Maraknya guide ilegal asal Rusia bikin Pemprov Bali gerah. Tim satgas akan dibentuk untuk menanggulanginya.
Dinas Pariwisata Provinsi Bali sudah mendapatkan laporan soal keberadaan guide ilegal asal Rusia yang bikin resah pemandu lokal. Sebagai tindak lanjutnya, Dispar bakal membentuk tim satgas untuk mengatasi persoalan ini.
Plt Kepala Dinas Pariwisata Bali Putu Astawa mengatakan pihaknya juga sudah rapat dengan pihak-pihak terkait pada Selasa (9/7) lalu. Pertemuan itu mengundang pihak Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), perwakilan dari Dinas Pariwisata Badung, Kantor Imigrasi Denpasar, Satpol PP Bali dan Kabupaten Badung.
"Saya sudah rapatkan dengan menghadirkan imigrasi, HPI dari divisi Rusia, Satpol PP baik provinsi maupun kabupaten Badung dan Denpasar untuk menyamakan persepsi kita terhadap keluhan HPI guide-guide itu. Dari kesimpulan itu terungkap informasi itu," kata Astawa saat berbincang via telepon, Jumat (12/7/2019).
Dari hasil rapat itu pihaknya berencana untuk mebentuk satgas khusus yang berkepentingan untuk menangani guide-guide ilegal di Bali. Nantinya leading sector satgas ini berada di bawah Dinas Pariwisata dengan anggota Imigrasi dan Satpol PP.
"Solusinya nanti saya akan menjelaskan ke Satpol PP karena ada perda-perda yang ditegakkan Satpol PP mana yang legal dan non legal. Nanti kita akan bentuk satgas yang akan dianggotai unsur-unsur dari Imigrasi, HPI, Satpol PP, nanti kita lakukan sidak-sidak begitulah untuk menertibkan yang begitu-begitu. Jadi solusinya diperlukan satgas untuk penegakan hukum bagi yang ilegal-ilegal itu," urainya.
Dia menambahkan pihaknya sudah mengajukan proposal ke Gubernur Bali Wayan Koster terkait pembentukan tim satgas ini. Jika nantinya disetujui pihaknya juga bakal menyusun anggaran untuk penindakan.
"Kalau diperlukan kita masih mengajukan pak gub kalau disetujui kita perlu diback up Satpol PP biar ada satgas, kalau butuh dideportasi kan ada imigrasi poksinya ini, kalau dia kerja harus ada dari tenaga kerjanya, jadi keterlibatan dari stake holder harus kita rangkul supaya holistik dan komprehensif penangannya. Nanti setelah turun ACC dari pak gubernur baru akan kita tindak lanjuti dengan anggaran, biar optimal," paparnya.
Keluhan soal keberadaan guide ilegal asal Rusia itu disampaikan HPI Bali. Mereka menyoroti soal penjualan paket tur dengan harga murah sehingga merusak harga pasar hingga soal merugikan pemandu wisata lokal yang biasa mengambil turis Rusia.
Apakah Kunjungan Wisatawan Mengganggu Habitat Komodo?
Taman Nasional (TN) Komodo adalah rumahnya si 'Naga Purba'. Sudah terkenal sebagai destinasi wisata, apakah habitat komodo di sana terganggu karenanya?
Untuk melihat komodo, wisatawan bisa mendatangi Pulau Komodo dan Pulau Rinca yang merupakan bagian TN Komodo. Di sana, wisatawan akan diajak trekking bersama pemandu (ranger) dan melihat komodo langsung di alam liar.
Data terbaru, kunjungan wisatawan baik dari dalam dan luar negeri mencapai angka 170 ribu sepanjang tahun 2018. Apakah kunjungan wisatawan mengganggu habitat atau kehidupan komodo?
"Kami yakinkan di Pulau Rinca di Loh Liang dan di Loh Buaya di Pulau Komodo, kita jaga. Makanya ketika ada wisatawan harus kita pandu, jangan sampai membuat aktivitas yang akan mengganggu pergerakan komodo," terang Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Lukita Awang kepada awak media di Pulau Rinca, Kamis (11/7/2019) kemarin.
Lukita Awang yang menemani Presiden Jokowi saat mengunjungi Pulau Rinca baru-baru ini juga menjelaskan, para ranger selalu diminta untuk mengimbau dan mengedukasi wisatawan untuk menjaga kelestarian alam. Seperti misalnya, tidak membuang sampah sembarangan.
"Kami jelaskan ke wisatawan secara detil dan mengedukasi mereka, seperti sampah yang dibawa jangan ditinggal tapi dibawa pulang," katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar