Selasa, 11 Mei 2021

Pria Jaktim Meninggal Usai Vaksin AstraZeneca, Ini Temuan Awal Komnas KIPI

  Trio Fauqi Virdaus, pria asal Buaran, Jakarta Timur, meninggal dunia satu hari setelah disuntik vaksin Corona AstraZeneca. Hingga saat ini penyebab meninggalnya Fauqi masih diselidiki oleh Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

Menurut Ketua Komnas KIPI Prof Hindra Hingky Irawan Satari, pihaknya masih belum mendapatkan cukup bukti terkait penyebab kematian pemuda berusia 21 tahun itu. Maka dari itu, belum bisa dipastikan apakah vaksin AstraZeneca menjadi penyebabnya atau tidak.


"Komnas bersama Komda DKI sudah audit bersama pada Jumat yang lalu, dan internal Komnas kemarin sore menyimpulkan bahwa belum cukup bukti untuk mengaitkan KIPI ini dengan imunisasi, Oleh karena itu masih perlu dilakukan investigasi lebih lanjut," kata Prof Hindra, dikutip dari laman resmi Sehat Negeriku.


Diketahui Fauqi meninggal dunia pada Kamis (6/5/2021), sekitar pukul 12.30 WIB, setelah sebelumnya mengalami gejala demam tinggi, menggigil, dan sakit kepala usai menerima vaksin AstraZeneca. Ia meninggal saat dalam perjalanan ke rumah sakit.


"Untuk mencari keterkaitan, kalau demam, menggigil, itu memang gejala vaksin lah, namun tidak menyebabkan kematian. Kalau kematian kan blood clot, pembekuan darah," tutur Prof Hindra saat dihubungi detikcom Senin (10/5/2021).


Lebih lanjut, kata Prof Hindra, pembekuan darah bisa terjadi di mana saja, baik di otak, paru-paru, perut, hingga kaki. Diketahui, Fauqi sempat mengeluhkan rasa pegal di kakinya.


"Dia ada gejala tuh kakinya pegal jadi dipijat kan. Tapi kan kalau gejala di kaki barangkali tidak menyebabkan kematian," beber Prof Hindra.


"Gejala di perut nggak ada, gejala di paru nggak sesak, gejala di susunan saraf pusat katanya dia kejang kata rekan kerjanya, tapi di rumah dibilangin sama riwayat keluarganya nggak ada riwayat kejang," lanjutnya.


Oleh karena itu, Prof Hindra mengatakan saat ini pihaknya masih menyelidiki lebih lanjut terkait kasus meninggalnya Fauqi. Pasalnya, tak mudah untuk memutuskan penyebab kematian seseorang tanpa adanya bukti yang jelas.

https://kamumovie28.com/movies/the-armed-policewoman/


COVID-19 Jogja Masih 'Stabil Tinggi', Setop Mudik kalau Belum Telanjur!


Sebaran COVID-19 selama seminggu terakhir di DIY masih stabil tinggi. Bahkan, berdasarkan zonasi dari Badan Penanggung Bencana Daerah (BPBD) DIY masih banyak zonasi yang masuk kategori merah.

Pakar Epidemiologi Riris Andono Ahmad menjelaskan untuk kondisi sebaran di DIY selama seminggu terakhir sebenarnya stabil tinggi. Meski, setahun secara kasus perhari masih mengalami fluktuasi.


"Kalau dari data ya termasuk stabil tinggi," ujar Riris, saat dihubungi detikcom, Senin (10/4/2021).


Ia mengungkapkan, kondisi COVID-19 di DIY sebenarnya mengkhawatirkan. Sebab, dari data zonasi BPBD saja, masih banyak zona yang merah dan oranye.


"Hampir merata sebenarnya (di kabupaten/kota di DIY). Zona merah dan oranye harus lebih tertib menaati protokol kesehatan," jelasnya.


Berdasarkan catatan Satgas COVID-19 DIY, selama seminggu terakhir mencapai 1.546 kasus. Sedangkan kasus meninggal sejak tanggal 1 Mei 2021 sampai Minggu (09/5) mencapai 67 kasus.


Riris menegaskan untuk sebaran di DIY mayoritas karena terjadi kerumunan. Seperti tarawih di Bantul dan layatan di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta yang terbaru.


Bahkan, untuk larangan mudik lokal itu, kata Riris, di DIY sebenarnya istilah yang tidak tepat. "Dalam kawasan aglomerasi seperti DIY, setiap hari orang melakukan mobilitas antar kabupaten untuk bekerja. Berarti kalau pakai istilah mudik lokal, setiap hari mereka melakukan mudik lokal," katanya.


Yang perlu ditekankan, lanjut Riris, adalah kerumunan dan berjabat tangan. Kedua hal tersebut wajib dijaga selama masa Lebaran agar tak terjadi penularan.


Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY Pembajun Setianingastutie menjelaskan di DIY penularan COVID-19 sebenarnya belum melandai. Makanya, setiap terjadi mobilitas penduduk seperti long weekand atau liburan, pihaknya pasti sudah bersiap-siap.


