Kamis, 05 Maret 2020

Kuliner Ekstrem di Thailand, Makan Buaya Sampai Belalang

 Thailand punya berbagai daya tarik wisata yang beraneka ragam. Salah satunya, kuliner ekstrem menantang, berani coba?

Tidak diragukan lagi, Thailand meruoakan negara dengan street food atau jajanan pinggir jalan yang beragam. Bahkan, kuliner tidak biasa alias ekstrem pun menjadi salah satu ciri khasnya.

Contohnya adalah daging buaya dan aneka serangga. Sejumlah tempat menjual jenis makanan ini. Salah satunya di kawasan Asiatique, Bangkok.

Para peserta d'Traveler of The Year 2018 bersama tiket.com pun mencicipinya. Salah satu peserta, Azizah misalnya. Ia membeli beberapa serangga yang digoreng, yakni belalang dan ulat.

"Rasanya asin, kayanya kalau pakai nasi enak deh. Meskipun agak berbau, agak nyengat tapi masih bisa dimakan dan dinikmati sih," katanya.

Peserta lainnya, Fadhil pun juga tidak mau kalah. Menurutnya, meskipun terlihat aneh ia tetap ingin mencoba.

"Saya juga nggak mau kalah. Nih coba, teksturnya aneh tapi asin ya. Enak sih," ujarnya.

Untuk membeli 1 porsi serangga goreng, traveler harus menyiapkan dana THB 200 (Rp 85 ribuan). Beberapa serangga bisa dicampur seperti ulat, kalajengking atau belalang.

Ada 1 lagi yang unik. Di tempat yang sama, ada kedai yang menjual aneka seafood ekstrem. Salah satunya adalah Kepala Buaya.

Kepala Buaya digoreng hingga kering. Kemudian dibumbui dan ditampilkan dengan mulut terbuka. Benar-benar terlihat seperti predator ganas.

Tidak jauh dari sana, ada sebuah kafe yang menajajakan daging buaya. Tubuh buaya utuh ditampilkan di depan toko.

Harga satu porsi daging buaya dengan minuman dihargai THB 300, atau setara dengan Rp 150 ribuan. Traveler berani coba?

Para pemenang d'Traveler of the Year 2018 pun masih akan melanjutkan kisahnya di Thailand. Tetap ikuti terus keseruannya di detikTravel dan Instagram @detikTravel!

Ada Taman Kereta Api Mini di Floating Market Bandung

Ke Floating Market Bandung, kamu bisa lihat miniatur taman kereta api. Miniatur ini lengkap dengan stasiun, jembatan dan pemandangan yang dilalui kereta api.

Sebagai destinasi wisata favorit di Lembang, Bandung, Floating Market memiliki aneka wahana dan permainan seru yang bisa dinikmati bersama keluarga. Pada saat berkunjung ke Floating Market beberapa waktu yg lalu, saya sempat terkejut saat mendengar suara kereta api yg cukup kencang, setelah saya telusuri ternyata asalnya dari arah Taman Miniatur Kereta Api.

Untuk mengobati rasa penasaran, saya pun mencoba masuk ke dalamnya. Untuk masuk ke dalam taman miniatur kereta api, kita harus membayar lagi tiket sebesar Rp 20.000, bisa dengan koin Floating Market ataupun dibayar secara tunai. Pada saat masuk ke dalam, saya cukup terkagum-kagum dengan miniatur kereta api yang sedang berjalan mengelilingi area yang cukup luas.

Tidak hanya kereta api, namun terdapat juga miniatur stasiun, jembatan, dan kawasan pedesaan yang dilalui jalur kereta api. Beberapa objek menarik di sekitar Bandung seperti teropong Boscha pun juga terdapat miniaturnya di sini. Miniatur kereta api dikendalikan oleh operator dari suatu ruangan khusus, sementara suara mesin kereta api yg cukup kencang ternyata berasal dari loudspeaker yang terpasang di sekeliling kawasan taman kereta api mini.

 Miniaturnya dibuat sangat detail dengan skala 1:24. Jika datang bersama si kecil, tentu akan sangat senang sekali sambil memperkenalkan anak pada kereta api. Setelah puas berkeliling taman kereta api mini, terdapat souvenir shop yang menjual aneka miniatur kendaraan yg menarik, seperti mobil mini dan pastinya kereta api mini mulai dari lokomotif sampai gerbongnya. Sungguh suatu pengalaman yg tidak terlupakan saat berlibur ke Floating Market.

