Penyebab meninggalnya Pangeran Philip pada April silam tak pernah diungkap oleh Kerajaan Inggris. Namun sertifikat kematian yang beredar menyebut penyebabnya adalah 'old age' alias sudah tua.
Secara resmi, ini artinya Duke of Edinburgh meninggal setelah mengalami penurunan kesehatan yang berkaitan dengan penuaan. Tidak ada penyakit tertentu yang secara spesifik disebutkan sebagai penyebab kematian.
Namun faktanya, seseorang tidak meninggal hanya karena usia yang menua. Sel-sel tubuh memang menua, tetapi tidak serta-merta menyebabkan kematian.
Yang umum terjadi adalah, beberapa masalah medis muncul dan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Dikutip dari ABC Net Australia, berbagai masalah tersebut memicu akumulasi kerusakan, sel-sel tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri, lalu sistem imun melemah.
Berbagai masalah medis yang dimaksud bisa mencakup gangguan jantung, tekanan darah tinggi maupun rendah, maupun penyakit-penyakit neurodegeneratif seperti Parkinsons dan Alzheimers.
"Berbagai kondisi itu pada akhirnya mempengaruhi sistem-sistem penting dalam tubuh, seperti fungsi otak dan mobilitas," kata Dr Tuly Rosenfeld, pakar manula dari University of New South Wales (UNSW), dikutip dari abc.net.au.
Dicontohkan, seseorang dengan penyakit Alzheimers sering dikaitkan dengan kesulitan mengunyah dan menelan. Gangguan ini bisa menyebabkan komplikasi yang menyebabkan kematian.
"Alasan banyak lansia meninggal diam-diam dalam tidurnya adalah karena sistem menelan mereka tidak bekerja, lali makanan, cairan, liur, masuk ke paru-paru, kena pneumonia, lalu meninggal," jelasnya mencontohkan.
TMZ menyebut, menuliskan 'usia tua' sebagai penyebab kematian diperbolehkan di Inggris untuk seseorang di atas 80 tahun dan punya seorang dokter yang merawatnya bertahun-tahun. Syarat lainnya adalah tidak ada penyakit atau cendera lain yang bisa dipastikan sebagai penyebab kematian.
https://indomovie28.net/movies/kara-king/
3 Varian Corona Baru Sudah Masuk RI, Ini Sebaran Kasusnya
Kementerian Kesehatan mencatat ada 3 jenis varian virus Corona baru yang sudah masuk ke Indonesia. Varian Corona tersebut adalah B117 dari Inggris, B1351 dari Afsel, dan B1617 dari India.
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI dr Siti Nadia Tarmizi menyebut salah satu faktor terjadinya lonjakan kasus di beberapa negara adalah hadirnya varian baru COVID-19.
Salah satu jenis varian Corona yang jadi perhatian adalah B117 dari Inggris. Nadia mengatakan varian B.117 ini diketahui memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi sekitar 36 sampai 75 persen dibandingkan dengan jenis virus yang beredar sebelumnya.
"Jadi dengan surveilans kita mewaspadai penambahan kasus B. 117 dan B.1351, serta B. 1617 yang sudah masuk ke Indonesia. Hasil akhir ini sudah kita dapatkan dari hasil pemeriksaan per tanggal 30 April," ucap Nadia.
Berikut daftar 3 varian Corona baru yang terdeteksi di Indonesia dan sebarannya:
B1617
Kepulauan Riau: 1 kasus
DKI Jakarta: 1 kasus
B117
Sumatera Utara: 2 kasus
Sumatera Selatan: 1 kasus
Banten: 1 kasus
Jawa Barat: 5 kasus
Jawa Timur: 1 kasus
Bali: 1 kasus
Kalimantan Timur: 1 kasus
B1351
Bali: 1 kasus
Nadia mengimbau kepada masyarakat untuk mengurangi mobilitas untuk mencegah penularan varian Corona meluas. Situasi yang ada di Indonesia mengharuskan masyarakat untuk mematuhi betul apa yang sudah dianjurkan atau dilarang oleh pemerintah.
"Tidak ada yang menjamin bahwa dengan membawa hasil pemeriksaan laboratorium yang negatif selama dalam perjalanan ataupun selama dalam proses kita menuju kampung halaman misalnya, kita tidak terpapar COVID-19," tutur Nadia.