Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) kurang sependapat jika pusat perbelanjaan atau mal dibuka lagi Senin (15/6) besok. IDI menyebut penyebaran Corona di Indonesia, termasuk DKI Jakarta belum landai.
"Kalau pertimbangan dari sisi medis bisa dibaca kan setiap hari Indonesia masih tambahnya seribu-seribu lebih, jadi memang intinya masih banyak, tandanya masih banyak, belum ada cerita melandai atau berkurang," kata Ketua Dewan Pertimbangan IDI, Zubairi Djoerban saat dihubungi detikcom, Sabtu (13/6/2020).
Menanggapi itu, Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat mengatakan sebagai pengelola hanya mengikuti arahan Pemprov DKI Jakarta. Sehingga ia tidak mau berkomentar.
"Itu biar Pemprov yang jawab. Kita ikuti aturan Pemprov," kata Ellen kepada detikcom, Minggu (14/6/2020).
Untuk menghindari adanya penumpukan di dalam mal, Ellen bilang, setiap mal sudah dilengkapi alat khusus menghitung jumlah pengunjung. Jika sudah mencapai 50% dari kapasitas mal, pengunjung lainnya dilarang masuk mal.
"Mal punya alat headcount jadi bisa tahu berapa banyak jumlah pengunjung," ucapnya.
Tak hanya jumlah pengunjung yang dibatasi, jumlah karyawan juga akan dibatasi demi mencegah penularan COVID-19.
"Saat ini karyawan yang bisa diserap hanya sekitar 50% karena mal belum beroperasi penuh, baru start dengan 50%. Jam buka juga dibatasi dari jam 11 siang sampai jam 8 malam saja, kalau normalnya dulu kan dari jam 10 pagi sampai 10 malam," paparnya.
Banyak Bicara Menularkan Virus Corona? Ini Faktanya
Sebuah penelitian menyebut satu menit berbicara lantang bisa menghasilkan 1.000 droplet yang mengandung virus. Artinya, banyak bicara makin berisiko menularkan virus Corona COVID-19.
Umumnya, droplet atau bercak dahak menyebar saat seseorang batuk atau bersin. Berbagai gejala seperti batuk maupun bersin biasanya memang menyertai infeksi pernapasan.
Berbicara, selama ini jarang dipandang sebagai cara penularan hingga akhirnya sebuah penelitian mengatakan demikian. Dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine, sebuah eksperimen dengan sinar laser membuktikan bahwa bicara bisa menyebarkan droplet.
Penelitian ini memang tidak spesifik mengamati droplet yang terinfeksi COVID-19. Namun yang pasti, temuan ini makin menegaskan pentingnya menggunakan masker karena droplet menyebar tidak hanya saat batuk.
Sebuah laporan dari pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Amerika Serikat, CDC, menyiratkan bahwa bicara lantang bisa meningkatkan risiko droplet menyebar. Ini didukung juga oleh sebuah riset di Proceeding of the National Academy of Science.
"Volume total dari jumlah droplet meningkat seiring kenyaringan," tulis laporan tersebut.
Risiko penularan virus saat berbicara juga dikaitkan dengan superemitters atau super spreader. Beberapa orang punya kemungkinan lebih besar menularkan virus dibanding yang lain saat mengalami kontak dekat.
"Orang-orang tertentu, dikenal sebagai superemitters, yang melepaskan lebih banyak partikel aerosol saat berbicara dibandingkan orang lain, mungkin berkontribusi pada hal itu dan kejadian super spreading COVID-19 yang dilaporkan sebelumnya," tulis CDC, dikutip dari Health.com.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar