Rabu, 15 Juli 2020

1 dari 3 Anak Muda Rentan Tertular Corona, Kebiasaan Merokok Jadi Pemicu

 Sebuah studi baru mengatakan satu dari tiga anak muda rentan terhadap infeksi virus Corona COVID-19 parah. Studi yang dipublikasikan Journal of Adolescent Health tersebut menemukan bahwa merokok jadi faktor penting yang menyebabkan keparahan infeksi.
Dikutip dari laman CNN, para peneliti di University of California, San Francisco, Amerika Serikat, menganalisis lebih 8.000 orang berusia 10 hingga 25 tahun yang ikut dalam survei National Health Interview.

Peneliti melihat bagaimana kerentanan medis terkait virus Corona COVID-19 yang parah dengan indikator risiko yang telah ditetapkan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), termasuk kondisi kesehatan dan kebiasaan merokok.

Para peneliti menemukan 32 persen dari total populasi penelitian secara medis rentan terhadap virus Corona COVID-19 yang parah. Ketika kelompok anak muda yang merokok atau menggunakan rokok elektronik dikeluarkan dari analisis, kerentanan menurun hingga setengahnya, menjadi 16 persen.

"Perbedaan sebagian besar didorong oleh orang dewasa muda yang melaporkan bahwa mereka merokok dalam 30 hari (1 dari 10) dan 30 hari terakhir penggunaan rokok elektronik (1 dari 14)," tulis laporan itu.

Studi ini juga menunjukkan laki-laki muda memiliki risiko yang lebih tinggi terkena virus Corona COVID-19 yang parah karena kebiasaan merokok, sementara perempuan lebih banyak karena memiliki asma dan kondisi kekebalan tubuh.

Namun, pada laki-laki dan perempuan yang bukan perokok, perempuan punya risiko lebih tinggi mengalami Covid-19 yang parah.

"Bukti terbaru menunjukkan bahwa merokok dikaitkan dengan kemungkinan perkembangan virus Corona COVID-19 yang lebih tinggi, termasuk meningkatnya keparahan penyakit, ICU atau kematian," kata Sally Adams, penulis utama dari studi ini.

"Merokok memiliki efek signifikan pada orang dewasa muda yang biasanya memiliki tingkat rendah untuk sebagian besar penyakit kronis," pungkasnya.

Respons Kekebalan yang Lemah Jadi Tantangan Pengembangan Vaksin Corona

Beberapa studi dari China, Jerman, dan Inggris menunjukkan bahwa orang yang pernah terinfeksi virus Corona akan memiliki antibodi atau kekebalan pada tubuhnya. Namun, ini hanya berlangsung dalam beberapa bulan saja.
"Umumnya antibodi akan terbentuk, tetapi seringkali antibodi itu menghilang dengan cepat, menunjukkan mungkin hanya ada sedikit kekebalan," kata Daniel Altmann, seorang profesor imunologi di Imperial College London, seperti dikutip dari Reuters pada Rabu (15/7/2020).

Menurut para ilmuwan, ini akan bisa jadi tantangan dalam mengembangkan vaksin COVID-19. Terlebih belum ada data dari uji klinis tahap awal yang bisa menunjukkan berapa lama vaksin bisa memberikan efek perlindungan.

"Ini artinya ketergantungan yang berlebihan terhadap vaksin (untuk mengendalikan pandemi) tidak bijaksana," kata Stephen Griffin, seorang profesor kedokteran di Universitas Leeds.

Agar vaksin benar-benar efektif, Stephen mengatakan vaksin COVID-19 perlu menghasilkan kekebalan yang lebih kuat dan jauh lebih tahan lama.

"Atau mungkin perlu diberikan secara teratur... dan ini bukanlah hal yang mudah," ujarnya.

Saat ini sudah lebih dari 100 peneliti dari berbagai perusahaan di seluruh dunia yang sedang berusaha mengembangkan vaksin Corona dan sudah ada 17 kandidat vaksin yang telah diuji klinis pada manusia.
https://nonton08.com/avengers-infinity-war/

5 Negara yang Sempat 'Sukses' Tangani Corona Namun Terancam Gelombang Kedua

- Pembatasan dilonggarkan, warga kembali beraktivitas normal, dan membolehkan perjalanan keluar-masuk menjadi beberapa alasan suatu negara kembali menghadapi ancaman gelombang kedua virus Corona. Bahkan ada wilayah yang hampir sebulan tak melaporkan kasus baru baik transmisi lokal maupun imported case, namun setelah relaksasi, infeksi COVID-19 muncul dan mengancam warga.
Sempat menyatakan 'bebas' dari infeksi Corona, tetapi akibat pelonggaran kebijakan lockdown, negara ini kembali melaporkan kasus baru dan terancam adanya lonjakan infeksi.

