Sabtu, 11 Januari 2020

Dulu Alat Politik, Mobil VW Camat Kini Jadi Wisata Andalan Magelang

Dulu, sekitar tahun 1970-an, mobil ini hanya dipakai oleh para pejabat. Kini, mobil VW Camat atau 181 jadi wisata hits di Magelang.

Ya fenomena itulah yang kini digemari oleh wisatawan di Magelang. Oleh Apollo Widhiantmoko Banuaji, pelopor tur VW Camat di sana menceritakan kisahnya.

Apollo kelahiran Bandung dan besar di Jakarta. Tahun 1998 ia merantau ke Bali dan 2016 pergi ke Magelang. Ia kini mengelola tur VW Camat.

"Kita pilih jalur destinasi desa wisata yang potensial. Kita bermula untuk pemberdayaan wisata di Borobudur," jelas dia.

"Kalau kamu tahu dulu itu pas zaman Presiden Soeharto ada program pengadaan VW ini untuk para camat. Tujuannya agar kepemimpinannya berlanjut dan tetap didukung oleh para camat itu," imbuh dia.

Sejak pindah ke Magelang ia mencari jalan baru pekerjaannya, yakni menggunakan VW Camat. Kini, di sekitar Candi Borobudur sudah banyak pengemudi VW dan dia kemudian membikin satu komunitas lagi, yaitu VW Wisata.

VW Wisata ini untuk membantu destinasi wisata yang tidak terjangkau wisatawan karena jarak yang terlalu jauh dari kota maupun Borobudur. Dia sekaligus membina desa yang jadi destinasi wisata tujuan VW-nya.

"Salah satu contoh Di Candimulyo kita bawain tamu dan biar mereka belajar bagaimana proses menjadi destinasi wisata seperti apa. Lalu membantu mereka melayani tamu. Jadi saling bersinergi," urai dia.

Program VW Camat milik Apollo ditujukan pada pengalaman. Maka dari itu lebih banyak yang dia beri wisata edukasi, yakni edukasi tentang lingkungan, sosial dan budaya.

"Kita juga ada PT yang menyediakan bus dan transportasi lain. Itu buat destinasi nggak bisa dilalui VW karena biaya yang terlalu tinggi," tegas dia.

Adapun jalur VW Camat kelompok Apollo yang bersifat alam jalurnya ke Candimulyo, untuk budaya diarahkan ke Candi Borobudur. Sedang untuk sosial diarahkan ke Gunung Sumbing dan Merapi.

"Contohnya kita lihat masyarakat daerah Mangli, Sumbing ada sistem pertanian yang bersifat gotong royong. Kita tunjukkan harga sayur murah karena mereka bergotong royong. Tidak ada biaya tambahan lain. Jika A menggarap lahan maka semua ikut membantu dan seterusnya. Ini yang sudah jarang terjadi," terang Apollo.

"Kalau di Merapi, ada masyarakat banyak yang sudah maju. Walau gersang di sana tapi ada hidroponik. Tamu diajari hal itu. Itu bisa ditiru kalau masuk di masa pensiun," imbuh dia.

Jumlah armada VW Camat milik kelompok Apollo sebanyak 25 unit. Ada pula mobil combi dan konsepnya bisa menginap di mobil.

"Tapi belum banyak tahu kalau ada program itu tapi kita sudah jalan. Tarif kita short time 2,5 jam, 350 ribu. Lalu ada yang 4 jam Rp 450 ribu. Kalau full trip yang dibarengi wisata edukasi kita hitungnya per pack Rp 200-325 ribu dan sudah ada program edukasi, destinasi, konsumsi dan dokumentasi," pungkas dia.

Ibu Ini Dipaksa Bayar Ekstra Rp 1 Juta untuk Duduk Bareng Bayinya

Akibat salah sistem, seorang ibu duduk terpisah dari bayinya di pesawat. Namun, pihak maskapai meminta tambahan biaya jika sang ibu ingin duduk bareng bayinya.

Pengalaman tak menyenangka itu pun dialami oleh seorang ibu bernama Aliss dari La Mesa, AS. Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Kamis (18/7/2019), peristiwa itu dialami Aliss saat terbang dari Prividence ke San Diego pekan lalu seperti diberitakan USA Today.

Sebelumnya, Aliss memesan bangku untuknya dan bayi laki-lakinya di baris yang sama dalam penerbangan Sun Country Airlines via situs ketiga. Dalam prakteknya, ternyata Aliss mendapati kalau dirinya duduk terpisah dengan bayi laki-lakinya.

"Saya tidak akan pernah memesan penerbangan terpisah dari anak laki-laki saya," ujar Aliss seperti diberitakan media KGTV.

Mendapati hal itu, Aliss pun meminta pihak maskapai agar ia bisa duduk di samping anak laki-lakinya. Namun, pihak maskapai Sun Country Airlines malah memintanya membayar biaya tambahan USD 75 atau setara dengan Rp 1 juta rupiah!

"Saya tak bisa membayar (USD 75). Apa lagi yang bisa kami lakukan? Mereka bilang kalau kami bisa membayar USD 22 agar bisa duduk di sisi depan dan belakang di baris yang berbeda. Hanya saja saya bilang, dia tetap tak duduk bersamaku," ujar Aliss.

Pada akhirnya, pihak pramugari maskapai tetap tak memberi solusi. Untungnya, seorang nenek di penerbangan itu memperbolehkan Aliss bertukar kursi dengannya agar bisa duduk bareng bayinya.

Atas perlakuan itu, maskapai Sun Country Airlines banyak dikritik. Mereka pun akhirnya meminta maaf dan tengah mengadakan mediasi dengan Aliss.

"Kami telah mengupayakan full refund untuk penumpang atas biaya terkait kesalahan tempat duduk tersebut. Kami juga memastikan bahwa ia mendapat dua bangku berderet pada penerbangan pulangnya. Tim kami telah memberikan voucher senilai USD 200 via email dan menambahkan voucher USD 100 atas ketidaknyamanannya," ujar juru bicara maskapai.

Ini yang Buat Pelaku Industri Pariwisata Apresiasi Jokowi (2)

Joglosemar, Jogja Solo Semarang juga dirapatkan khusus, untuk menjadikan destinasi di kawasan segitiga pariwisata itu. Harapannya, devisa dari bisnis pariwisata segera meroket, sekaligus memberi benefit kepada masyarakat yang ada di sana.

"Buat GIPI, kami beruntung punya presiden yang serius di pariwisata," kata Didien.

Terakhir, 15 Juli 2019, Presiden Jokowi lagi-lagi mengumpulkan para stakeholder di destinasi super prioritas, ke Istana Negara. Ada Gubernur Sumatera Utara, Gubernur Jawa Tengah, Gubernur NTB, Gubernur NTT, Menteri Pariwisata, Kabekraf, untuk lebih cepat lagi membangun destinasinya.

"Infrastruktur di-support besar-besaran, agar akses dan koneksi antardestinasi semakin kuat," ungkapnya.

Didien yang menjadi saksi sejarah itu mengaki baru kali ini mendapatkan sosok pemimpin yang bersungguh-sungguh membangun industri pariwisata.

"Tidak mudah lho, menciptakan sebuah destinasi kelas dunia! Apalagi masyarakat sudah punya ekspektasi yang sangat tinggi, ingin cepat-cepat punya kawasan seperti Nusa Dua Bali," papar Didien.

"Saya masih ingat, untuk membuat Nusa Dua seperti sekarang butuh waktu 20-30 tahun. Padahal itu di Pulau Bali, yang secara generik sudah ratusan tahun sudah punya tradisi dan budaya pariwisata yang kuat. Menciptakan Bali Baru itu, benar-benar harus super ekstra serius, dari alam, budaya, buatan, SDM-nya, masyarakatnya, pemerintahnya, semua harus satu visi satu tujuan," ungkapnya.

Didien juga sering menggunakan istilah Penthelix Model, harus ada kekuatan bersama, spirit bersama, antara Academician, Business, Community, Government, Media. Kekompakan dan kesamaan visi dari mereka inilah yang akan membuat sebuah daerah itu bisa melompat lebih cepat. "Dari sisi Government, saya melihat sudah sangat cepat dan responsive," lanjut Didien.

"Kebetulan saya ikut dalam pertemuan dengan Presiden Joko Widodo beberapa lalu. Saat itu disampaikan mengenai pembangunan pariwisata. Beliau kaget karena ternyata untuk membangun Nusa Dua dibutuhkan waktu sampai 20-30 tahun. Dan menurut Presiden itu sangat lama," kata Didien.

Didien menilai, kondisi itu terjadi lantaran pemerintahan sebelumnya tidak ada yang berani mengangkat pariwisata atau pariwisata tidak menjadi prioritas. Baru pada era Joko Widodo, selama lima tahun berturut-turut menempatkan pariwisata sebagai sektor prioritas.

"Baru pada pemerintahan Joko Widodo juga ada penetapan 10 Destinasi Prioritas, atau 10 Bali Baru. Destinasi-destinasi top di Indonesia mulai digarap. Dan hasilnya sudah terlihat. Proses pembangunannya jauh lebih cepat dari Nusa Dua zaman dulu," papar Didien.

Ia mencontohkan cara kawasan Mandalika, Nusa Tenggara Barat, yang dibangun dengan sangat serius. Bahkan, targetnya pada tahun 2020 Mandalika akan memiliki sirkuit internasional untuk menggelar MotoGP. Ini luar biasa, menempatkan Indonesia satu level dengan negara-negara di dunia.

"Mandalika termasuk dalam 10 Destinasi Prioritas. Pembangunannya sangat gencar. Mandalika akan memiliki sirkuit internasional yang akan menggelar MotoGP. Ini juga salah satu bukti. Bahkan tidak sampai 10 tahun jika dihitung dari penetapan sebagai destinasi prioritas," paparnya.

Didien pun dengan tegas mendukung pernyataan Presiden Joko Widodo yang akan menggunakan orang-orang yang sigap dan memiliki terobosan. Karena pariwisata membutuhkan orang-orang seperti itu.

"Baru kali ini juga pariwisata sukses menjahit industri di 3A, Atraksi Akses Amenitas, dengan cantik. Mengkolaborasi semua industri yang bersentuhan dengan pariwisata, dan kami salut," ungkapnya.

Ditambahkannya, Presiden Joko Widodo adalah sosok yang punya political will jelas. Komitmen yang tegas, dan kemauan keras. "Dan semua diterjemahkan dengan baik oleh seorang Arief Yahya. Sebagai seorang Menteri Pariwisata, Arief Yahya selalu memiliki inovasi. Selalu memiliki terobosan. Ini sangat luar biasa," ujarnya.

Sebagai pengusaha, dia bersama teman-teman di GIPI juga ikut semangat, karena banyak terobosan baru, banyak teknologi digital, banyak melakukan deregulasi, yang menjadikan sektor ini semakin eksis. Di mana-mana orang memperbincangkan business opportunity dari pariwisata di daerahnya masing-masing. "Suasana ini tidak pernah terjadi sebelumnya," aku Didien.

Dia mengaku tidak pernah menentang program digitalisasi yang diangkat Menteri Pariwisata Arief Yahya karena dunia memang cepat berubah, customers juga berubah, dan tidak mungkin resisten dengan perubahan zaman.

"Kalau tidak cepat, kita akan kalah bersaing dengan negara-negara tetangga yang juga menggunakan teknologi digital," pungkasnya.