Senin, 12 April 2021

3 Vaksin Ini Tak Manjur untuk Varian Corona 'Raja' Afsel, Pfizer Termasuk

 Meski terbukti ampuh melawan varian Corona B117 yang marak menyebar dari Inggris ke sejumlah negara, studi baru vaksin Pfizer menunjukkan efektivitas menurun terhadap Corona B1351. Varian yang disebut 'raja' oleh para ilmuwan memang kerap dikhawatirkan bisa mengelabui antibodi pasca divaksin.

Selain vaksin Corona Pfizer, berikut beberapa vaksin yang terbukti tak ampuh melawan varian raja Corona B1351, dirangkum detikcom dari berbagai sumber.


1. Vaksin AstraZeneca

Studi vaksin Corona AstraZeneca yang dimuat di New England Journal of Medicine (NEJM) menunjukkan efikasi vaksin mereka terhadap varian Corona raja B1351 hanya mencapai 10,4 persen.


Analisis didapatkan dari 2.026 relawan usia 18-59 tahun, dibagi menjadi dua kelompok, penerima plasebo dan penerima vaksin. Ada 23 dari 717 orang di kelompok plasebo terkena COVID-19.


Sementara penerima vaksin Corona, ada 19 yang tekena COVID-19 dari dari 750 relawan. Meski efikasi umum yang didapat 21,9 persen, total 42 kasus yang terinfeksi COVID-19, 92,9 persen di antaranya Corona B1351.


Maka dari itu, efikasi vaksin Corona yang didapatkan 10,4 persen.


2. Vaksin Sputnik V

Vaksin Corona besutan Rusia tampaknya kurang efektif melawan Corona B1351. Ilmuwan AS menggunakan sampel darah pasien Argentina untuk melihat bagaimana antibodi mereka terhadap varina Afrika Selatan usai vaksinasi Sputnik V.


Ditemukan, antibodi menurun hingga berkali lipat dalam melawan varian Corona B1351 hingga mutasi E484K yang baru-baru ini menyebar ke Brasil, AS, hingga Jepang.


"Antibodi dari penerima vaksin Sputnik di Argentina memiliki rata-rata penurunan 6,1 kali lipat dan 2,8 kali lipat dalam melawan B1351 dan mutasi Corona E484K," kata peneliti dalam sebuah studi yang meneliti 12 kasus.


3. Vaksin Pfizer

Studi Universitas Tel Aviv dan Clalit menunjukkan vaksin Pfizer kurang efektif melawan varian Corona Afrika Selatan B1351. Penelitian dilakukan pada 400 orang yang positif Corona dan sudah divaksinasi, dan 400 relawan lain sudah divaksinasi tetapi tak positif Corona.


Studi tersebut menemukan kasus positif Corona didominasi Corona B1351 meski sudah divaksinasi. "Ini menunjukkan vaksin itu kurang efektif terhadap varian Afrika Selatan, dibandingkan dengan virus Corona asli dan varian yang pertama kali diidentifikasi di Inggris yang mencakup hampir semua kasus COVID-19 di Israel," kata para peneliti.

https://indomovie28.net/movies/nightmare-side-delusional/


Vaksinasi COVID-19 Tak Batalkan Puasa! Perhatikan Hal Ini Sebelum Disuntik


Juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan program vaksinasi tetap berjalan termasuk di bulan Ramadhan. Hal ini lantaran vaksin tidak membatalkan puasa.

"Vaksin tidak membatalkan puasa dan bisa dilakukan bagi umat muslim yang sedang berpuasa," katanya saat konferensi pers daring, Senin (12/4/2021).


Ketentuan ini sesuai dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang Hukum Vaksinasi COVID-19 Saat Berpuasa. Berdasarkan fatwa tersebut, vaksin tidak membatalkan puasa.


Nadia menerangkan vaksinasi akan tetap dilanjutkan di bulan Ramadhan. Pelaksanaannya bisa dilakukan di siang hari maupun malam hari selama tidak mengganggu ibadah di bulan puasa.


Tidak ada persiapan khusus bagi yang akan mendapatkan vaksinasi di bulan puasa, namun masyarakat tetap diingatkan untuk menjaga kesehatan sebelum pelaksanaan vaksinasi, termasuk istirahat yang cukup.


