Rabu, 21 Oktober 2020

Beda Data Pasien COVID-19 Pemerintah Pusat dan Daerah, Kok Bisa?

 Kasus harian infeksi COVID-19 masih terus bertambah setiap harinya. Saat ini angka positif COVID-19 nasional menyentuh rata-rata 3.000 per hari.

Data terkait penambahan kasus COVID-19 baik kasus baru, sembuh, dan meninggal, secara berkala diunggah Satgas COVID-19 setiap sore. Hanya saja ada perbedaan data dari pemerintah pusat dan daerah yang disampaikan di situs web tiap provinsi.


Contohnya di Jawa Tengah. Data pemerintah pusat menyebut jumlah pasien COVID-19 yang meninggal dunia di Jawa Tengah ada 1.607 orang. Namun data Pemprov Jateng per 20 Oktober mengumumkan jumlah akumulasi kasus COVID-19 yang meninggal ada 2.348 orang.


Menanggapi, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dr Yulianto Prabowo MKes mengatakan masalah perbedaan terjadi karena datanya dinamis. Alasan lain karena di beberapa puskesmas, terjadi double input data yang menyebabkan data pusat dan daerah tidak sinkron.


"Kami juga menemukan double input data... Ini sedang berlangsung verifikasi dan validasi tetapi perbedaan ini bukan masalah carut marut dan data ini dinamis dan memang kita perlu mencocokkan," katanya di webinar Kemenkes, Rabu (21/10/2020).


Soal perbedaan data pusat dan daerah, Sekjen Kementerian Kesehatan Oscar Primadi mengatakan alasan terjadinya ketidaksesuaian data salah satunya waktu penginputan sehingga verifikasi dan validasi data harus terus dilakukan.


"Makanya ada validasi dan verifikasi untuk pengharmonisasian. Misalnya ada kekurangan dari SDM yang menginput data ini yang kita perkuat," kata Oscar.


"Perbaikan sistem sudah terbangun. Kita sudah punya satu sistem yang sama dimanfaatkan dari daerah sampai pusat," tutupnya.

https://cinemamovie28.com/myunggi/


BPOM Tegaskan Belum Ada Produk yang Disetujui sebagai Obat COVID-19


 Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Penny K Lukito menegaskan sampai saat ini belum ada produk yang disetujui secara global, yang diindikasi sebagai obat untuk mengatasi COVID-19.

"Namun, sampai saat ini belum ada produk yang disetujui secara global, dengan indikasi sebagai obat COVID-19" kata Penny dalam temu media daring, Rabu (21/10/2020).


Meski begitu, Penny mengatakan sampai saat ini BPOM terus meningkatkan pengembangan produk alam atau herbal yang bisa berpotensi untuk meningkatkan daya tahan tubuh, guna mencegah terjadinya penularan virus Corona.


Selain itu, produk herbal tersebut juga bisa digunakan untuk mengurangi dan mengatasi gejala COVID-19 yang sudah muncul pada seseorang.


"Keanekaragaman hayati yang kita miliki tentunya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai fitofarmaka, untuk memelihara daya tahan tubuh, imunomodulator, anti-inflamasi. Atau sebagai produk herbal untuk memperbaiki gejala klinis COVID-19, misalnya mengurangi batuk, demam, dan sakit tenggorokan," jelasnya.


Adapun beberapa bahan alam atau herbal asli Indonesia yang sudah digunakan sejak turun temurun. Misalnya seperti temulawak dan juga jahe merah.


Sampai saat ini, jumlah obat herbal terstandar yang sudah terdaftar di BPOM masih terbatas jumlahnya. Baru ada 71 produk Obat Herbal Terstandar (OHT) dan 24 produk fitofarmaka.

https://cinemamovie28.com/my-friends-mother-2-looks-like-a-woman/

Mitos-Fakta Curcumin yang Bantu Tingkatkan Imun Tubuh untuk Tangkal COVID-19

 Curcumin senyawa yang terdapat pada kunyit dan temulawak sempat heboh diperbincangkan saat pertama kali wabah Corona merebak. Bahkan, temulawak kala itu jadi marak dicari karena dinilai bisa mencegah infeksi COVID-19.

Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOT JI) dr Inggrid Tania menjelaskan curcumin adalah pigmen berwarna kuning terkandung di dalam kunyit maupun temulawak. Ada beberapa fakta dan hoax terkait curcumin yang sempat beredar termasuk disebut memicu risiko tinggi terpapar COVID-19.


