Senin, 15 Juni 2020

Banyak Bicara Menularkan Virus Corona? Ini Faktanya

Sebuah penelitian menyebut satu menit berbicara lantang bisa menghasilkan 1.000 droplet yang mengandung virus. Artinya, banyak bicara makin berisiko menularkan virus Corona COVID-19.
Umumnya, droplet atau bercak dahak menyebar saat seseorang batuk atau bersin. Berbagai gejala seperti batuk maupun bersin biasanya memang menyertai infeksi pernapasan.

Berbicara, selama ini jarang dipandang sebagai cara penularan hingga akhirnya sebuah penelitian mengatakan demikian. Dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine, sebuah eksperimen dengan sinar laser membuktikan bahwa bicara bisa menyebarkan droplet.

Penelitian ini memang tidak spesifik mengamati droplet yang terinfeksi COVID-19. Namun yang pasti, temuan ini makin menegaskan pentingnya menggunakan masker karena droplet menyebar tidak hanya saat batuk.

Sebuah laporan dari pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Amerika Serikat, CDC, menyiratkan bahwa bicara lantang bisa meningkatkan risiko droplet menyebar. Ini didukung juga oleh sebuah riset di Proceeding of the National Academy of Science.

"Volume total dari jumlah droplet meningkat seiring kenyaringan," tulis laporan tersebut.

Risiko penularan virus saat berbicara juga dikaitkan dengan superemitters atau super spreader. Beberapa orang punya kemungkinan lebih besar menularkan virus dibanding yang lain saat mengalami kontak dekat.

"Orang-orang tertentu, dikenal sebagai superemitters, yang melepaskan lebih banyak partikel aerosol saat berbicara dibandingkan orang lain, mungkin berkontribusi pada hal itu dan kejadian super spreading COVID-19 yang dilaporkan sebelumnya," tulis CDC, dikutip dari Health.com.

Sudah Harus Masuk Kantor? Ingat Pesan dr Reisa Soal Bawa Bekal

Seiring mulai dilonggarkannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB), sebagian orang mulai harus kembali bekerja di luar rumah. Anggota Tim Komunikasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Reisa Broto Asmoro, mengingatkan soal bawa bekal.
"Sebaiknya selalu membawa bekal makanan yang (mengandung) gizi seimbang dan terjamin kebersihannya," pesa dr Reisa dalam siaran update penanganan virus Corona COVID-19 di BNBP, Minggu (15/6/2020).

Kalaupun harus membeli makanan di luar, dr Reisa berpesan untuk memperhatikan kebersihan dari sisi penjual maupun lokasi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain kebersihan peralatan masak, dapur, maupun pramusaji.

"Kalau bisa, manfaatkan pilihan pesanan untuk dibawa pergi atau take away," saran dr Reisa.

Selain itu, disarankan juga untuk membawa peralatan makan dan minum sendiri, termasuk sendok dan garpu. Tidak lupa, kebersihan tangan juga harus dijaga dengan rajin mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, atau handrub yang mengandung alkohol minimal 70 persen.

Studi Baru Temukan Kondisi yang Memperparah Gejala Corona

Beberapa waktu lalu sebuah studi mengatakan golongan darah tipe A lebih rentan alami risiko serius karena Corona. Kini para peneliti dari Yale School of Medicine menemukan pasien virus Corona COVID-19 dengan kadar protein darah lebih rendah berisiko alami kondisi lebih buruk saat terinfeksi.
Studi yang dipublikasikan di medRxiv.org menganalisis tingkat renalase pada 51 pasien Corona di Rumah Sakit Yale New Haven. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 14 pasien dengan tingkat renalase terendah mengalami gejala yang lebih parah dari COVID-19.

Dikutip dari Express UK, renalase adalah hormon enzim yang disekresikan oleh ginjal dan membantu sirkulasi darah serta tekanan darah. Salah satu protein yang melindungi cedera akut, termasuk cedera iskemik pada ginjal dan jantung adalah renalase.

Studi ini menemukan bahwa 84 persen pasien COVID-19 dengan tingkat renalase rendah lebih membutuhkan ventilator. Dibandingkan dengan 50 persen dari mereka dengan yang memiliki kadar renalase tinggi.

"Kami ingin menyelidiki apakah memberi pasien agonis protein renalase dapat meningkatkan hasil," kata Dr Gary Desir, ketua kedokteran internal di Yale School of Medicine yang juga penulis penelitian tersebut.

Bahkan pasien dengan tingkat renalase yang lebih rendah disebut lebih berisiko alami kondisi fatal hingga kematian saat dirawat di rumah sakit. Meski begitu kabar baiknya, vaksin Corona di berbagai negara melaporkan perkembangan baik, mulai dari tersedia di bulan September mendatang hingga ada yang sudah memasuki uji coba tahap ketiga.

IDI Kritik Mal di DKI Buka Lagi Besok, Ini Respons Pengusaha

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) kurang sependapat jika pusat perbelanjaan atau mal dibuka lagi Senin (15/6) besok. IDI menyebut penyebaran Corona di Indonesia, termasuk DKI Jakarta belum landai.
"Kalau pertimbangan dari sisi medis bisa dibaca kan setiap hari Indonesia masih tambahnya seribu-seribu lebih, jadi memang intinya masih banyak, tandanya masih banyak, belum ada cerita melandai atau berkurang," kata Ketua Dewan Pertimbangan IDI, Zubairi Djoerban saat dihubungi detikcom, Sabtu (13/6/2020).

Menanggapi itu, Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat mengatakan sebagai pengelola hanya mengikuti arahan Pemprov DKI Jakarta. Sehingga ia tidak mau berkomentar.

"Itu biar Pemprov yang jawab. Kita ikuti aturan Pemprov," kata Ellen kepada detikcom, Minggu (14/6/2020).

Untuk menghindari adanya penumpukan di dalam mal, Ellen bilang, setiap mal sudah dilengkapi alat khusus menghitung jumlah pengunjung. Jika sudah mencapai 50% dari kapasitas mal, pengunjung lainnya dilarang masuk mal.

"Mal punya alat headcount jadi bisa tahu berapa banyak jumlah pengunjung," ucapnya.

Tak hanya jumlah pengunjung yang dibatasi, jumlah karyawan juga akan dibatasi demi mencegah penularan COVID-19.

"Saat ini karyawan yang bisa diserap hanya sekitar 50% karena mal belum beroperasi penuh, baru start dengan 50%. Jam buka juga dibatasi dari jam 11 siang sampai jam 8 malam saja, kalau normalnya dulu kan dari jam 10 pagi sampai 10 malam," paparnya.

Banyak Bicara Menularkan Virus Corona? Ini Faktanya

Sebuah penelitian menyebut satu menit berbicara lantang bisa menghasilkan 1.000 droplet yang mengandung virus. Artinya, banyak bicara makin berisiko menularkan virus Corona COVID-19.
Umumnya, droplet atau bercak dahak menyebar saat seseorang batuk atau bersin. Berbagai gejala seperti batuk maupun bersin biasanya memang menyertai infeksi pernapasan.

Berbicara, selama ini jarang dipandang sebagai cara penularan hingga akhirnya sebuah penelitian mengatakan demikian. Dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine, sebuah eksperimen dengan sinar laser membuktikan bahwa bicara bisa menyebarkan droplet.

Penelitian ini memang tidak spesifik mengamati droplet yang terinfeksi COVID-19. Namun yang pasti, temuan ini makin menegaskan pentingnya menggunakan masker karena droplet menyebar tidak hanya saat batuk.

Sebuah laporan dari pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Amerika Serikat, CDC, menyiratkan bahwa bicara lantang bisa meningkatkan risiko droplet menyebar. Ini didukung juga oleh sebuah riset di Proceeding of the National Academy of Science.

"Volume total dari jumlah droplet meningkat seiring kenyaringan," tulis laporan tersebut.

Risiko penularan virus saat berbicara juga dikaitkan dengan superemitters atau super spreader. Beberapa orang punya kemungkinan lebih besar menularkan virus dibanding yang lain saat mengalami kontak dekat.

"Orang-orang tertentu, dikenal sebagai superemitters, yang melepaskan lebih banyak partikel aerosol saat berbicara dibandingkan orang lain, mungkin berkontribusi pada hal itu dan kejadian super spreading COVID-19 yang dilaporkan sebelumnya," tulis CDC, dikutip dari Health.com.