Dulu, sekitar tahun 1970-an, mobil ini hanya dipakai oleh para pejabat. Kini, mobil VW Camat atau 181 jadi wisata hits di Magelang.
Ya fenomena itulah yang kini digemari oleh wisatawan di Magelang. Oleh Apollo Widhiantmoko Banuaji, pelopor tur VW Camat di sana menceritakan kisahnya.
Apollo kelahiran Bandung dan besar di Jakarta. Tahun 1998 ia merantau ke Bali dan 2016 pergi ke Magelang. Ia kini mengelola tur VW Camat.
"Kita pilih jalur destinasi desa wisata yang potensial. Kita bermula untuk pemberdayaan wisata di Borobudur," jelas dia.
"Kalau kamu tahu dulu itu pas zaman Presiden Soeharto ada program pengadaan VW ini untuk para camat. Tujuannya agar kepemimpinannya berlanjut dan tetap didukung oleh para camat itu," imbuh dia.
Sejak pindah ke Magelang ia mencari jalan baru pekerjaannya, yakni menggunakan VW Camat. Kini, di sekitar Candi Borobudur sudah banyak pengemudi VW dan dia kemudian membikin satu komunitas lagi, yaitu VW Wisata.
VW Wisata ini untuk membantu destinasi wisata yang tidak terjangkau wisatawan karena jarak yang terlalu jauh dari kota maupun Borobudur. Dia sekaligus membina desa yang jadi destinasi wisata tujuan VW-nya.
"Salah satu contoh Di Candimulyo kita bawain tamu dan biar mereka belajar bagaimana proses menjadi destinasi wisata seperti apa. Lalu membantu mereka melayani tamu. Jadi saling bersinergi," urai dia.
Program VW Camat milik Apollo ditujukan pada pengalaman. Maka dari itu lebih banyak yang dia beri wisata edukasi, yakni edukasi tentang lingkungan, sosial dan budaya.
"Kita juga ada PT yang menyediakan bus dan transportasi lain. Itu buat destinasi nggak bisa dilalui VW karena biaya yang terlalu tinggi," tegas dia.
Adapun jalur VW Camat kelompok Apollo yang bersifat alam jalurnya ke Candimulyo, untuk budaya diarahkan ke Candi Borobudur. Sedang untuk sosial diarahkan ke Gunung Sumbing dan Merapi.
"Contohnya kita lihat masyarakat daerah Mangli, Sumbing ada sistem pertanian yang bersifat gotong royong. Kita tunjukkan harga sayur murah karena mereka bergotong royong. Tidak ada biaya tambahan lain. Jika A menggarap lahan maka semua ikut membantu dan seterusnya. Ini yang sudah jarang terjadi," terang Apollo.
"Kalau di Merapi, ada masyarakat banyak yang sudah maju. Walau gersang di sana tapi ada hidroponik. Tamu diajari hal itu. Itu bisa ditiru kalau masuk di masa pensiun," imbuh dia.
Jumlah armada VW Camat milik kelompok Apollo sebanyak 25 unit. Ada pula mobil combi dan konsepnya bisa menginap di mobil.
"Tapi belum banyak tahu kalau ada program itu tapi kita sudah jalan. Tarif kita short time 2,5 jam, 350 ribu. Lalu ada yang 4 jam Rp 450 ribu. Kalau full trip yang dibarengi wisata edukasi kita hitungnya per pack Rp 200-325 ribu dan sudah ada program edukasi, destinasi, konsumsi dan dokumentasi," pungkas dia.
Ibu Ini Dipaksa Bayar Ekstra Rp 1 Juta untuk Duduk Bareng Bayinya
Akibat salah sistem, seorang ibu duduk terpisah dari bayinya di pesawat. Namun, pihak maskapai meminta tambahan biaya jika sang ibu ingin duduk bareng bayinya.
Pengalaman tak menyenangka itu pun dialami oleh seorang ibu bernama Aliss dari La Mesa, AS. Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Kamis (18/7/2019), peristiwa itu dialami Aliss saat terbang dari Prividence ke San Diego pekan lalu seperti diberitakan USA Today.
Sebelumnya, Aliss memesan bangku untuknya dan bayi laki-lakinya di baris yang sama dalam penerbangan Sun Country Airlines via situs ketiga. Dalam prakteknya, ternyata Aliss mendapati kalau dirinya duduk terpisah dengan bayi laki-lakinya.
"Saya tidak akan pernah memesan penerbangan terpisah dari anak laki-laki saya," ujar Aliss seperti diberitakan media KGTV.
Mendapati hal itu, Aliss pun meminta pihak maskapai agar ia bisa duduk di samping anak laki-lakinya. Namun, pihak maskapai Sun Country Airlines malah memintanya membayar biaya tambahan USD 75 atau setara dengan Rp 1 juta rupiah!
"Saya tak bisa membayar (USD 75). Apa lagi yang bisa kami lakukan? Mereka bilang kalau kami bisa membayar USD 22 agar bisa duduk di sisi depan dan belakang di baris yang berbeda. Hanya saja saya bilang, dia tetap tak duduk bersamaku," ujar Aliss.
Pada akhirnya, pihak pramugari maskapai tetap tak memberi solusi. Untungnya, seorang nenek di penerbangan itu memperbolehkan Aliss bertukar kursi dengannya agar bisa duduk bareng bayinya.
Atas perlakuan itu, maskapai Sun Country Airlines banyak dikritik. Mereka pun akhirnya meminta maaf dan tengah mengadakan mediasi dengan Aliss.
"Kami telah mengupayakan full refund untuk penumpang atas biaya terkait kesalahan tempat duduk tersebut. Kami juga memastikan bahwa ia mendapat dua bangku berderet pada penerbangan pulangnya. Tim kami telah memberikan voucher senilai USD 200 via email dan menambahkan voucher USD 100 atas ketidaknyamanannya," ujar juru bicara maskapai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar