Senin, 23 November 2020

Pfizer-Moderna Klaim 90 Persen Efektif, Bagaimana Vaksin COVID-19 Sinovac?

 Sejumlah kandidat vaksin COVID-19, seperti buatan Pfizer, Moderna, dan Gamaleya (sputnik V) telah melaporkan perkembangan uji klinis dengan efektivitas 90 persen lebih. Lantas bagaimana dengan vaksin COVID-19 Sinovac?

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan, saat ini vaksin COVID-19 Sinovac sedang menjalani uji klinis tahap 3 di Bandung dan masih perlu melewati berbagai proses untuk mengetahui tingkat efikasi atau kemanjurannya.


"Terkait masalah efikasi, inilah yang masih proses sekarang. Nanti ini juga akan melalui berbagai rangkaian tes kepada subjek tersebut dan kami belum bisa menyampaikan hasilnya, karena ini masih dalam proses," kata Honesti dalam konferensi pers di YouTube BPOM, Kamis (19/11/2020).


Meski begitu, Honesti berharap, pada minggu pertama Januari 2021 hasil data interim uji klinis tahap 3 vaksin COVID-19 Sinovac dapat selesai dan dilaporkan ke BPOM, sehingga nantinya bisa mendapatkan izin emergency use of authorization (EUA) atau penggunaan darurat.


"Mungkin nanti sekitar bulan Januari di minggu pertama dalam interim report yang akan kami laporkan ke BPOM, kita akan bisa mengetahui hasilnya," harapnya.


Dalam perkembangan terakhirnya, Honesty melaporkan, saat ini sudah ada 1.602 relawan yang mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 Sinovac di Bandung. "Dan 1.523 orang yang saat ini sedang dalam proses monitoring, ini akan memakan waktu sekitar lebih kurang 6 bulan," ujarnya.


Berapa tingkat efikasi minimum untuk mendapat EUA?


Kepala BPOM Penny K Lukito mengatakan, dalam kesepakatan bersama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berbagai otoritas pengawas obat lainnya, minimum efikasi untuk pemberian izin EUA vaksin COVID-19 adalah 50 persen.


"Jadi ada 50 persen saja itu sudah bisa dianggap efikasinya baik dalam masa pandemi ini. Umumnya itu 70 persen, ini 50 persen. Jadi, memang ada kemudahan untuk masa pandemi ini," jelas Penny dalam kesempatan yang sama.

https://tendabiru21.net/movies/intimacy/


Perkembangan Terbaru Uji Klinis Vaksin COVID-19, Pfizer hingga AstraZeneca


Hingga saat ini, berbagai negara masih terus berusaha untuk melakukan pengembangan vaksin COVID-19. Beberapa kandidat yang disebut cukup menjanjikan antara lain Pfizer, Moderna, Sinovac, Sputnik V, dan AstraZeneca.

Bahkan beberapa di antaranya dilaporkan sudah mencapai efikasi hingga di atas 90 persen. Hingga saat ini, vaksin mana yang paling potensial?


Dikutip dari berbagai sumber, berikut update terkini soal vaksin virus Corona yang tengah dikembangkan saat ini.


1. Pfizer

Beberapa waktu lalu Pfizer mengumumkan vaksin COVID-19 buatannya bersama BioNTech yaitu BNT162b2, menunjukkan efektivitas 95 persen di hasil uji klinis tahap akhirnya. Sementara itu, izin penggunaan daruratnya akan didaftarkan dalam beberapa hari ke depan.


Vaksin ini berbasis teknologi messenger RNA (mRNA), yang menggunakan gen sintesis yang lebih mudah diciptakan sehingga membuatnya bisa diproduksi lebih cepat. BNT162b2 ini dibuat dari virus yang tidak aktif atau dilemahkan. Virus ini tidak akan menyebabkan sakit, tetapi mengajari imun untuk memberikan respon perlawanan.


Terkait kemanjurannya atau efikasi, vaksin BNT162b2 ini menunjukkan konsistensi di sebaran demografi umur dan etnis. Bahkan hal ini berlaku pada kelompok usia di atas 65 tahun yang efikasinya mencapai 94 persen.


Dari segi efek samping, sampai saat ini belum ada laporan yang menunjukkan adanya efek yang serius. Dikutip dari Reuters, sebanyak 3,8 persen relawannya mengalami kelelahan setelah menerima suntikan kedua pada uji klinis tahap 3. Ini merupakan data terbaru dari hasl analisis 8.000 relawan uji coba, yang sebelumnya hanya 6.000 relawan.


Selain itu, dari analisis terbarunya juga sebanyak 2 persen relawan vaksin Corona buatan Pfizer ini mengalami sakit kepala usai diberikan suntikan kedua.


