Kamis, 06 Februari 2020

Viral Ikan Pari Isi Perutnya Botol dan Kamera, Ini Penjelasannya

Kasus pari dengan perut berisi sampah viral di Media Sosial. Hidup bermigrasi, rupanya pari memang rentan makan sampah.

Seekor pari mati dan menjadi viral karena unggahan sebuah akun bernama @5MinuteBeachCleanUp. Dalam unggahannya, ada foto ikan pari yang sudah mati dan coba untuk dibelah.

Ketika dibelah perutnya, pengguna Medsos dikagetkan dengan banyaknya sampah yang dimakan oleh pari ini. Bukan cuma botol plastik, ada bungkus rokok, buku sampai kamera.

Tak ada yang tahu di mana lokasi pari tersebut. Namun bagi Indonesia sendiri yang memiliki wisata pari manta, harusnya hal ini menjadi pukulan keras.

Indonesia adalah negeri kepulauan yang indah. Dari Sabang sampai Merauke berjajarlah pulau-pulau yang memiliki banyak keindahan bawah laut dan keanekaragaman hayati salah satunya pari manta.

Indonesia memiliki sejumlah fenomena yang menjadi faktor dari persebaran di lautan. Sebut saja Arus Lintas Indonesia atau Arlindo.

"Indonesian Through Flow atau Arus Lintas Indonesia yang merupakan aliran massa air dalam jumlah debit yang sangat besar mengalirkan massa air dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia melewati perairan Indonesia Timur," ujar Dr Widodo Pranowo, Peneliti Madya Bidang Oseanografi pada Pusat Riset Kelautan KKP kepada detikcom, Selasa (9/4/2019).



Nah, Arlindo ini mempunyai probabilitas dalam mengangkut sampah plastik makro dan mikro di dalamnya. Sementara Arlindo ini pulalah yang dijadikan wahana migrasi oleh mamalia laut besar dan ikan besar lainnya seperti paus dan pari manta.

"Sehingga probabilitas mereka memakan sampah plastik makro dan mikro selama migrasi juga tinggi. Bisa dibayangkan bila ikan-ikan pari manta ini berenang dan memakan sampah-sampah makro dan mikro plastik tersebut maka tidak heran akan menyebabkan kematian bagi ikan pari," ungkap Widodo.

Untuk traveler yang belum tahu, pari manta merupakan ikan yang lebih suka berada di perairan yang mendekati pulau atau daratan. Sementara sampah makro akan lebih banyak dijumpai di perairan yang lebih dekat dengan daratan. Sehingga kemungkinan pari manta untuk memakan sampah makro seperti kamera dan buku menjadi lebih tinggi.

"Ini mengerikan. Sangat disayangkan, kalau pari mantanya pada mati maka obyek wisatanya hilang," kata Widodo.

Berurusan dengan sampah tak akan jauh dari kasus pertumbuhan penduduk yang tinggi. Menurut Widodo, pertumbuhan penduduk juga harus dikontrol. Karena semakin banyak penduduk, maka memerlukan ruang lebih banyak dan menghasilkan sampah yang lebih banyak lagi.

"Semakin banyak sampah, maka memerlukan space dan teknologi yang tepat dan ramah lingkungan dalam mengolah sampah. Bila hal terebut tidak dipikirkan dan tidak dilakukan, maka sampah yang tidak terkelola akan samakin terbuang ke laut, dan mencemari lautan, lalu berdampak lebih lanjut kepada makhluk hidup didalamnya," tutur Widodo.

Saat ini sudah banyak operasi pembersihan pantai yang dilakukan secara masif. Namun hal ini tidak disertai dengan revolusi mental dari masyarakat dalam hal membuang sampah. Sehingga hasilnya pun percuma.

"Padahal kayak di lokasi wisata Raja ampat kan banyak pari mantanya dan itu berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik. Jadi rentan juga dapat kiriman sampah dari Samudera Pasifik tersebut," ujar Widodo.

Nampaknya masyarakat harus lebih lagi serius dengan penanganan sampah yang ada. Reward dan punishment bisa menjadi pilihan untuk kawasan wisata di pesisir.

"Kayaknya harus dibikin pasukan kayak Baywatch tapi ini Sampah-watch atau tempat-tempat wisata memberikan insentif bagi para pengunjung yang memungut sampah. Misalkan kalau ngumpulin sampah akan dikasih stamp, trus setelah berapa kali stamp, nanti dapat tiket kunjungan lagi, atau gimana yang bisa bikin pengunjung juga untung," ujar Widodo.

Kalau menurut traveler, bagaimana? 

Rumah Pohon Ala Anak-anak Lombok, Bukti Bahagia Itu Sederhana

Liburan ke Lombok jangan hanya menikmati alam dan pantainya saja. Banyak yang unik yang bisa dilihat, salah satunya rumah pohon ala anak pantai di Lombok ini.

