," kicau salah satu warganet seperti diberitakan media The Sun.
Berlibur Sejenak di Bondowoso
Nama Kota Bondowoso mungkin jarang masuk wishlist liburan. Namun, sempatkan sejenak untuk mengunjungi kota tapal kuda ini yang damai dan sejuk.
Setiap orang memiliki tujuan yang berbeda-beda saat berwisata, menghilangkan rasa penat, menambah koleksi foto destinasi, mencicipi kuliner khas dan masih banyak lagi. Sejujurnya, saya mencari sesuatu yang berbeda untuk perjalanan kali ini.
Sudah lama sekali tidak menyapa udara segar di Bondowoso, salah satu kota di Jawa Timur yang penduduknya tidak lebih banyak dari kota domisili saya, Sidoarjo. Namun, Bondowoso memiliki daya tarik tersendiri.
Perjalanan kali ini, tidak membuat rencana apapun, ingin menikmati suasana yang benar-benar baru. Dari Surabaya menuju Bondowoso menggunakan transportasi Kereta Api, transportasi favorite saya, jika memesan travel atau menggunakan sepeda motor pribadi, lelah dengan jalanan yang berkelok. Namun, jika menggunakan Kereta Api, tujuan akhirnya hanya sampai di Jember, selanjutnya menyewa mobil.
Tidak terlalu kaget dengan suasana padatnya kota Jember, bisa dibilang hampir mirip dengan Surabaya, mulai padat kendaraan, penduduk, dan mall-mall mulai menghiasi jalanan Kota suwar-suwir ini.
Sangat kontras dengan Jember, Bondowoso bisa dibilang cocok untuk kalian yang ingin meninggalkan sejenak dari padatnya rutinitas, hawa yang sejuk daan menawarkan kedamaian, tidak ada gedung-gedung tinggi seperti mall yang sering terlihat di Surabaya, jalanan ramai tapi tak terjadi macet berkepanjangan yang bisa membuat emosi.
Sebenarnya banyak penduduk di Bondowoso yang usia produktif, tapi mereka lebih banyak bekerja atau kuliah di Jember maupun kota besar lainnya. Penduduk di kota yang memproduksi tape ini terlihat lebih banyak yang berdagang.
Jajanan dan kulinernya sangat nikmat dan juga murah, harga air mineral yang ukurannya gelas, seharga 500 rupiah, jajanan gorengan masih ada yang harganya 500. Pecel yang laris dekat dengan pasar, seharga 10.000 dengan paket komplit dan lauk dendeng ragi.
Saya dan orangtua saya sempat bercengkerama, jika kota yang dinginnya seperti di Malang ini, malah merencanakan masa depan, yaitu ingin menghabiskan masa tua di Bondowoso saja, alasannya sederhana, kota ini jauh dari hiruk-pikuk.
Bagaimana tidak, kota yang dikelilingi oleh 3 Gunung yaitu, kaki Gunung Raung, Gunung Ijen dan kaki Gunung Argopuro, siapa yang menolak jika suasananya kembali ke alam, kebutuhan hidup murah, tidak bising dan jauh macet maupun polusi.
Tidak ada kata bosan. Jika ingin berlibur, langsung saja menikmati pemandangan atau mendaki gunung yang telah nampak dengan jelas di depan mata. Namun, hal yang susah untuk ditemukan adalah angkutan umum, hanya ada di jam-jam tertentu saja, kadang lama saat menunggu di pinggir jalan meskipun di jalan besar.
Selain mengandalkan kendaraan pribadi, di sini banyak sekali becak yang beroperasi. Becak yang dikayuh atau yang bermotor, tarifnya berbeda-beda. Kadang, jika bertanya berapa tarif untuk ke suatu tempat, malah pak supir becak, hanya berkata, seikhlasnya saja. Ah, mana tega jika memberikan uang hanya seikhlasnya, biasanya saya memberi uang 5.000 untuk jarak dekat. Untuk jarak jauh menyesuaikan saja, apalagi jika membawa barang.
Banyak sekali keramahan, kenyamanan, keindahan dan halphal baik yang ditemukan di sini, semakin bersemangat untuk mencari nafkah, menambah pundi-pundi tabungan dan menetap di Bondowoso saat pensiun nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar