Selasa, 13 April 2021

Nahas, Bocah 12 Tahun Tewas Usai Ponsel Meledak di Wajahnya

 Seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun dilaporkan tewas saat baterai ponselnya meledak mengenai wajahnya. Peristiwa nahas tersebut terjadi di desa Matwar, Halia, India.

Dilansir detiKINET dari Times Now News, bocah yang diketahui bernama Monu ini saat kejadian tengah mencoba menguji daya baterainya menggunakan charger Jadoo.


Ia memasukkan dan menjepit baterai ponselnya menggunakan pengisi daya tersebut. Satu jam kemudian, dia memutuskan untuk memeriksa daya dengan menyentuhnya dan dalam waktu cepat baterainya langsung meledak hingga merobek wajahnya.


Siswa kelas enam ini dikabarkan langsung meninggal di tempat kejadian karena luka yang parah di bagian wajahnya.


Mendengar ledakan tersebut anggota keluarga bergegas ke kamar Monu dan menemukannya sudah terbaring tak berdaya penuh darah. Monu segera dibawa ke rumah sakit di Matwar namun sayang nyawanya tak terselamatkan. Keluarga Monu telah melakukan upacara kremasi tanpa memberitahukan kejadian ini kepada pihak polisi.


Kejadian semacam ini di India bukan kali ini saja terjadi. Insiden ponsel meledak hingga menewaskan pengguna juga terjadi pada tahun 2019 di mana seorang pria tewas saat ponsel meledak di saku celananya.


Saat itu ia sedang tertidur. Istri korban memberitahu polisi bahwa peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 02.30. Pria itu menderita luka bakar yang parah dalam ledakan tersebut.


Di tahun 2019 lainnya, seorang pria di Odisha meninggal setelah ponselnya meledak saat mengisi daya. Korban yang diidentifikasi sebagai Kuna Pradhan itu bekerja sebagai buruh bangunan di Paradip.


Ponsel itu meledak saat dia pergi tidur setelah menyalakan ponsel di malam hari. Masalah ini terungkap setelah pekerja lain yang tidur di dekatnya melihat asap di dalam kamarnya. Para saksi mata menemukan pria tersebut tewas dengan wajah dan bagian tubuh lainnya hangus.

https://nonton08.com/movies/hardcore-comedy/


Tim Cook Buka-bukaan Soal Masa Depannya di Apple


- Tim Cook sudah menjabat sebagai CEO Apple selama sepuluh tahun sejak menggantikan Steve Jobs di tahun 2011. Dalam wawancara dengan jurnalis Kara Swisher, Cook pun buka-bukaan soal masa depannya di Apple.

Setelah menghabiskan satu dekade sebagai pemimpin Apple, Cook mengatakan sepertinya ia tidak akan bertahan di posisinya dalam 10 tahun ke depan.


"10 tahun lagi? Mungkin tidak," kata Cook seperti dikutip dari Business Insider, Rabu (7/4/2021).


"Saya bisa mengatakan bahwa saya merasa hebat saat ini. Dan tanggalnya belum ditetapkan. Tapi 10 tahun lagi adalah waktu yang lama, dan mungkin tidak 10 tahun lagi," imbuhnya.


Cook sudah bergabung bersama Apple selama lebih dari 20 tahun. Ia kemudian dipilih sebagai CEO setelah Steve Jobs mundur dari posisinya di tahun 2011 karena penyakit yang dideritanya.


Sejak saat itu, Cook menjadi wajah perusahaan dan memamerkan iPhone, Apple Watch serta deretan produk Apple lainnya. Ia juga memimpin Apple menjadi perusahaan dengan valuasi lebih dari USD 2 triliun.


Tapi saat ini usia Cook sudah menginjak 60 tahun. Wajar jika ia tidak ingin disibukkan lagi dengan urusan memimpin salah satu perusahaan terbesar di dunia begitu usianya menginjak 70 tahun.


Sepertinya Cook akan bertahan selama beberapa tahun lagi sambil memikirkan calon penerusnya. Tahun lalu, Bloomberg mengatakan Apple mulai memikirkan rencana suksesi dengan beberapa kandidat CEO termasuk Jeff Williams dan John Ternus.

https://nonton08.com/movies/iceman/

Badai Matahari Sering Dikaitkan Kiamat, Seperti Apa Ancamannya?

  Badai Matahari dahsyat yang melanda Bumi pada 8 Maret 1582 diperkirakan bisa terjadi lagi di abad ini. Sering dikaitkan dengan kiamat, sebenarnya seperti apa ancaman badai Matahari?

Bagi sebagian besar orang, badai Matahari terdengar menyeramkan. Apalagi fenomena ini memang dianggap sebagai salah satu ancaman dari antariksa selain sampah antariksa dan asteroid.


Dalam wawancara detikINET dengan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin di 2019, Djamal menyebutkan bahwa sebenarnya badai Matahari tidak perlu ditakutkan karena Bumi kita punya pelindung untuk menangkalnya.


"Badai Matahari sejak zaman dahulu pun sudah ada. Tapi karena Bumi punya pelindung yang kuat, Bumi aman-aman saja," ujarnya.


Dijelaskan olehnya, Bumi punya dua pelindung yang kuat, pertama adalah lapisan magnetosfer atau medan magnet yang melindungi dari partikel energetik atau berenergi tinggi berisi proton dan elektron, sehingga tidak membahayakan manusia di Bumi.


Kedua, ada lapisan ozon yang melindungi radiasi ultraviolet dari Matahari. Karena pada saat badai Matahari terjadi, terjadi peningkatan pancaran partikel energetik atau partikel berenergi dan radiasi dari Matahari.

https://nonton08.com/movies/iceman-the-time-traveler/


Belakangan, orang menjadi sangat peduli dengan fenomena badai Matahari. Bahkan pernah ketika menjelang tahun 2012, orang sempat heboh membahas badai Matahari seolah-olah sebagai penyebab terjadinya kiamat. Sebenarnya, dampak seperti apa yang ditimbulkan badai Matahari?


"Membahayakannya bukan pada kehidupan tapi bagi teknologi di antariksa. Ketika satelit-satelit itu terkena badai Matahari, dan jika proteksi satelit itu gagal mengatasinya, tentu instrumen di satelit itu rusak. Kalau satelitnya rusak, maka layanan-layanan yang memanfaatkan satelit itu akan terganggu," terang lulusan S3 Astronomi Kyoto University ini.


Jadi, meski tidak membahayakan makhluk hidup di Bumi, badai Matahari berdampak secara tidak langsung terhadap kehidupan. Pasalnya, layanan berbasis satelit sudah jadi kebutuhan manusia modern. Sebut saja untuk komunikasi, broadcasting dan komunikasi data perbankan misalnya, semua itu sangat bergantung pada satelit.


"Ketika satelit Telkom 1 mengalami gangguan di 2017 misalnya. ATM yang memanfaatkan satelit itu menjadi offline dan sekian banyak pengguna tidak bisa terlayani," Djamal memberikan contoh.


Bayangkan jika yang terkena gangguan bukan hanya satu satelit, tetapi banyak satelit, tentu akan menimbulkan kekacauan. Nah, hal inilah yang dikhawatirkan, sehingga badai Matahari menjadi perhatian.


Bagi para pembuat satelit, mereka harus bisa membuat proteksi satelit. Sementara bagi operator satelit, mereka harus bisa melakukan langkah-langkah pengamanan ketika terjadi badai Matahari ekstrem.


"Ini sesungguhnya sudah diantisipasi oleh operator satelit. Tapi dalam kondisi seperti badai Matahari ekstrem lalu sistem proteksinya mengalami kegagalan, bisa saja sistem satelitnya terganggu, itu yang dikhawatirkan. Kalau terganggu, tergantung satelit ini fungsinya apa. Apakah telekomunikasi, broadcasting, navigasi atau sekadar pemotretan, maka sistem-sistem itu yang nantinya akan terganggu," urainya.

https://nonton08.com/movies/a-windfall-trap/