Senin, 13 Januari 2020

Apakah Kunjungan Wisatawan Mengganggu Habitat Komodo?

Taman Nasional (TN) Komodo adalah rumahnya si 'Naga Purba'. Sudah terkenal sebagai destinasi wisata, apakah habitat komodo di sana terganggu karenanya?

Untuk melihat komodo, wisatawan bisa mendatangi Pulau Komodo dan Pulau Rinca yang merupakan bagian TN Komodo. Di sana, wisatawan akan diajak trekking bersama pemandu (ranger) dan melihat komodo langsung di alam liar.

Data terbaru, kunjungan wisatawan baik dari dalam dan luar negeri mencapai angka 170 ribu sepanjang tahun 2018. Apakah kunjungan wisatawan mengganggu habitat atau kehidupan komodo?

"Kami yakinkan di Pulau Rinca di Loh Liang dan di Loh Buaya di Pulau Komodo, kita jaga. Makanya ketika ada wisatawan harus kita pandu, jangan sampai membuat aktivitas yang akan mengganggu pergerakan komodo," terang Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Lukita Awang kepada awak media di Pulau Rinca, Kamis (11/7/2019) kemarin.

Lukita Awang yang menemani Presiden Jokowi saat mengunjungi Pulau Rinca baru-baru ini juga menjelaskan, para ranger selalu diminta untuk mengimbau dan mengedukasi wisatawan untuk menjaga kelestarian alam. Seperti misalnya, tidak membuang sampah sembarangan.

"Kami jelaskan ke wisatawan secara detil dan mengedukasi mereka, seperti sampah yang dibawa jangan ditinggal tapi dibawa pulang," katanya.

Terkait isu penutupan Pulau Komodo, Lukita Awang menjelaskan masih akan menunggu keputusan dari tim Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE). Meski begitu, pihak TN Komodo pun menerapkan daya dukung. Artinya, jangan sampai suatu lokasi kelebihan jumlah kunjungan wisatawan.

"September nanti, kita akan menguji coba di dua titik, di Batu Bolong dan Taka Makassar. Pengunjung dan penyelam kita batasi," terangnya.

Di Pacific Exposition, Menpar Pamer Capaian Pariwisata RI

Pada forum Pacific Exposition 2019 yang digelar di Auckland, Selandia Baru Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan pertumbuhan sektor pariwisata Indonesia meningkat tajam. Hal tersebut dibuktikan dengan pertumbuhan pariwisata Indonesia yang berada di peringkat kesembilan dunia, nomor tiga di Asia, dan nomor satu di kawasan Asia Tenggara.

"Capaian sektor pariwisata Indonesia dicatat oleh perusahaan media di Inggris, The Telegraph. Telegraph mencatat Indonesia sebagai salah satu dari 20 negara dengan pertumbuhan pariwisata tercepat," ujar Arief dalam keterangan tertulis, Jumat (12/7/2019).

Menurut Arief, kunjungan wisman ke Indonesia tumbuh di angka 22%. Angka ini berarti tiga kali lipat dibanding rata-rata pertumbuhan regional Asia Tenggara yang tumbuh sebesar 7% sedangkan pertumbuhan dunia saja hanya mencapai 6%. Selain itu, indeks daya saing pariwisata Indonesia juga meningkat dari peringkat 70 dunia di tahun 2013 ke posisi 42 besar di 2017.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) juga telah mendapat berbagai penghargaan dunia tiap tahunnya. Tahun 2016, Kemenpar memperoleh 46 penghargaan dunia, tahun 2017 mendapat 27, dan tahun 2018 memperoleh 66. Selain itu, penerimaan devisa Indonesia dari sektor pariwisata juga terus meningkat sejak 2015.

"Bukan hanya penghasil devisa terbesar, tetapi juga menjadi yang terbaik. Pariwisata Indonesia sudah diakui dunia. Salah satu buktinya, Kemenpar terpilih sebagai The Best Ministry Of Tourism atau Best National Tourism Organization (NTO) se-Asia Pasifik di ajang TTG Travel Awards 2018," ujar Arief.

Menurutnya, di tahun 2019, pariwisata Indonesia diproyeksikan menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan devisa Indonesia. Angkanya dapat meningkat hingga USD 20 miliar. Jumlah ini melebihi migas, batu bara, dan minyak kelapa sawit. Ia juga mengatakan bahwa kesuksesan pariwisata Indonesia bisa iikuti oleh negara-negara kawasan pasifik yang hadir dalam acara tersebut. Salah satu contohnya berkaca dari benchmark Wonderful Indonesia.

"Melalui Rencana Strategis Pariwisata ASEAN untuk 2016-2025, ASEAN ingin membangun tujuan wisata berkualitas, menawarkan pengalaman ASEAN yang unik dan beragam. Kita juga berkomitmen untuk pengembangan pariwisata yang bertanggung jawab, berkelanjutan, inklusif, dan seimbang karena akan berkontribusi secara signifikan terhadap kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat ASEAN," ucap Arief.

