Trio Fauqi Virdaus, pria asal Buaran, Jakarta Timur, meninggal dunia satu hari setelah disuntik vaksin Corona AstraZeneca. Hingga saat ini penyebab meninggalnya Fauqi masih diselidiki oleh Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).
Menurut Ketua Komnas KIPI Prof Hindra Hingky Irawan Satari, pihaknya masih belum mendapatkan cukup bukti terkait penyebab kematian pemuda berusia 21 tahun itu. Maka dari itu, belum bisa dipastikan apakah vaksin AstraZeneca menjadi penyebabnya atau tidak.
"Komnas bersama Komda DKI sudah audit bersama pada Jumat yang lalu, dan internal Komnas kemarin sore menyimpulkan bahwa belum cukup bukti untuk mengaitkan KIPI ini dengan imunisasi, Oleh karena itu masih perlu dilakukan investigasi lebih lanjut," kata Prof Hindra, dikutip dari laman resmi Sehat Negeriku.
Diketahui Fauqi meninggal dunia pada Kamis (6/5/2021), sekitar pukul 12.30 WIB, setelah sebelumnya mengalami gejala demam tinggi, menggigil, dan sakit kepala usai menerima vaksin AstraZeneca. Ia meninggal saat dalam perjalanan ke rumah sakit.
"Untuk mencari keterkaitan, kalau demam, menggigil, itu memang gejala vaksin lah, namun tidak menyebabkan kematian. Kalau kematian kan blood clot, pembekuan darah," tutur Prof Hindra saat dihubungi detikcom Senin (10/5/2021).
Lebih lanjut, kata Prof Hindra, pembekuan darah bisa terjadi di mana saja, baik di otak, paru-paru, perut, hingga kaki. Diketahui, Fauqi sempat mengeluhkan rasa pegal di kakinya.
"Dia ada gejala tuh kakinya pegal jadi dipijat kan. Tapi kan kalau gejala di kaki barangkali tidak menyebabkan kematian," beber Prof Hindra.
"Gejala di perut nggak ada, gejala di paru nggak sesak, gejala di susunan saraf pusat katanya dia kejang kata rekan kerjanya, tapi di rumah dibilangin sama riwayat keluarganya nggak ada riwayat kejang," lanjutnya.
Oleh karena itu, Prof Hindra mengatakan saat ini pihaknya masih menyelidiki lebih lanjut terkait kasus meninggalnya Fauqi. Pasalnya, tak mudah untuk memutuskan penyebab kematian seseorang tanpa adanya bukti yang jelas.
https://kamumovie28.com/movies/the-armed-policewoman/
COVID-19 Jogja Masih 'Stabil Tinggi', Setop Mudik kalau Belum Telanjur!
Sebaran COVID-19 selama seminggu terakhir di DIY masih stabil tinggi. Bahkan, berdasarkan zonasi dari Badan Penanggung Bencana Daerah (BPBD) DIY masih banyak zonasi yang masuk kategori merah.
Pakar Epidemiologi Riris Andono Ahmad menjelaskan untuk kondisi sebaran di DIY selama seminggu terakhir sebenarnya stabil tinggi. Meski, setahun secara kasus perhari masih mengalami fluktuasi.
"Kalau dari data ya termasuk stabil tinggi," ujar Riris, saat dihubungi detikcom, Senin (10/4/2021).
Ia mengungkapkan, kondisi COVID-19 di DIY sebenarnya mengkhawatirkan. Sebab, dari data zonasi BPBD saja, masih banyak zona yang merah dan oranye.
"Hampir merata sebenarnya (di kabupaten/kota di DIY). Zona merah dan oranye harus lebih tertib menaati protokol kesehatan," jelasnya.
Berdasarkan catatan Satgas COVID-19 DIY, selama seminggu terakhir mencapai 1.546 kasus. Sedangkan kasus meninggal sejak tanggal 1 Mei 2021 sampai Minggu (09/5) mencapai 67 kasus.
Riris menegaskan untuk sebaran di DIY mayoritas karena terjadi kerumunan. Seperti tarawih di Bantul dan layatan di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta yang terbaru.
Bahkan, untuk larangan mudik lokal itu, kata Riris, di DIY sebenarnya istilah yang tidak tepat. "Dalam kawasan aglomerasi seperti DIY, setiap hari orang melakukan mobilitas antar kabupaten untuk bekerja. Berarti kalau pakai istilah mudik lokal, setiap hari mereka melakukan mudik lokal," katanya.
Yang perlu ditekankan, lanjut Riris, adalah kerumunan dan berjabat tangan. Kedua hal tersebut wajib dijaga selama masa Lebaran agar tak terjadi penularan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY Pembajun Setianingastutie menjelaskan di DIY penularan COVID-19 sebenarnya belum melandai. Makanya, setiap terjadi mobilitas penduduk seperti long weekand atau liburan, pihaknya pasti sudah bersiap-siap.
"Pasti terjadi lonjakan kasus. Makanya, kami mewanti-wanti agar prokes ini dijaga betul. Jangan sampai lalai, di rumah jika dari luar kota biasakan pakai masker," sarannya.
Sebaran di keluarga, lanjut Pembajun, menjadi yang tertinggi. Setiap terjadi kasus baru dan dilakukan tracing, keluarga selalu ada yang tertular.
"Makanya kami himbau agar jangan mudik. Karena aktivitas mudik seperti berjabat tangan, berpelukan rentan terjadi penularan," katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar