Jumat, 20 November 2020

Ilmuwan Pfizer Sebut Vaksin Corona yang Dikembangkan Mampu Akhiri Pandemi

  Vaksin BioNTech dan Pfizer baru-baru ini menyatakan bahwa efektivitas dari vaksin mereka yang sudah memasuki uji klinis tahap akhir mencapai 90 persen.

Dalam wawancara dengan sebuah surat kabar Inggris, CEO BioNTech Ugur Sahin mengaku vaksin buatannya akan mampu mengakhiri pandemi COVID-19 ini.


"Jika pertanyaannya adalah apakah kita dapat menghentikan pandemi dengan vaksin ini, maka jawabannya adalah: ya," ujarnya, seperti dikutip dari laman The Guardian.


Dia pun bercerita, awalnya dirinya tidak yakin bahwa vaksin ini akan memicu reaksi yang cukup kuat bagi sistem kekebalan imunitas manusia. Namun kini, lanjutnya, pihaknya sangat yakin bahwa vaksin ini dapat mengalahkan virus Corona COVID-19.


"Vaksin ini menghalangi COVID-19 mendapat akses ke sel manusia, tetapi jika virus berhasil menemukan akses masuk, maka cell-T akan memusnahkannya," ungkapnya.


Namun demikian, kemanjuran dari vaksin ini baru akan terlihat sepenuhnya efektif dalam beberapa minggu dan bulan mendatang. Dibutuhkan dua dosis vaksin guna menciptakan kekebalan tubuh manusia selama satu tahun.


Selain itu, pemerintah Israel bahkan telah memesan 4 juta dosis vaksin COVID-19 Pfizer ini. Hal itu diungkapkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kemarin, Jumat (13/11/2020).


Kemajuan positif dari vaksin pfizer ini pun turut mendapatkan apresiasi dari Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom. Namun, Tedros pun mengingatkan agar vaksin ini bermanfaat bagi semua negara, karena vaksin merupakan alat vital untuk mengendalikan pandemi.


"Vaksin akan menjadi alat vital untuk mengendalikan pandemi dan kami tergerak oleh hasil awal uji klinis yang dirilis minggu ini," ujarnya seperti dikutip dari CNA.

https://kamumovie28.com/movies/crouching-tiger-hidden-dragon-sword-of-destiny/


Bos WHO Jadikan 3 Negara Contoh Soal COVID-19 Termasuk Indonesia


Beberapa waktu lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengundang Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto untuk berbagi pengalaman dalam penanganan pandemi COVID-19. Terutama terkait dengan pelaksanaan IAR (Intra Action Review) COVID-19 nasional.

Dalam penuturannya, Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pelaksanaan IAR COVID-19 sangat penting untuk memperkuat dan meninjau strategi dalam menangani pandemi.


"Kajian analisis (IAR) semacam ini adalah apa yang diminta dunia selama World Health Assembly bulan Mei, tinjauan interaksi menggunakan pendekatan multi-sektor masyarakat secara keseluruhan, mengakui pemangku kepentingan dalam tanggapan kesiapsiagaan di tingkat nasional dan sub-nasional," jelas Tedros dalam konferensi pers virtual WHO pada Jumat, 6 November 2020 lalu.


Tedros mengatakan masih ada harapan dalam menangani pandemi Corona ini. Dalam hal ini negara bisa menggerakkan seluruh pemerintahannya untuk meningkatkan strategi penanganan.


"Negara bisa membalikkannya dengan menggerakkan seluruh pemerintahan dan respons semua masyarakat. Tidak ada kata terlambat," tegas Tedros.


Tedros juga mendorong beberapa negara untuk belajar terkait COVID-19 dari tiga negara yang diundang untuk berbagi pengalaman IAR tersebut, yaitu Thailand, Afrika Selatan, dan Indonesia.


"Dengan melakukan review secara real time dan berbagi pelajaran kepada dunia, ketiga negara tersebut (Thailand, Afrika Selatan, Indonesia), telah mencerminkan cetak biru bagaimana negara dapat menekan COVID-19 dan memutus rantai penularan," jelas Tedros.