Bixia, Kelenteng Keselamatan Perempuan di Gerbang Surga China

Jalur pendakian di Pegunungan Tai cukup panjang. Selain suguhan alam, ada pula kelentang khusus untuk mendoakan perempuan, Bixia Temple.

Dalam perjalan menuju puncak Pegunungan Tai, detikTravel bersama Dwidaya Tour menemukan banyak hal. Selain pemandangan yang bikin deg-degan, ada pula kelenteng bernama Bixia.

Bixia Temple didominasi oleh warna merah yang memang jadi ciri khas kultur China. Kelenteng ini menjadi tempat khusus untuk mendoakan perempuan dan anak-anak.

"Kebanyakan masyarakat China tak memiliki agama. Mereka berdoa di setiap kelenteng. Ini kelenteng khusus mendoakan keselamatan perempuan dan anak-anak," ujar Dennis, pemandu dari China International Travel Service.

Di kuil ini, masyarakat akan meletakkan persembahan dan berdoa. Ada yang memberikan uang sampai bunga.

"Bixia Temple jadi tempat Grandmother God, pelindung perempuan dan anak-anak," jelas Dennis.

Tiap pria yang datang ke sini berdoa agar ibu, istri dan anak-anak mereka terus dilindungi dari marabahaya. Perempuan pun datang untuk mendoakan hal yang sama.

Wisatawan bebas untuk berfoto di kelenteng ini. Namun tak boleh memotret sang dewa.

"Jangan sampai memotret sang dewa, itu tidak sopan," ungkap Dennis.

Di Bixia Temple ini juga ada penjual gembok, lonceng, atau kertas doa. Sama seperti tempat wisata lainnya, Bixia Temple pun sangat bersih dan sangat terawat.

Kuliner Ekstrem di Thailand, Makan Buaya Sampai Belalang

 Thailand punya berbagai daya tarik wisata yang beraneka ragam. Salah satunya, kuliner ekstrem menantang, berani coba?

Tidak diragukan lagi, Thailand meruoakan negara dengan street food atau jajanan pinggir jalan yang beragam. Bahkan, kuliner tidak biasa alias ekstrem pun menjadi salah satu ciri khasnya.

Contohnya adalah daging buaya dan aneka serangga. Sejumlah tempat menjual jenis makanan ini. Salah satunya di kawasan Asiatique, Bangkok.

Para peserta d'Traveler of The Year 2018 bersama tiket.com pun mencicipinya. Salah satu peserta, Azizah misalnya. Ia membeli beberapa serangga yang digoreng, yakni belalang dan ulat.

"Rasanya asin, kayanya kalau pakai nasi enak deh. Meskipun agak berbau, agak nyengat tapi masih bisa dimakan dan dinikmati sih," katanya.

Peserta lainnya, Fadhil pun juga tidak mau kalah. Menurutnya, meskipun terlihat aneh ia tetap ingin mencoba.

"Saya juga nggak mau kalah. Nih coba, teksturnya aneh tapi asin ya. Enak sih," ujarnya.

Untuk membeli 1 porsi serangga goreng, traveler harus menyiapkan dana THB 200 (Rp 85 ribuan). Beberapa serangga bisa dicampur seperti ulat, kalajengking atau belalang.

Ada 1 lagi yang unik. Di tempat yang sama, ada kedai yang menjual aneka seafood ekstrem. Salah satunya adalah Kepala Buaya.

Kepala Buaya digoreng hingga kering. Kemudian dibumbui dan ditampilkan dengan mulut terbuka. Benar-benar terlihat seperti predator ganas.

Tidak jauh dari sana, ada sebuah kafe yang menajajakan daging buaya. Tubuh buaya utuh ditampilkan di depan toko.

Harga satu porsi daging buaya dengan minuman dihargai THB 300, atau setara dengan Rp 150 ribuan. Traveler berani coba?

Para pemenang d'Traveler of the Year 2018 pun masih akan melanjutkan kisahnya di Thailand. Tetap ikuti terus keseruannya di detikTravel dan Instagram @detikTravel!