Minggu, 23 Agustus 2020

Terpopuler Sepekan: Pidana Bagi Pencari 'Cuan' dari Kelangkaan Masker N95

 Pasca gemparnya wabah virus corona, stok masker terutama jenis N95 di apotek hingga pasar alat kesehatan (alkes) habis. Meskipun ada, harganya naik gila-gilaan yang awalnya Rp 20 ribu per pcs bisa mencapai Rp 3 juta per 10 pcs. Para pedagang mengaku kehabisan stok.
Tapi, di balik itu ada banyak kemungkinan yang dapat memicu kelangkaan, salah satunya perilaku menimbun demi dapat 'cuan'. Perilaku ini mungkin saja dilakukan saat harga suatu barang meroket karena tingginya permintaan.

Menanggapi hal ini, Tulus Abadi, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengingatkan adanya sanksi untuk pihak yang terbukti menimbun stok masker. Menurutnya, itu bisa dikenai sanksi pidana.

"Menimbun kemudian tujuannya untuk mengacaukan pasokan, harga, maka dia harus diproses secara hukum," tegas Tulus saat dihubungi detikcom, Kamis (6/2/2020).

"Misalnya apotek atau toko obat yang besar itu kemudian menimbun masker, kemudian harganya mahal itu juga ada sanksi hukumnya," lanjutnya.

Berinteraksi dengan Disabiltas di Acara Marketibility

 Sebuah acara yang diselenggarakan oleh komunitas peduli disabilitas bernama Pandulisane dengan judul Marketibility "An Inclusive Market For Dignity" pada Minggu (9/2/2020) di Atrium Plaza Semanggi, Jakarta mendapat sambutan baik dari para pengunjung.
Acara yang bertujuan untuk membuat pasar inklusif sekaligus menjadi wadah bagi penyandang disabilitas untuk berinteraksi dengan non disabilitas ini berisi talkshow, workshop dan bazaar.

Salah satu workshop yang menarik adalah make up class penyandang disabilatas yang berkolaborasi dengan komunitas "Lisptik Untuk Difabel", workshop ini diisi oleh MUA (Maku Up Artist) profesional yaitu @njonja_ketjil dan di khususkan bagi para disabilitas.

Para disabilatas yang terdiri dari tunarungu dan tunawicara ini bisa mempelajari bagaimana cara bermake up dari MUA profesional.

Selain itu para pengunjung juga dapat mempelajari bahasa isyarat dan huruf braile dengan beberapa penyandang disabilitas melalui pojok interaksi.

Menurut Riset Ini, Virus Corona Seharusnya Sudah Masuk Indonesia

Sebuah riset di Harvard University tengah jadi perbincangan. Riset ini memperkirakan bahwa seharusnya virus corona Wuhan 2019-nCoV sudah masuk Indonesia, meski faktanya hingga kini belum ada satupun kasus yang terkonfirmasi positif.
Riset ini menyebut, banyaknya kasus di luar China yang terkait riwayat bepergian ke China menunjukkan adanya kaitan erat dengan volume penerbangan dari dan ke Wuhan. Para peneliti lalu membuat model regresi linear untuk mengidentifikasi tempat-tempat dengan potensi kasus 'uderdetected' di berbagai negara.

Seberapa akurat prediksi yang dihasilkan?

Beberapa negara seperti Jerman melaporkan jumlah kasus lebih banyak dari interval prediksi 95 persen yang dihasilkan dalam penelitian ini. Transportasi darat dan penularan lokal diperkirakan turut berpengaruh pada temuan ini.

Sebaliknya, jumlah kasus di Kamboja dan Indonesia, berada di bawah interval prediksi 95 persen. Masing-masing, pada saat penelitian dilakukan, belum melaporkan adanya kasus penularan virus corona. Thailand, meski cukup banyak melaporkan kasus positif, jumlahnya masih berada di bawah interval prediksi 95 persen.

"Indonesia belum melaporkan adanya kasus, dan seharusnya Anda sudah menemukannya beberapa," kata salah seorang peneliti, Marc Lipsitch, dikutip dari Ibtimes.

Hingga saat ini, Kamboja tercatat memiliki ada 1 kasus positif dan Indonesia masih belum menemukan satupun kasus positif.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan drg R Vensya Sitohang, MEpid, dalam temu media Jumat (7/2/2020), mengungkap hingga saat ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menguji 50 spesimen sampel dari pasien dugaan virus corona. Dari jumlah tersebut, belum ada satupun yang terkonfirmasi positif.

"Dari total 50, yang negatif 49, proses 1," jelasnya pada wartawan.
https://kamumovie28.com/suck-seed/

5 Alasan Virus Corona Wuhan 'Ogah' Masuk Indonesia

 Tidak adanya kasus positif virus corona Wuhan (2019-nCoV) di Indonesia disikapi beragam. Di satu sisi patut disyukuri karena memang tidak ada yang berharap ada yang sakit, di sisi lain ada juga yang mempertanyakan kemampuan mendeteksi.
Soal kemampuan mendeteksi virus corona baru, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) lewat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) menegaskan bahwa kemampuan Indonesia mendeteksi virus corona Wuhan tidak perlu diragukan.

"Jadi reagen itu sudah tersedia di laboratorium kami, sesuai dengan guideline yang diberikan dari WHO," kata Kepala Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Dr dr Vivi Setyawaty, M Biomed, pada Jumat (31/1/2020).

Lalu kenapa belum ada satupun kasus yang terkonfirmasi positif, ketika jumlah kasus di negara-negara tetangga terus meningkat? Tentunya ada banyak faktor yang berpengaruh, 5 di antaranya seperti dirangkum detikcom adalah sebagai berikut.

1. Iklim tropis
Ahli mikrobiologi, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr R Fera Ibrahim, MSc, SpMK(K), PhD dalam wawancara dengan detikcom membenarkan bahwa virus corona tidak tahan panas. Ditunjang dengan pola hidup sehat yang bagus, risiko infeksi bisa ditekan.

"Pengaruh iklim tropis, karena sinar matahari itu membantu juga kita untuk inaktifkan virus," kata dr Fera, pada Kamis (30/1/2020).

2. Pengamanan ketat di bandara dan pelabuhan
Wakil Ketua DPR Komisi IX, Emanuel Melkiades Laka Lena, menilai penanganan dan pencegahan virus corona Wuhan di Indonesia jauh lebih baik dibanding wabah penyakit sebelumnya. Sedikitnya 135 pintu masuk negara telah dilengkapi thermal scanner sebagai deteksi awal.

"Di semua titik masuk negeri ini, itu dalam pengendalian Kemenkes dan pihak yang terkait. Keluar masuk Wuhan pun sudah dikontrol," katanya.

3. Kit deteksi standar WHO
Kemampuan Indonesia mendeteksi virus corona Wuhan sempat mencuat ketika sebuah artikel di Sydney Morning Herald memuat pernyataan Prof Amin Soebandrio, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, soal reagen yang tersedia.

Menurutnya, ada reagen yang mampu mendeteksi dengan lebih cepat, dan Indonesia sedang dalam tahap pengadaan. Namun ditegaskan, hal itu tidak berpengaruh pada kemampuan mendeteksi, hanya saja memang butuh waktu lebih lama.

"Seharusnya sih kalau ada corona virus kita bisa deteksi," tegasnya.

4. Kewaspadaan tinggi

Direktur Jendral P2P Kemenkes, dr Anung Sugiantono menyebut pada 28 Januari 2020 ada 13 orang yang masuk kategori people under observation, 11 di antaranya negatif novel coronavirus (2019-nCoV). Artinya, upaya mewaspadai risiko penularan telah dilakukan semaksimal mungkin.

"Jadi kalau ditanya mengapa Indonesia masih belum ada? Kita sudah mengupayakan yang tadi people under observation, dalam konteks suspect itu kita amati, sampai sekarang alhamdulillah tidak ada novel coronavirus," jelas dr Anung.

5. Kekuatan doa

Manusia boleh berusaha, namun pada akhirnya kekuatan doa tetap tidak boleh diabaikan. Setidaknya itu tersirat dari pernyataan Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI, dr Bambang Wibowo, SpOG(K), MARS, mengomentari belum adanya kasus positif di Indonesia.

"Makanya kita doa itu penting, menjaga perilaku hidup sehat, kemudian doa lagi. Kalau ada apa-apa segera periksa, dan jangan percaya sama informasi yang tidak benar," ucap dr Bambang di Jakarta pada Rabu (29/1/2020).
https://kamumovie28.com/my-life-changed-when-i-went-to-a-sex-parlor-2/