Sebuah studi baru mengatakan satu dari tiga anak muda rentan terhadap infeksi virus Corona COVID-19 parah. Studi yang dipublikasikan Journal of Adolescent Health tersebut menemukan bahwa merokok jadi faktor penting yang menyebabkan keparahan infeksi.
Dikutip dari laman CNN, para peneliti di University of California, San Francisco, Amerika Serikat, menganalisis lebih 8.000 orang berusia 10 hingga 25 tahun yang ikut dalam survei National Health Interview.
Peneliti melihat bagaimana kerentanan medis terkait virus Corona COVID-19 yang parah dengan indikator risiko yang telah ditetapkan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), termasuk kondisi kesehatan dan kebiasaan merokok.
Para peneliti menemukan 32 persen dari total populasi penelitian secara medis rentan terhadap virus Corona COVID-19 yang parah. Ketika kelompok anak muda yang merokok atau menggunakan rokok elektronik dikeluarkan dari analisis, kerentanan menurun hingga setengahnya, menjadi 16 persen.
"Perbedaan sebagian besar didorong oleh orang dewasa muda yang melaporkan bahwa mereka merokok dalam 30 hari (1 dari 10) dan 30 hari terakhir penggunaan rokok elektronik (1 dari 14)," tulis laporan itu.
Studi ini juga menunjukkan laki-laki muda memiliki risiko yang lebih tinggi terkena virus Corona COVID-19 yang parah karena kebiasaan merokok, sementara perempuan lebih banyak karena memiliki asma dan kondisi kekebalan tubuh.
Namun, pada laki-laki dan perempuan yang bukan perokok, perempuan punya risiko lebih tinggi mengalami Covid-19 yang parah.
"Bukti terbaru menunjukkan bahwa merokok dikaitkan dengan kemungkinan perkembangan virus Corona COVID-19 yang lebih tinggi, termasuk meningkatnya keparahan penyakit, ICU atau kematian," kata Sally Adams, penulis utama dari studi ini.
"Merokok memiliki efek signifikan pada orang dewasa muda yang biasanya memiliki tingkat rendah untuk sebagian besar penyakit kronis," pungkasnya.
Respons Kekebalan yang Lemah Jadi Tantangan Pengembangan Vaksin Corona
Beberapa studi dari China, Jerman, dan Inggris menunjukkan bahwa orang yang pernah terinfeksi virus Corona akan memiliki antibodi atau kekebalan pada tubuhnya. Namun, ini hanya berlangsung dalam beberapa bulan saja.
"Umumnya antibodi akan terbentuk, tetapi seringkali antibodi itu menghilang dengan cepat, menunjukkan mungkin hanya ada sedikit kekebalan," kata Daniel Altmann, seorang profesor imunologi di Imperial College London, seperti dikutip dari Reuters pada Rabu (15/7/2020).
Menurut para ilmuwan, ini akan bisa jadi tantangan dalam mengembangkan vaksin COVID-19. Terlebih belum ada data dari uji klinis tahap awal yang bisa menunjukkan berapa lama vaksin bisa memberikan efek perlindungan.
"Ini artinya ketergantungan yang berlebihan terhadap vaksin (untuk mengendalikan pandemi) tidak bijaksana," kata Stephen Griffin, seorang profesor kedokteran di Universitas Leeds.
Agar vaksin benar-benar efektif, Stephen mengatakan vaksin COVID-19 perlu menghasilkan kekebalan yang lebih kuat dan jauh lebih tahan lama.
"Atau mungkin perlu diberikan secara teratur... dan ini bukanlah hal yang mudah," ujarnya.
Saat ini sudah lebih dari 100 peneliti dari berbagai perusahaan di seluruh dunia yang sedang berusaha mengembangkan vaksin Corona dan sudah ada 17 kandidat vaksin yang telah diuji klinis pada manusia.
https://nonton08.com/avengers-infinity-war/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar