Senin, 12 April 2021

China Akui Vaksin Corona Buatannya Kurang Manjur, Berapa Sih Efikasinya?

 Pejabat China baru-baru ini mengakui vaksin yang mereka kembangkan tidak memiliki efikasi atau tingkat kemanjuran yang tinggi terhadap virus Corona. China tengah mengambil langkah untuk mengoptimalkan vaksin termasuk mengubah dosis dan jarak pemberiannya.

"Vaksin yang tersedia saat ini tidak memiliki perlindungan yang sangat tinggi," kata Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit China, Gao Fu, dikutip dari Reuters.


China sendiri telah mengembangkan sekitar empat vaksin COVID-19 yang penggunaannya telah disetujui oleh publik. Namun hanya dua vaksin yang sampai saat ini diekspor keluar negeri yakni Sinovac dan Sinopharm.


Vaksin Corona yang dikembangkan oleh Sinovac Biotech memiliki hasil efikasi sedikit di atas 50 persen dalam uji klinis yang dilakukan di Brasil. Di Indonesia, hasil efikasi vaksin Sinovac sebesar 64 persen dan Turki menyebut vaksin COVID-19 buatan Sinovac manjur 83 persen.


Sementara untuk Sinopharm, belum ada data efikasi yang rinci yang mereka rilis. Namun dua unit vaksin yang dikembangkan Sinopharm masing-masing memiliki tingkat kemanjuran 79,4 persen dan 72,5 persen berdasarkan hasil sementara.


"Data uji tingkat perlindungan vaksin global sama-sama tinggi dan rendah. Bagaimana meningkatkan tingkat perlindungan vaksin adalah masalah yang perlu dipertimbangkan oleh para ilmuwan global," kata Gao.

https://indomovie28.net/movies/the-assistant/


3 Vaksin Ini Tak Manjur untuk Varian Corona 'Raja' Afsel, Pfizer Termasuk


Meski terbukti ampuh melawan varian Corona B117 yang marak menyebar dari Inggris ke sejumlah negara, studi baru vaksin Pfizer menunjukkan efektivitas menurun terhadap Corona B1351. Varian yang disebut 'raja' oleh para ilmuwan memang kerap dikhawatirkan bisa mengelabui antibodi pasca divaksin.

Selain vaksin Corona Pfizer, berikut beberapa vaksin yang terbukti tak ampuh melawan varian raja Corona B1351, dirangkum detikcom dari berbagai sumber.


1. Vaksin AstraZeneca

Studi vaksin Corona AstraZeneca yang dimuat di New England Journal of Medicine (NEJM) menunjukkan efikasi vaksin mereka terhadap varian Corona raja B1351 hanya mencapai 10,4 persen.


Analisis didapatkan dari 2.026 relawan usia 18-59 tahun, dibagi menjadi dua kelompok, penerima plasebo dan penerima vaksin. Ada 23 dari 717 orang di kelompok plasebo terkena COVID-19.


Sementara penerima vaksin Corona, ada 19 yang tekena COVID-19 dari dari 750 relawan. Meski efikasi umum yang didapat 21,9 persen, total 42 kasus yang terinfeksi COVID-19, 92,9 persen di antaranya Corona B1351.


Maka dari itu, efikasi vaksin Corona yang didapatkan 10,4 persen.


2. Vaksin Sputnik V

Vaksin Corona besutan Rusia tampaknya kurang efektif melawan Corona B1351. Ilmuwan AS menggunakan sampel darah pasien Argentina untuk melihat bagaimana antibodi mereka terhadap varina Afrika Selatan usai vaksinasi Sputnik V.


Ditemukan, antibodi menurun hingga berkali lipat dalam melawan varian Corona B1351 hingga mutasi E484K yang baru-baru ini menyebar ke Brasil, AS, hingga Jepang.


"Antibodi dari penerima vaksin Sputnik di Argentina memiliki rata-rata penurunan 6,1 kali lipat dan 2,8 kali lipat dalam melawan B1351 dan mutasi Corona E484K," kata peneliti dalam sebuah studi yang meneliti 12 kasus.

https://indomovie28.net/movies/the-hateful-eight/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar