Kamis, 16 April 2020

Jumlah Pasien Corona Tembus 2 Juta, Terbanyak di Eropa dan Amerika

Pandemi virus Corona COVID-19 belum juga mereda. Hanya dalam dua pekan, terjadi peningkatan jumlah kasus positif dua kali lipat dan saat ini total akumulatif telah menembus angka 2 juta.
Dari jumlah tersebut, tercatat 132.932 pasien meninggal dunia sehingga angka kematian atau case fatality rate (CFR) saat ini berada di angka 6,48 persen. Jumlah pasien yang dinyatakan sembuh mencapai 508.387 kasus.

Meski wabah ini berawal di China, jumlah kasus terbanyak saat ini ada di Amerika Serikat dan Eropa. Lima negara yang mencatatkan jumlah kasus paling tinggi saat ini adalah:

Amerika serikat: 622.923 kasus positif, 27.586 meninggal, 47.707 sembuh
Spanyol: 177.633 kasus positif, 18.579 meninggal, 70.853 sembuh
Italia: 165.155 kasus positif, 21.645 meninggal, 38.092 sembuh
Prancis: 147.863 kasus positif, 17.167 meninggal, 30.955 sembuh
Jerman: 133.209 kasus positif, 3.592 meninggal, 72.600 sembuh.
Baca juga: Pasien Corona Tembus Sejuta, 5 Negara Ini Catatkan Jumlah Kasus Terbanyak
Tempat wabah bermula, China mencatatkan total 82.295 kasus positif hingga saat ini. Jumlah pasien meninggal di negara ini mencapai 3.342 kasus dan sembuh 77.816.

Diyakini sebagai kasus pertama yang dilaporkan adalah seorang pria 55 tahun di Provinsi Hubei, yang sakit pada pertengahan November 2019. Pada akhir Desember, China mengumumkan kluster pasien dengan keluhan penyakit pernapasan setelah mengunjungi Pasar Seafood Huanan di Wuhan.

Sejak saat itu, wabah 'pneumonia misterius' yang belakangan mendapat nama resmi COVID-19 ini meluas hingga akhirnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan status pandemi pada 11 Maret 2020.

Pemilik Payudara Terbesar Berdasarkan Ukuran Cup Rata-rata Ada di Negara Ini

Pernahkah terpikir untuk membandingkan ukuran payudara para wanita di seluruh dunia? Sebuah data mengungkap ukuran cup rata-rata di berbagai negara seluruh dunia.
Dikutip dari Daily Mail, sebuah data yang dipublikasikan Target Map memberikan komparasi ukuran cup payudara dari setiap negara. Setiap negara ternyata memiliki rata-rata ukuran payudara yang berbeda, lho.

Menurut peta tersebut, negara Jerman dan Islandia rata-rata wanitanya memiliki cup ukuran D. Sementara itu, wanita di negara-negara Eropa Utara seperti Rusia, Finlandia, Swedia dan Norwegia pun banyak yang menggunakan bra dengan cup D atau malah lebih besar.

Sedangkan perempuan di Afrika dan negara-negara Asia termasuk Indonesia rata-rata memiliki ukuran cup A atau cup B. Sedangkan wanita di Australia, menurut data tersebut memiliki payudara berukuran cup C, sama dengan Perancis, Italia dan Inggris.

Sayangnya, dari peta itu juga tidak menjelaskan apakah ukuran itu termasuk payudara dengan implan atau tidak. Tidak dijelaskan pula dari mana data tersebut dikumpulkan, tetapi spekulasi berkembang bahwa data tersebut berasal dari data penjualan bra.

Berikut data ukuran payudara wanita dari yang terbesar hingga terkecil:

Ukuran di atas cup D
- Rusia
- Finlandia
- Norway
- Swedia

Ukuran cup D
- Amerika Serikat
- Kolombia
- Venezuela
- Islandia
- Jerman
- Denmark
- Hungaria
- Swiss

Ukuran cup A
- China
- Jepang
- Korea Utara
- Korea Selatan
- Taiwan
- Mongolia
- Malaysia
- Indonesia
- Sudan
- Kenya
- Nigeria
- Peru
- Bolivia
- Latvia

Kenali Berbagai Pemicu Stres Saat Bekerja dari Rumah

Pandemi virus Corona telah membuat perubahan besar dalam bekerja. Adanya arahan untuk jaga jarak dan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) mengakibatkan pusat perkantoran ditutup dan karyawan diminta bekerja di rumah atau WFH (Work from Home).
Saat ini semakin banyak orang yang bekerja di rumah. Bahkan menurut Global Workplace Analytics terjadi peningkatan 159 persen dalam pekerjaan jarak jauh terlebih saat wabah virus Corona.