"Pasti terjadi lonjakan kasus. Makanya, kami mewanti-wanti agar prokes ini dijaga betul. Jangan sampai lalai, di rumah jika dari luar kota biasakan pakai masker," sarannya.


Sebaran di keluarga, lanjut Pembajun, menjadi yang tertinggi. Setiap terjadi kasus baru dan dilakukan tracing, keluarga selalu ada yang tertular.


"Makanya kami himbau agar jangan mudik. Karena aktivitas mudik seperti berjabat tangan, berpelukan rentan terjadi penularan," katanya.

https://kamumovie28.com/movies/sixty-million-dollar-man/

Vaksin Sinopharm Dapat Lampu Hijau dari WHO, Kabar Baik bagi RI?

 WHO telah memasukan vaksin COVID-19 Sinopharm ke daftar penggunaan darurat sekaligus memberikan lampu hijau untuk vaksin ini untuk diluncurkan secara global. Koordinator PMO Komunikasi Publik KPCPEN Arya Sinulingga menyambut baik keputusan WHO tersebut.

Menurut Arya, hal ini tentu akan mempermudah penyediaan stok vaksin, dengan begitu upaya vaksinasi bisa berlangsung dengan baik. Arya pun berharap masyarakat tidak ragu untuk divaksin.

https://kamumovie28.com/movies/lupin-the-third-episode-0-first-contact/


"Dengan begitu kita berharap herd immunity bisa segera tercapai," ujar Arya dalam keterangan tertulis, Senin (10/5/2021).


"Dengan divaksinasi, tidak hanya melindungi diri sendiri, tapi juga orang sekitar kita," tambahnya.


Dia menambahkan, sejauh ini Pemerintah Indonesia telah mengamankan vaksin sejumlah 75.910.500 juta dosis vaksin. Adapun rincian dosis vaksin yaitu Sinovac 68.500.000 dosis, AstraZeneca COVAX 6.410.500 dosis dan Sinopharm 1 juta dosis.


Dalam situs resmi WHO menyebutkan penambahan vaksin tersebut berpotensi mempercepat akses vaksin COVID-19 dengan cepat bagi negara-negara yang ingin melindungi petugas Kesehatan dan populasi yang berisiko.


Adapun Emergency Use Listing (EUL) adalah prasyarat untuk pasokan vaksin Fasilitas COVAX. Ini juga memungkinkan negara untuk mempercepat persetujuan peraturan mereka sendiri untuk mengimpor dan mengelola vaksin COVID-19.


Sebelumnya, Badan POM juga telah memberikan izin penggunaan darurat/Emergency Use Authorization (EUA) untuk vaksin COVID-19 produksi Sinopharm. Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito menuturkan vaksin COVID-19 produksi Sinopharm sebelumnya telah menjalani uji klinik fase 3 di Uni Emirat Arab dan beberapa negara lainnya dengan 42.000 subjek uji.


Hasilnya, vaksin Sinopharm menunjukkan efikasi sebesar 78,02% dan pengukuran imunogenisitas setelah 14 hari penyuntikan dosis kedua, seropositive rate (persentase subjek yang terbentuk antibodi) netralisasi adalah 99,52% pada orang dewasa dan 100% pada lansia.


Selain itu, Ia menambahkan secara umum keamanan vaksin dapat ditoleransi dengan baik dan frekuensi kejadian masing-masing efek samping tersebut adalah 0,01% (terkategori sangat jarang), serta pada usia di atas 60 tahun tidak ada laporan efek samping lokal grade 3.


Dari hasil Uji klinik tersebut, Penny mengatakan Badan POM bersama Tim Ahli dalam Komite Nasional Penilai Vaksin COVID-19, ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization), dan para klinisi terkait lainnya menyimpulkan vaksin tersebut memberikan profil keamanan dan efikasi yang baik.


"Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, dan juga pertimbangan manfaat risiko, maka Badan POM telah menerbitkan persetujuan penggunaan pada masa darurat atau EUA pada 29 April 2021 dengan nomor EUA2159000143A2 untuk vaksin dengan kemasan 1 vial berisi 0,5 ml (1 dosis) vaksin," jelas Penny.

Indikasi yang disetujui adalah untuk membentuk antibodi, yang dapat memberi kekebalan melawan virus SARS CoV-2 dan mencegah COVID-19 pada orang dewasa di atas 18 tahun dengan pemberian 2 dosis pada durasi 21 - 28 hari.


Di Indonesia, vaksin yang memiliki platform Inactivated virus (virus yang diinaktivasi atau dimatikan) tersebut didaftarkan dan didistribusikan oleh PT. Kimia Farma Tbk. dengan nama SARS-COV-2 VACCINE (VERO CELL), INACTIVATED.


Saat ini, vaksin tersebut telah tiba di Indonesia dan sebelum digunakan untuk program vaksinasi, Badan POM akan melakukan proses pelulusan produk (lot release).

https://kamumovie28.com/movies/the-killer-has-no-return/