Untuk mencapai tujuan itu, ada dua strategi yang diambil. Strategi pertama yaitu meningkatkan daya saing ASEAN sebagai tujuan wisata tunggal yang berarti negara-negara akan berkolaborasi. Seperti untuk mengintensifkan promosi dan pemasaran, diversifikasi produk pariwisata, termasuk menarik investasi pariwisata dan meningkatkan kualitas SDM pariwisata, standar fasilitas pariwisata, dan pelayanannya.

Marak Guide Ilegal Rusia, Bali Bentuk Tim Satgas

Maraknya guide ilegal asal Rusia bikin Pemprov Bali gerah. Tim satgas akan dibentuk untuk menanggulanginya.

Dinas Pariwisata Provinsi Bali sudah mendapatkan laporan soal keberadaan guide ilegal asal Rusia yang bikin resah pemandu lokal. Sebagai tindak lanjutnya, Dispar bakal membentuk tim satgas untuk mengatasi persoalan ini.

Plt Kepala Dinas Pariwisata Bali Putu Astawa mengatakan pihaknya juga sudah rapat dengan pihak-pihak terkait pada Selasa (9/7) lalu. Pertemuan itu mengundang pihak Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), perwakilan dari Dinas Pariwisata Badung, Kantor Imigrasi Denpasar, Satpol PP Bali dan Kabupaten Badung.

"Saya sudah rapatkan dengan menghadirkan imigrasi, HPI dari divisi Rusia, Satpol PP baik provinsi maupun kabupaten Badung dan Denpasar untuk menyamakan persepsi kita terhadap keluhan HPI guide-guide itu. Dari kesimpulan itu terungkap informasi itu," kata Astawa saat berbincang via telepon, Jumat (12/7/2019).

Dari hasil rapat itu pihaknya berencana untuk mebentuk satgas khusus yang berkepentingan untuk menangani guide-guide ilegal di Bali. Nantinya leading sector satgas ini berada di bawah Dinas Pariwisata dengan anggota Imigrasi dan Satpol PP.

"Solusinya nanti saya akan menjelaskan ke Satpol PP karena ada perda-perda yang ditegakkan Satpol PP mana yang legal dan non legal. Nanti kita akan bentuk satgas yang akan dianggotai unsur-unsur dari Imigrasi, HPI, Satpol PP, nanti kita lakukan sidak-sidak begitulah untuk menertibkan yang begitu-begitu. Jadi solusinya diperlukan satgas untuk penegakan hukum bagi yang ilegal-ilegal itu," urainya.

Dia menambahkan pihaknya sudah mengajukan proposal ke Gubernur Bali Wayan Koster terkait pembentukan tim satgas ini. Jika nantinya disetujui pihaknya juga bakal menyusun anggaran untuk penindakan.

"Kalau diperlukan kita masih mengajukan pak gub kalau disetujui kita perlu diback up Satpol PP biar ada satgas, kalau butuh dideportasi kan ada imigrasi poksinya ini, kalau dia kerja harus ada dari tenaga kerjanya, jadi keterlibatan dari stake holder harus kita rangkul supaya holistik dan komprehensif penangannya. Nanti setelah turun ACC dari pak gubernur baru akan kita tindak lanjuti dengan anggaran, biar optimal," paparnya.

Keluhan soal keberadaan guide ilegal asal Rusia itu disampaikan HPI Bali. Mereka menyoroti soal penjualan paket tur dengan harga murah sehingga merusak harga pasar hingga soal merugikan pemandu wisata lokal yang biasa mengambil turis Rusia.

Apakah Kunjungan Wisatawan Mengganggu Habitat Komodo?

Taman Nasional (TN) Komodo adalah rumahnya si 'Naga Purba'. Sudah terkenal sebagai destinasi wisata, apakah habitat komodo di sana terganggu karenanya?

Untuk melihat komodo, wisatawan bisa mendatangi Pulau Komodo dan Pulau Rinca yang merupakan bagian TN Komodo. Di sana, wisatawan akan diajak trekking bersama pemandu (ranger) dan melihat komodo langsung di alam liar.

Data terbaru, kunjungan wisatawan baik dari dalam dan luar negeri mencapai angka 170 ribu sepanjang tahun 2018. Apakah kunjungan wisatawan mengganggu habitat atau kehidupan komodo?

"Kami yakinkan di Pulau Rinca di Loh Liang dan di Loh Buaya di Pulau Komodo, kita jaga. Makanya ketika ada wisatawan harus kita pandu, jangan sampai membuat aktivitas yang akan mengganggu pergerakan komodo," terang Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Lukita Awang kepada awak media di Pulau Rinca, Kamis (11/7/2019) kemarin.

Lukita Awang yang menemani Presiden Jokowi saat mengunjungi Pulau Rinca baru-baru ini juga menjelaskan, para ranger selalu diminta untuk mengimbau dan mengedukasi wisatawan untuk menjaga kelestarian alam. Seperti misalnya, tidak membuang sampah sembarangan.

"Kami jelaskan ke wisatawan secara detil dan mengedukasi mereka, seperti sampah yang dibawa jangan ditinggal tapi dibawa pulang," katanya.