"Saya mendorong semua negara untuk belajar dari Thailand, Afrika Selatan dan Indonesia untuk bekerja menekan virus ini hari ini. Kita bisa menyelamatkan nyawa dan mengakhiri pandemi ini bersama-sama," kata Tedros.

https://kamumovie28.com/movies/riders-of-destiny/

Dokter Ungkap 3 Fase Umum Saat Tangani Pasien COVID-19

 Angka pasien sembuh COVID-19 di Indonesia terus meningkat. Bahkan per 13 November 2020, jumlahnya mencapai 385.094. Adapun peningkatan ini tentunya merupakan hasil kerja sama dari seluruh pihak, terutama tenaga kesehatan.

Dokter Kepala Instalasi Gawat Darurat salah satu rumah sakit di Jakarta dr. Gia Pratama Putra mengatakan ada 3 fase yang harus dihadapi selama menangani pasien COVID-19. Di fase pertama, dokter harus meyakinkan pasien positif COVID-19 bahwa penyakit ini bisa dilalui. Hal ini mengingat keyakinan berperan penting dalam proses penyembuhan.


"Keyakinan akan kesembuhan adalah 50% kesembuhan. Virus ini sebenarnya bisa kalah dengan daya tahan tubuh kita sendiri. Jadi biarkanlah bapak ibu, tidak usah fokus pada penyakitnya. Biarkan dokter-dokter kita yang fokus pada penyakitnya. Bapak ibu fokuslah menjaga diri dan kesehatan," katanya dikutip dari situs covid.go.id, Sabtu (14/11/2020).


Hal tersebut ia sampaikan dalam acara Dialog Juru Bicara Pemerintah dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru yang digelar Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) bertema 'Antara Pengobatan dan Pencegahan: Pilih Mana?', Jumat (13/11/2020).

https://kamumovie28.com/movies/tenacious-d-in-the-pick-of-destiny/


Selanjutnya di fase kedua, dokter harus memberi semangat saat pasien menjalani isolasi. Adanya larangan pasien untuk bertemu keluarga atau teman membuat dokter harus bisa memposisikan diri menjadi keluarga kedua pasien.


Selanjutnya di fase ketiga, dokter harus dihadapkan dengan dua kemungkinan antara lain kesembuhan pasien dan hasil yang tidak diinginkan yakni, meninggalnya pasien COVID-19. Oleh karena itu, dr. Gia mengimbau agar masyarakat mencegah penyakit dibading mengobati.


"Jadi, cara kita menurunkan risiko infeksi adalah menurunkan jumlah virus. Caranya melakukan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan) dan meningkatkan imunitas tubuh. Cara meningkatkan imunitas ini ada tiga, yang pertama memenuhi kebutuhan nutrisi yang cukup dan baik. Artinya sayur dan buah harus dikonsumsi setiap hari," ungkapnya.


dr. Gia juga menyarankan setelah beraktivitas, sangat penting untuk mengistirahatkan tubuh. Ia mengatakan dalam satu hari tubuh perlu mendapatkan istirahat selama 6 - 7 jam.


"Kedua, istirahat yang cukup. Penelitian terbaru mengatakan, manusia itu idealnya tidur 6-7 jam, tidur sebelum jam 11 malam dan bangun sebelum jam 5 pagi, itu yang paling baik. Terakhir, olahraga rutin. Ini banyak yang tidak dilakukan di saat kita bekerja dari rumah. Padahal ada banyak olahraga yang bisa dilakukan di dalam rumah," paparnya.


Masyarakat juga sebaiknya melakukan deteksi dini gejala penyakit COVID-19. Pasalnya, upaya ini sangat membantu meringankan gejala COVID-19 agar tidak semakin memburuk.


"Saya ingin teman-teman atau masyarakat semua datang ke rumah sakit, justru ketika kondisinya belum parah. Kalau masih fase-fase awal, dahak belum kental, itu pakai obat pengencer dahak saja tidak akan menyumbat paru-paru. Jadinya tidak akan menyebabkan pneumonia parah. Selain itu sekarang tes swab juga sudah semakin cepat, dalam sehari dua hari sudah bisa diterima hasilnya. Harganya juga semakin terjangkau," pungkasnya.


Menjaga kesehatan memang merupakan hal penting. Oleh karena itu, mari selalu #ingatpesanibu untuk selalu melakukan 3M yaitu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan dan #cucitanganpakaisabun sesuai imbauan #satgascovid19.

https://kamumovie28.com/movies/destiny/