"Jadi sebetulnya curcumin ini kalau dilihat secara struktur merupakan suatu senyawa dengan sifat yang menonjolnya misalnya antiperadangan dan antiinflamasi dan meningkatkan kadar antioksidan yang diproduksi oleh tubuh," jelas dr Inggrid dalam temu media daring, Rabu (21/10/2020).


Berikut tiga hoax dan fakta terkait kurkumin:


1. Curcumin tingkatkan risiko terpapar COVID-19

Bukan untuk menangkal COVID-19, curcumin sempat disebut meningkatkan risiko terpapar. dr Inggrid menegaskan hal ini adalah hoax semata.


"Waktu awal-awal pandemi sempat keluar suatu hoax yang menyatakan bahawa knonsumsi temulawak dapat meningkatkan risiko terpapar COVID-19 karena dapat meningkatkan reseptor ACE 2," jelas dr Inggrid.


"Hoax ini sebenarnya bertentangan atau berlawanan dengan hasil-hasil riset dari Bio Informatika maupun uji pra klinik, in vitro. Karena hasil riset Bio Informatika itu juga yang dirilis di masa pandemi dengan simulasi di komputer itu menunjukkan curcumin malah mampu meningkatkan reseptor protein dari SARS-CoV-2 virusnya COVID-19," lanjutnya.


2. Curcumin mencegah infeksi COVID-19

Curcumin yang terdapat dalam kunyit dan temulawak tidak bisa mencegah infeksi COVID-19. dr Inggrid menegaskan curcumin bisa meningkatkan imunitas tubuh.


Imunitas tubuh selama ini diketahui sebagai salah satu cara yang perlu dijaga agar tidak terinfeksi COVID-19.


"Salah satu manfaat curcumin yang terungkap melalui berbagai penelitian dan uji klinis adalah meningkatkan sistem imunitas tubuh atau berperan sebagai imunomodulator," jelas dr Inggris.


3. Konsumsi curcumin tidak bermanfaaat, hanya menghasilkan placebo effect

dr Inggrid memastikan hal ini termasuk hoax. Pasalnya menurut beberapa penelitian yang dilakukan selama ini curcumin memiliki beragam manfaat termasuk antiperadangan.


"Nah justru curumin itu telah diketahui mampu menghambat pelepasan senyawa peradangan, atau istilahnya sitokin, inflamasi," kata dr Inggrid.


"Sehingga malah berpotensi untuk mencegah terjadinya badai sitokin yang mungkin terjadi pada COVID-19," lanjutnya.


Berikut manfaat curcumin:


- Antiinflamasi atau antiperadangan

- Antimikroba

- Melindungi sel-sel saraf di tubuh

https://cinemamovie28.com/life-of-sex-2/


Beda Data Pasien COVID-19 Pemerintah Pusat dan Daerah, Kok Bisa?


Kasus harian infeksi COVID-19 masih terus bertambah setiap harinya. Saat ini angka positif COVID-19 nasional menyentuh rata-rata 3.000 per hari.

Data terkait penambahan kasus COVID-19 baik kasus baru, sembuh, dan meninggal, secara berkala diunggah Satgas COVID-19 setiap sore. Hanya saja ada perbedaan data dari pemerintah pusat dan daerah yang disampaikan di situs web tiap provinsi.


Contohnya di Jawa Tengah. Data pemerintah pusat menyebut jumlah pasien COVID-19 yang meninggal dunia di Jawa Tengah ada 1.607 orang. Namun data Pemprov Jateng per 20 Oktober mengumumkan jumlah akumulasi kasus COVID-19 yang meninggal ada 2.348 orang.


Menanggapi, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dr Yulianto Prabowo MKes mengatakan masalah perbedaan terjadi karena datanya dinamis. Alasan lain karena di beberapa puskesmas, terjadi double input data yang menyebabkan data pusat dan daerah tidak sinkron.


"Kami juga menemukan double input data... Ini sedang berlangsung verifikasi dan validasi tetapi perbedaan ini bukan masalah carut marut dan data ini dinamis dan memang kita perlu mencocokkan," katanya di webinar Kemenkes, Rabu (21/10/2020).


Soal perbedaan data pusat dan daerah, Sekjen Kementerian Kesehatan Oscar Primadi mengatakan alasan terjadinya ketidaksesuaian data salah satunya waktu penginputan sehingga verifikasi dan validasi data harus terus dilakukan.


"Makanya ada validasi dan verifikasi untuk pengharmonisasian. Misalnya ada kekurangan dari SDM yang menginput data ini yang kita perkuat," kata Oscar.


"Perbaikan sistem sudah terbangun. Kita sudah punya satu sistem yang sama dimanfaatkan dari daerah sampai pusat," tutupnya.

https://cinemamovie28.com/life-of-sex/