Arahan bekerja dari rumah membuat banyak orang bersorak. Siapa sih yang nggak ingin tetap produktif dan bekerja di rumah saja? Tapi jangan salah ternyata WFH lebih melelahkan bahkan bisa menimbulkan burnout.

Ada pemicu terjadinya burnout karena berubahnya kebiasaan dan dipaksa untuk beradaptasi dengan situasi yang baru, seperti yang dijelaskan psikolog klinis dewasa, Arrundina Puspita Dewi, MPsi.

"Karena harus mengubah kebiasaan, dipaksa untuk beradaptasi dengan situasi baru, bekerja di rumah. Ini saja sudah cukup membuat stres," ujar Arrundina kepada detikcom, Rabu (15/4/2020).

1. Belum terbiasa WFH
Karena kita harus mengubah kebiasaan. Kita dipaksa untuk beradaptasi dengan situasi baru yaitu saat bekerja di rumah. Hal ini sudah cukup membuat stres dan bagi orang-orang yang memang memerlukan waktu lama untuk beradaptasi, tingkat stresnya bahkan bisa lebih tinggi lagi.

Selain itu, dengan kerja di rumah juga diharuskan untuk mengatur jadwal kerja sendiri yang mana memerlukan adaptasi yang baru.

2. Merasa beban kerja bertambah
Beban kerja dirasa makin bertambah karena keterbatasan gerak untuk mengerjakan tugas-tugas pekerjaan, kesulitan untuk berdiskusi dengan rekan kerja, belum lagi dengan tugas-tugas rumah yang harus dikerjakan.

Sebelumnya saat bekerja di kantor yang dipikirkan hanya urusan kantor, dan setelah pulang ke rumah bisa istirahat dari pekerjaan. Nah, sekarang dipaksa harus bisa beradaptasi dengan urusan kantor dan rumah sekaligus.

Tumpang tindih antara dua hal yang sama pentingnya inilah yang pada akhirnya membuat stres berkepanjangan, kewalahan, hingga akhirnya mengalami burnout.

Jumlah Pasien Corona Tembus 2 Juta, Terbanyak di Eropa dan Amerika

Pandemi virus Corona COVID-19 belum juga mereda. Hanya dalam dua pekan, terjadi peningkatan jumlah kasus positif dua kali lipat dan saat ini total akumulatif telah menembus angka 2 juta.
Dari jumlah tersebut, tercatat 132.932 pasien meninggal dunia sehingga angka kematian atau case fatality rate (CFR) saat ini berada di angka 6,48 persen. Jumlah pasien yang dinyatakan sembuh mencapai 508.387 kasus.

Meski wabah ini berawal di China, jumlah kasus terbanyak saat ini ada di Amerika Serikat dan Eropa. Lima negara yang mencatatkan jumlah kasus paling tinggi saat ini adalah:

Amerika serikat: 622.923 kasus positif, 27.586 meninggal, 47.707 sembuh
Spanyol: 177.633 kasus positif, 18.579 meninggal, 70.853 sembuh
Italia: 165.155 kasus positif, 21.645 meninggal, 38.092 sembuh
Prancis: 147.863 kasus positif, 17.167 meninggal, 30.955 sembuh
Jerman: 133.209 kasus positif, 3.592 meninggal, 72.600 sembuh.
Baca juga: Pasien Corona Tembus Sejuta, 5 Negara Ini Catatkan Jumlah Kasus Terbanyak
Tempat wabah bermula, China mencatatkan total 82.295 kasus positif hingga saat ini. Jumlah pasien meninggal di negara ini mencapai 3.342 kasus dan sembuh 77.816.

Diyakini sebagai kasus pertama yang dilaporkan adalah seorang pria 55 tahun di Provinsi Hubei, yang sakit pada pertengahan November 2019. Pada akhir Desember, China mengumumkan kluster pasien dengan keluhan penyakit pernapasan setelah mengunjungi Pasar Seafood Huanan di Wuhan.

Sejak saat itu, wabah 'pneumonia misterius' yang belakangan mendapat nama resmi COVID-19 ini meluas hingga akhirnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan status pandemi pada 11 Maret 2020.