Jumat, 08 Januari 2021

Update Efektivitas Vaksin Sinovac: Brasil 78 Persen-Turki 91 Persen

 Efektivitas vaksin Sinovac dinyatakan 78 persen. Hasil tersebut berdasarkan hasil uji coba tahap akhir vaksin Corona Sinovac di Brasil. Detail hasil data disebut telah dikirimkan ke Anvisa, pusat biomedis Brasil, mitra penelitian dan produksi vaksin Corona Sinovac.

"Vaksin itu 78 persen efektif dalam mencegah kasus ringan COVID-19 dan 100 persen efektif melawan infeksi parah dan sedang," kata Dimas Covas, direktur Butantan Institute yang bermitra dengan Sinovac, dikutip dari laman Bloomberg.


Meski efektivitas vaksin Sinovac kurang dari 95 persen, tidak seperti vaksin COVID-19 mRNA Pfizer dan Moderna, vaksin ini bisa disimpan dalam suhu lemari es normal. Otorisasi penggunaan darurat tengah diajukan ke regulator Brasil, Anvisa, pada hari Jumat.


Anvisa, memiliki waktu sekitar 10 hari untuk menganalisis permintaan izin penggunaan darurat vaksin Corona Sinovac. Uji coba di Brasil melibatkan sekitar 220 peserta, 160 di kelompok plasebo dan 60 di antara mereka menerima vaksin Corona Sinovac.


Sebelumnya, efektivitas vaksin Sinovac di Turki menunjukkan vaksin efektif 91,25 persen melawan infeksi Corona.


Dikutip dari laman Reuters, peneliti Turki mengatakan pada Kamis (24/12/2020) lalu tidak ada efek samping yang terlihat selama uji klinis, selain dari satu orang yang memiliki reaksi alergi. Efek samping yang umum disebabkan oleh vaksin tersebut adalah demam, nyeri ringan dan sedikit kelelahan.


"Kami yakin akan efek vaksin itu. Kami sekarang yakin bahwa vaksin itu efektif dan aman untuk rakyat Turki," kata Menteri Kesehatan Turki Fahrettin Koca pada konferensi pers.

https://tendabiru21.net/movies/the-lady-in-the-car-with-glasses-and-a-gun/


Kasus COVID-19 China Meledak Lagi, China Lockdown 11 Juta Orang


 Dalam mencegah penyebaran virus Corona, China lagi-lagi memberlakukan lockdown terhadap 11 juta orang di kota utara Shijiazhuang, Provinsi Hebei, China. Lockdown diberlakukan usai lebih dari 100 kasus Corona dikonfirmasi di sana. Masyarakat kini dilarang meninggalkan kota tersebut dan sekolah pun ditutup.

Dikutip dari BBC, lebih dari 5.000 lokasi pengujian disiapkan untuk menguji masyarakat di sana. Jumlah kasus baru tersebut menjadi yang tertinggi yang pernah terjadi di China dalam 5 bulan terakhir.


Kenaikan kasus ini mendorong dilakukannya pengujian massal secara konsisten saat kelompok kasus baru muncul, meskipun relatif kecil.


Pada Kamis (7/1/2021), Provinsi Hebei melaporkan 120 kasus baru dan hampir semuanya berasal dari kota tersebut, satu di antaranya ada di tempat lain.


Akibatnya, seluruh masyarakat yang ada di distrik Gaocheng, Shijiazhuang, tidak diizinkan meninggalkan daerah tersebut. Hal ini karena mereka dianggap sebagai pusat penyebaran virus Corona yang terjadi di daerah tersebut.


Selain itu, transportasi di sana juga dibatasi, seperti perjalanan bus dan penerbangan banyak yang dibatalkan. Bahkan layanan pos ditangguhkan selama tiga hari.


Pembatasan ini diberlakukan dengan ketat, terlihat banyak polisi dengan pakaian pelindung yang menjaga pintu masuk ke jalan tol. Menurut surat kabar milik pemerintah China Daily, tiga pejabat di distrik Gaocheng di Shijiazhuang telah dihukum karena "kelalaian".


"Desa harus mengidentifikasi, melaporkan, mengisolasi, dan merawat kasus sedini mungkin untuk menghentikan penularan," jelas Wu Hao yang merupakan pejabat kesehatan nasional setempat.


Tak hanya itu, lima rumah sakit di Shijiazhuang juga telah disiapkan untuk pasien COVID-19. Menurut Wakil Walikota Meng Xianghong, tiga di antaranya sudah siap digunakan.

https://tendabiru21.net/movies/appropriate-behavior/

Sudah Siap Vaksinasi COVID-19? Ini Syarat Penerima Vaksin Corona

 Vaksinasi COVID-19 tahap awal di Indonesia akan mulai dilaksanakan pada 13 Januari mendatang. Lantas apa saja syarat penerima vaksin Corona?

Dalam prosesnya, sejumlah kelompok prioritas penerima vaksin Corona telah ditentukan oleh pemerintah. Misalnya, pada tahap awal (Januari-April 2021) penyuntikan vaksin Corona akan diberikan pada kelompok, seperti tenaga kesehatan, pejabat publik, dan sejumlah tokoh agama di daerah.


Namun, tak semua orang dari kelompok tersebut dapat disuntik vaksin Corona. Pasalnya, salah satu syarat penerima vaksin Corona adalah tubuh harus dalam kondisi sehat.


"Jadi syaratnya yang pertama kita harus sehat. Sehat secara umum, artinya bukan berarti harus 100 persen fit atau harus tidurnya cukup. Nggak. Yang penting sedang tidak sakit," kata vaksinolog dr Dirga Sakti Rambe, MSc, SpPD, dari OMNI Hospitals Pulomas, dalam diskusi virtual Forum Merdeka Barat 9 di YouTube beberapa waktu lalu.


Dijelaskan dr Dirga, nantinya calon penerima vaksin Corona akan dicek terlebih dahulu kondisi kesehatannya apakah layak untuk menerima vaksin atau tidak.


Sejumlah syarat penerima vaksin Corona pun telah direkomendasikan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Di antaranya sebagai berikut, dikutip dari Juknis Kemenkes RI.

https://tendabiru21.net/movies/moms-friend-2/


Jika tekanan darah di atas 140/90 mmHg, vaksin Corona tidak diberikan.

Jika pernah mengidap COVID-19, ibu hamil atau menyusui, mengidap gejala ISPA dalam tujuh hari terakhir, memiliki riwayat alergi berat, penyakit ginjal, rematik, sakit saluran pencernaan kronis, vaksin Corona tidak diberikan.

Bagi yang mengidap penyakit diabetes melitus DM tipe 2 terkontrol dan HbA1C di bawah 58 mmol/mol atau 7,5 persen, vaksinasi tidak diberikan.

Lalu, apabila suhu badan penerima vaksin sedang demam (di atas 37,5 derajat Celcius) disarankan vaksinasi ditunda terlebih dahulu. Begitu pula dengan pasien yang pernah mengidap penyakit paru.

Selain syarat penerima vaksin Corona harus dalam kondisi sehat, orang yang memiliki penyakit komorbid tertentu juga tidak disarankan untuk menerima vaksin. Penyakit komorbid apa saja yang belum layak mengikuti vaksinasi COVID-19? Klik halaman selanjutnya.


Berikut penyakit komorbid yang belum layak menerima vaksin Corona atas rekomendasi PAPDI, khususnya pada vaksin Corona buatan Sinovac.

1. Penyakit Autoimun Sistemik (SLE, Sjogren, vaskulitis, dan autoimun lainnya)


2. Sindrom Hiper IgE


3. Pasien dengan infeksi akut


Pasien dengan kondisi penyakit infeksi akut yang ditandai dengan demam yang menjadi kontraindikasi vaksinasi.


4. PGK (penyakit ginjal kronis) dialisis, PGK non dialisis, tranlsplantasi ginjal, sindrom nefrotik dengan imunosupresan/kortikosteroid


Saat ini, pemberian vaksin belum direkomendasikan pada pasien PGK non dialisis, PGK dialisis, resipien transplantasi, dan sindroma nefrotik yang menerima imunosupresan/ kortikosteroid.


5. Hipertensi


Beberapa uji klinis dari sejumlah vaksin Corona telah meneliti pasien dengan hipertensi. Namun, populasi ini belum direkomendasikan mendapat vaksin Corona karena belum ada rekomendasi dari tim uji klinis vaksin yang dilakukan di Indonesia. Rekomendasi berikutnya menunggu hasil uji klinis di Bandung.


6. Gagal jantung


7. Penyakit jantung koroner


8. Rematik autoimun


9. Penyakit-penyakit gastrointestinal


10. Hipertiroid/hipotiroid karena autoimun


11. Kanker


Pasien kanker, kelainan hematologi seperti gangguan koagulasi, pasien imunokompromais, pasien dalam terapi aktif kanker, pemakai obat imunosupresan, dan penerima produk darah belum layak mendapatkan vaksin Corona.


12. Pasien hematologi onkologi


Studi klinis Sinovac tidak melibatkan pasien dengan kondisi tersebut. Dengan tidak adanya data pada kelompok tersebut, maka belum dapat dibuat rekomendasi terkait pemberian vaksin Sinovac pada kelompok ini.


Selain kriteria syarat penerima vaksin Corona di atas, vaksinasi COVID-19 bisa dilakukan pada pasien dalam kondisi sehat.

https://tendabiru21.net/movies/an-affair-my-friends-mom/