"Kita tahu kondisi tubuh tidak akan berpengaruh saat vaksinasi meski saat puasa. Yang perlu kita perhatikan bahwa harus mengupayakan istirahat cukup dan saat sahur makan makanan bergizi, jangan lupa minum dengan aturan yang ditentukan," pungkasnya.

https://indomovie28.net/movies/bequest-to-the-nation/

China Akui Vaksin Corona Buatannya Kurang Manjur, Berapa Sih Efikasinya?

 Pejabat China baru-baru ini mengakui vaksin yang mereka kembangkan tidak memiliki efikasi atau tingkat kemanjuran yang tinggi terhadap virus Corona. China tengah mengambil langkah untuk mengoptimalkan vaksin termasuk mengubah dosis dan jarak pemberiannya.

"Vaksin yang tersedia saat ini tidak memiliki perlindungan yang sangat tinggi," kata Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit China, Gao Fu, dikutip dari Reuters.


China sendiri telah mengembangkan sekitar empat vaksin COVID-19 yang penggunaannya telah disetujui oleh publik. Namun hanya dua vaksin yang sampai saat ini diekspor keluar negeri yakni Sinovac dan Sinopharm.


Vaksin Corona yang dikembangkan oleh Sinovac Biotech memiliki hasil efikasi sedikit di atas 50 persen dalam uji klinis yang dilakukan di Brasil. Di Indonesia, hasil efikasi vaksin Sinovac sebesar 64 persen dan Turki menyebut vaksin COVID-19 buatan Sinovac manjur 83 persen.


Sementara untuk Sinopharm, belum ada data efikasi yang rinci yang mereka rilis. Namun dua unit vaksin yang dikembangkan Sinopharm masing-masing memiliki tingkat kemanjuran 79,4 persen dan 72,5 persen berdasarkan hasil sementara.


"Data uji tingkat perlindungan vaksin global sama-sama tinggi dan rendah. Bagaimana meningkatkan tingkat perlindungan vaksin adalah masalah yang perlu dipertimbangkan oleh para ilmuwan global," kata Gao.

https://indomovie28.net/movies/the-assistant/


3 Vaksin Ini Tak Manjur untuk Varian Corona 'Raja' Afsel, Pfizer Termasuk


Meski terbukti ampuh melawan varian Corona B117 yang marak menyebar dari Inggris ke sejumlah negara, studi baru vaksin Pfizer menunjukkan efektivitas menurun terhadap Corona B1351. Varian yang disebut 'raja' oleh para ilmuwan memang kerap dikhawatirkan bisa mengelabui antibodi pasca divaksin.

Selain vaksin Corona Pfizer, berikut beberapa vaksin yang terbukti tak ampuh melawan varian raja Corona B1351, dirangkum detikcom dari berbagai sumber.


1. Vaksin AstraZeneca

Studi vaksin Corona AstraZeneca yang dimuat di New England Journal of Medicine (NEJM) menunjukkan efikasi vaksin mereka terhadap varian Corona raja B1351 hanya mencapai 10,4 persen.


Analisis didapatkan dari 2.026 relawan usia 18-59 tahun, dibagi menjadi dua kelompok, penerima plasebo dan penerima vaksin. Ada 23 dari 717 orang di kelompok plasebo terkena COVID-19.


Sementara penerima vaksin Corona, ada 19 yang tekena COVID-19 dari dari 750 relawan. Meski efikasi umum yang didapat 21,9 persen, total 42 kasus yang terinfeksi COVID-19, 92,9 persen di antaranya Corona B1351.


Maka dari itu, efikasi vaksin Corona yang didapatkan 10,4 persen.


2. Vaksin Sputnik V

Vaksin Corona besutan Rusia tampaknya kurang efektif melawan Corona B1351. Ilmuwan AS menggunakan sampel darah pasien Argentina untuk melihat bagaimana antibodi mereka terhadap varina Afrika Selatan usai vaksinasi Sputnik V.


Ditemukan, antibodi menurun hingga berkali lipat dalam melawan varian Corona B1351 hingga mutasi E484K yang baru-baru ini menyebar ke Brasil, AS, hingga Jepang.


"Antibodi dari penerima vaksin Sputnik di Argentina memiliki rata-rata penurunan 6,1 kali lipat dan 2,8 kali lipat dalam melawan B1351 dan mutasi Corona E484K," kata peneliti dalam sebuah studi yang meneliti 12 kasus.

https://indomovie28.net/movies/the-hateful-eight/