Untuk harganya, kepala strategis perusahaan bioteknologi Jerman Ryan Richardson mengatakan akan ditetapkan di bawah harga pasar. Tetapi, Juli lalu, vaksin Corona Pfizer ini dijual kepada pemerintah AS dengan perkiraan biaya $ 19,50 per suntikan atau sekitar Rp 275 ribu per dosis.

https://tendabiru21.net/movies/angels-of-sex/

1 Dari 10 Anak di Jateng Menikah Dini, Human Trafficking?

  Angka perkawinan anak di Jawa Tengah ternyata masih cukup tinggi. Setidaknya tercatat sekitar 10 persen anak di Jateng menikah muda.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Jawa Tengah Retno Sudewi mengatakan Provinsi Jawa Tengah yang berpenduduk 34,7 juta (berdasar data BPS tahun 2019), sepertiganya adalah anak-anak. Jumlah usia anak ini menjadi lebih besar ketika UU No.16 tahun 2019 tentang perubahan atas UU No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan disahkan, karena batasan usia nikah bagi laki-laki dan perempuan harus 19 tahun.


"Angkanya untuk Jawa Tengah terdapat 10,2 persen yang menikah pada usia anak. Ini banyak terjadi di Jepara, Pati, Blora, Grobogan, Cilacap, Brebes, Banjarnegara, dan Purbalingga. Penyebanya adalah faktor ekonomi atau kemiskinan, faktor sosial budaya masyarakat, pendidikan, dan hamil di luar nikah. Angka perwakinan anak termasuk tinggi," kata Retno Sudewi dalam siaran pers webinar 'Gerakan Bersama Jo Kawin Bocah: Upaya Pencegahan Perkawinan Anak di Jawa Tengah' yang diterima detikcom, Kamis (19/11/2020).


Pada tahun 2019, lanjut Retno, jumlah pernikahan anak laki-laki 1.377 dan perempuan 672. Setelah terbit undang-undang yang baru, hingga September 2020 jumlah anak laki-laki yang menikah ada 1.070 anak dan perempuan 7.268 anak.

https://tendabiru21.net/movies/sex-and-the-future/


"Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak melakukan gerakan masif agar kawin bocah tercegah. Di sini harus ada sinergi antara pemerintah, komunitas, dunia usaha, akademisi, dan media," ujarnya.


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pernikahan dini anak salah satunya dari keluarga dan ekonomi. Salah satu contohnya yang menimpa Ratna (nama samaran) di Kabupaten Rembang. Gadis 14 tahun dari keluarga miskin itu nyaris dinikahkan dengan pria yang merupakan juragan kapal.


"Kami juga berusaha mengetahui apakah pernikahan itu karena paksaan ataukah hal-hal tertentu lainnya," kata Abdul Baastid, salah satu pendamping Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) di Rembang.


Ia menjelaskan semula kedua orang tua Ratna mengaku, anaknya dan calon suaminya sudah pacaran. Kemudian adapula kabar soal mahar Rp 150 juta.


"Ketika ada kabar mahar Rp 150 juta, saya kemudian menduga ini ada unsur human trafficking. Namun ketika saya bertanya ke Polresta Rembang, unsur human trafficking itu belum bisa dikenakan apabila belum terjadi pembayaran. Nah, jika sudah ada pembayaran berarti kan sudah menikah. Itu sama dengan terlambat. Kami lalu berusaha mencari cara lain menyelamatkan Ratna lebih jauh," tutur Baastid.


Meski mahar belum diberi, tapi Tim Puspaga Kabupaten Rembang menemukan fakta yang kuat Ratna benar-benar belum mau menikah dan masih ingin melanjutkan sekolah. Dengan alasan tersebut maka rencana pernikahan yang sudah disusun pun akhirnya batal.


"Ratna kemudian melanjutkan sekolahnya. Sekarang ia duduk di kelas 11 di Madrasah Aliyah. Dia tinggal di pesantren. Biaya sekolah dan di pesantren ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Rembang. Bahkan para donatur pun ada yang sanggup membiayai," ujar Baastid.


Child Protection Officer UNICEF Indonesia Derry Ulum menjelaskan, berdasarkan data proyeksi BPS di tahun 2018, sebanyak 30 persen dari total jumlah penduduk di Indonesia adalah anak-anak atau sekitar 79,55 juta jiwa.


"Dari data laporan BPS juga diketahui, pada tahun 2019, satu dari sembilan anak perempuan usia 20-24 tahun menikah sebelum usia 18 tahun. Sementara untuk anak laki-laki, satu dari 100 anak mengaku menikah di bawah usia 18 tahun," kata Derry.


"Tentunya ini yang tercatat atau terdata. Belum bisa dibayangkan mereka yang menikah siri atau tidak tercatatkan," imbuhnya.

https://tendabiru21.net/movies/lady-bird/