Berikut deretan negara yang sempat sukses tangani Corona namun kini terancam gelombang kedua dikutip detikcom dari berbagai sumber.

1. Thailand
Thailand adalah salah satu negara di Asia Tenggara yang disebut berhasil menekan kurva penyebaran kasus COVID-19. Bahkan Thailand 50 hari berturut-turut tidak melaporkan adanya penambahan kasus transmisi lokal baru sehingga pemerintah akhirnya melonggarkan pembatasan.

Pada Juni, Thailand berencana untuk secara bertahap mengurangi pembatasan pada orang asing yang akan memasuki negara tersebut. Namun hanya beberapa kelompok yang boleh melakukan perjalanan ke Thailand di antaranya pekerja bisnis dan orang asing yang tinggal di Thailand.

Setelah dilakukan relaksasi, dua kasus infeksi COVID-19 yang berasal dari imported case kini mengancam 400 warga lokal sehingga mereka harus melaksanakan karantina mandiri. Hal ini memunculkan kepanikan akan adanya gelombang kedua Corona.

"Ini harusnya tidak terjadi, saya benar-benar minta maaf karena itu dan saya ingin meminta maaf kepada publik," kata Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha, dikutip dari Reuters.

Pemerintah Thailand mengakui peraturan untuk diplomat dan awak pesawat, yang termasuk di antara beberapa kategori orang asing yang diizinkan masuk sejak Maret dengan persyaratan isolasi diri, terlalu longgar.

2. Selandia Baru
Sempat melaporkan hampir sebulan tanpa kasus baru, baik transmisi lokal maupun imported case, Selandia Baru kini dihantui ancaman gelombang kedua COVID-19.

Adanya dua kasus baru pada Juni menggugurkan status 'bebas Corona' Selandia Baru. Disebutkan bahwa dua kasus baru tersebut merupakan dua wanita dari London.

Sebagai langkah antisipasi gelombang kedua, Selandia Baru membuat peraturan membatasi kepulangan warganya dari luar negeri. Selain itu Perdana Menteri (PM) Selandia Baru Jacinda Ardern memerintahkan militer untuk mengawasi perbatasan Selandia Baru.

3. China
Setelah terjadi lonjakan kasus yang berasal dari pasar grosir Xinfadi, Beijing, pemerintah China menyebut terjadi kekhawatiran akan adanya gelombang kedua infeksi Corona. Padahal sebelumnya pemerintah Beijing mengatakan sudah lebih satu bulan tak ada kasus transmisi lokal yang dilaporkan.

Pasien dari klaster pasar Xinfadi mulai bermunculan sehingga pemerintah memutuskan memperbanyak pengujian sampel Corona yakni sekitar 400 ribu swab per hari. Kepala Ahli Epidemiologi di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok, Wu Zunyou, mengatakan meski wabah baru telah 'dikendalikan', masih ada ancaman kasus baru bermunculan keesokan harinya.

"Itu tidak berarti tidak akan ada laporan pasien besok," ujarnya dikutip dari AFP.

4. Korea Selatan
Pada pertengahan Juni, otoritas kesehatan Korea Selatan umumkan hadapi gelombang kedua pandemi COVID-19. Setelah mendapat pujian jadi contoh sukses dalam menangani Corona, adanya lebih dari 100 kasus baru yang bermunculan terkait dengan klub malam membuat Negara Ginseng itu juga dihantui lonjakan kasus baru.

Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korsel (KCDC) Jeong Eun-kyeong, mengatakan gelombang kedua dimulai selama periode liburan Mei dan akan sulit memprediksi kapan berakhir sebab transmisi lokal terjadi lebih banyak daripada yang diperkirakan.

"Di wilayah metropolitan, kami percaya bahwa gelombang pertama dimulai dari Maret hingga April serta Februari hingga Maret. Lalu kita melihat bahwa gelombang kedua yang dipicu oleh liburan pada bulan Mei tengah berlangsung," kata Jeong dikutip dari ABC News.

5. Hong Kong
Seorang pejabat kesehatan senior Hong Kong memperingatkan dalam konferensi pers terpisah pada hari Selasa bahwa bahkan Hong Kong telah memasuki 'gelombang ketiga' infeksi virus Corona. Dalam waktu singkat, pejabat setempat menyatakan ada banyak kasus transmisi lokal yang sumber awalnya tidak diketahui.

"Sejak akhir pekan lalu, situasi epidemi lokal telah berubah dengan cepat. Situasinya sangat kritis," kata Dr Wong Ka-hing, dikutip dari South China Morning Post.

Menyatakan situasi 'sangat mengkhawatirkan', Menteri Kesehatan Sophia Chan Siu-chee membuat serangkaian langkah baru termasuk mengawasi orang yang kembali dari negara-negara berisiko tinggi, dan asisten rumah tangga dari negara lain agar dikarantina di hotel pada saat kedatangan.
https://nonton08.com/rumah-jagal/