Beberapa waktu lalu detikcom datang ke Lombok dan berkunjung ke beberapa destinasi di sana. Saat berada di Pelabuhan Tanjung Luar, Lombok Timur ada pemandangan unik yang mencuri perhatian.

Secara tidak sengaja detikcom melihat beberapa orang anak sedang bercanda ria di atas sebuah pohon yang berada di pinggir pantai. Mereka tertawa sembari memanggil-manggil wisatawan yang lewat di samping pohon.

"Hallo Kakak.. Hallo Kakak," ujar mereka.

Tentu saja semua orang akan menoleh ke asal suara yang berasal dari atas pohon. Jika diperhatikan lebih dekat, di sela-sela ranting terdapat potongan bekas penampung air bewarna biru yang dijadikan alas. Mereka duduk-duduk dan bersantai di atas alas tersebut.

Saat disapa balik dan diajak berinteraksi, mereka pun malu-malu. Mereka mencoba menoleh ke arah lain dan saling menyikut supaya salah satu dari mereka menoleh ke kamera. Namun, tetap saja semuanya mencoba mencuri-curi pandang dan tertawa.

"Ini rumah pohon ya?" detikcom pun mencoba bertanya.

"Iya," kemudian mereka tertawa dan melanjutkan saling menyikut dan memanjat lebih tinggi. Juga ada yang bergoyang-goyang diranting, hingga pohon pun bergoyang dengan iringan tawa mereka.

Dari pengalaman ini, kita dapat melihat bahwa untuk tertawa dan bahagia kita tidak perlu yang mewah ataupun mahal dan serba memadai. Buktinya dapat kita lihat dari kegiatan bocah-bocah tepi pantai yang berada di Pelabuhan Tanjung Luar ini.

Nah, traveler yang sibuk bekerja dan rapat, yuk senyum sejenak dan kenang masa kecilnya bermain dan menertawakan apa. Satu lagi, jangan lupa liburan ya!

Viral Ikan Pari Isi Perutnya Botol dan Kamera, Ini Penjelasannya

Kasus pari dengan perut berisi sampah viral di Media Sosial. Hidup bermigrasi, rupanya pari memang rentan makan sampah.

Seekor pari mati dan menjadi viral karena unggahan sebuah akun bernama @5MinuteBeachCleanUp. Dalam unggahannya, ada foto ikan pari yang sudah mati dan coba untuk dibelah.

Ketika dibelah perutnya, pengguna Medsos dikagetkan dengan banyaknya sampah yang dimakan oleh pari ini. Bukan cuma botol plastik, ada bungkus rokok, buku sampai kamera.

Tak ada yang tahu di mana lokasi pari tersebut. Namun bagi Indonesia sendiri yang memiliki wisata pari manta, harusnya hal ini menjadi pukulan keras.

Indonesia adalah negeri kepulauan yang indah. Dari Sabang sampai Merauke berjajarlah pulau-pulau yang memiliki banyak keindahan bawah laut dan keanekaragaman hayati salah satunya pari manta.

Indonesia memiliki sejumlah fenomena yang menjadi faktor dari persebaran di lautan. Sebut saja Arus Lintas Indonesia atau Arlindo.

"Indonesian Through Flow atau Arus Lintas Indonesia yang merupakan aliran massa air dalam jumlah debit yang sangat besar mengalirkan massa air dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia melewati perairan Indonesia Timur," ujar Dr Widodo Pranowo, Peneliti Madya Bidang Oseanografi pada Pusat Riset Kelautan KKP kepada detikcom, Selasa (9/4/2019).



Nah, Arlindo ini mempunyai probabilitas dalam mengangkut sampah plastik makro dan mikro di dalamnya. Sementara Arlindo ini pulalah yang dijadikan wahana migrasi oleh mamalia laut besar dan ikan besar lainnya seperti paus dan pari manta.

"Sehingga probabilitas mereka memakan sampah plastik makro dan mikro selama migrasi juga tinggi. Bisa dibayangkan bila ikan-ikan pari manta ini berenang dan memakan sampah-sampah makro dan mikro plastik tersebut maka tidak heran akan menyebabkan kematian bagi ikan pari," ungkap Widodo.

Untuk traveler yang belum tahu, pari manta merupakan ikan yang lebih suka berada di perairan yang mendekati pulau atau daratan. Sementara sampah makro akan lebih banyak dijumpai di perairan yang lebih dekat dengan daratan. Sehingga kemungkinan pari manta untuk memakan sampah makro seperti kamera dan buku menjadi lebih tinggi.

"Ini mengerikan. Sangat disayangkan, kalau pari mantanya pada mati maka obyek wisatanya hilang," kata Widodo.