Jumat, 11 Juni 2021

Tak Ada Kelelawar yang Dijual di Pasar Wuhan, Lantas dari Mana Asal Usul Corona?

  Sebuah laporan baru-baru ini mengungkap lebih dari 47 ribu hewan liar dijual di pasar basah Wuhan sebelum pandemi COVID-19 merebak. Namun, tak ada satupun di antaranya yang menjual kelelawar, hewan yang diyakini sebagai asal usul Corona.

Dikutip dari Daily Star, investigasi ini dilakukan para peneliti China dan Inggris terhadap produk daging yang dijual di pasar Wuhan. Mereka mencoba melacak asal usul Corona saat pertama kali menyebar di sana, akhir 2019.


Dalam catatan penjualan hewan liar yang dirinci tetapi belum dipublikasikan, para ilmuwan memperkirakan ada lebih dari 47 ribu hewan liar dijual di pasar Wuhan dalam dua setengah tahun belakang sebelum kasus COVID-19 pertama kali diidentifikasi, demikian menurut laporan South China Morning Post.


Jenis hewan yang dijual di pasar basah Wuhan

Dari penjualan 17 toko antara Mei 2017 dan November 2019, para peneliti mendokumentasikan ada penjualan 38 spesies hewan liar. Di antaranya termasuk mamalia seperti musang, cerpelai, dan anjing rakun, yang diketahui rentan terhadap virus, meskipun tingkat penularan penyakitnya lebih rendah.


Namun, mereka tidak menemukan bukti bahwa kelelawar atau trenggiling yang diyakini sebagai dua kemungkinan sumber penularan virus Corona. Ilmuwan China menemukan semua blok pembangun genetik SARS (strain coronavirus) dalam satu populasi kelelawar tapal kuda pada tahun 2017.


"Hampir semua hewan dijual hidup-hidup, dikurung, ditumpuk dan dalam kondisi buruk. Sebagian besar toko menawarkan layanan penyembelihan, dilakukan di tempat, dengan implikasi yang cukup besar untuk kebersihan makanan dan kesejahteraan hewan," jelas para peneliti dari China West Normal University dan Oxford University.


Misteri patient zero virus Corona

Belakangan, teori virus Corona 'bocor' dari laboratorium Wuhan heboh jadi perbincangan. Terlebih, setelah seorang wanita bernama 'Pasien Su' diduga menjadi patient zero COVID-19 tinggal 1 mil tak jauh dari lab Wuhan.


Seorang pejabat China terkemuka mengirim tangkapan layar yang dikirim ke jurnal medis China yang berisi rincian seorang wanita berusia 61 tahun tersebut.


Dijelaskan, ada kemungkinan virus Corona sudah menyebar tiga minggu sebelum China mengkonfirmasi kasus pertama Corona mereka. Pasien Su disebut tinggal di jalur kereta api berkecepatan tinggi, hingga diyakini memainkan peran penting dalam penyebaran virus Corona di sekitar kota berpenduduk 11 juta orang, berdasarkan laporan Daily Mail.

https://cinemamovie28.com/movies/bait-3/


Pesan Jokowi Soal Vaksin Corona dan Herd Immunity


 Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) meninjau lokasi vaksinasi di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Jokowi berharap percepatan vaksinasi bisa segera membentuk herd immunity di masyarakat.

Kegiatan tersebut disiarkan langsung melalui channel youtube Sekretariat Presiden. Saat memasuki lokasi dan menyapa warga yang divaksin, Jokowi didampingi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Keduanya terlihat melakukan dialog saat melihat salah satu warga divaksin..


Kemudian Jokowi sempat kembali menyapa beberapa warga yang duduk di kursi sebelum menuju tempatnya memberikan keterangan soal kunjungannya. Presiden Jokowi mengatakan aktivitas di pelabuhan Tanjung Emas Semarang cukup tinggi.


"Aktivitas dan interaksi antar orang di pelabuhan Tanjung Emas Semarang Provinsi Jawa Tengah ini sangat tinggi mulai dari aktivitas bongkar muat, pergerakan kapal, pergerakan penumpang, aktivitas petugas-petugas yang ada di pelabuhan semuanya sangat tinggi," kata Jokowi di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang seperti dikutip dari channel youtube Sekretariat Presiden, Jumat (11/6/2021).

https://cinemamovie28.com/movies/bait-2/

Vaksin Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm, Mana Paling Manjur?

 - Indonesia saat ini menggunakan 3 jenis vaksin Corona yakni buatan Sinovac, Sinopharm, dan AstraZeneca. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, tetapi yang pasti ketiganya sudah mengantongi emergency use listing (EUL) dari organisasi kesehatan dunia WHO.

Saat ini, vaksinasi sudah memasuki tahap ketiga yang menyasar masyarakat umum. Meski demikian, kelompok dengan kerentanan tinggi lebih diutamakan seperti orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan penyandang disabilitas. Demikian juga lansia yang belum semua mendapat vaksinasi Corona.

https://cinemamovie28.com/movies/bait/


Khusus DKI Jakarta, vaksinasi juga sudah diberikan pada usia 18 tahun ke atas dengan menggunakan vaksin AstraZeneca. Beberapa wilayah lain yang dinilai memiliki kasus aktif yang tinggi rencananya juga akan mulai menyasar kelompok ini.


Dari ketiga jenis vaksin Corona yang digunakan di Indonesia saat ini, manakah yang paling meyakinkan? Sinovac, AstraZeneca, atau Sinopharm? Berikut rangkuman perbandingannya.


Sinovac

1. Efikasi

Baru-baru ini, vaksin Sinovac mendapat izin penggunaan darurat (EUL) dari WHO. Artinya, Sinovac dinilai memenuhi standar persyaratan internasional terkait mutu dan keamanannya.


Berdasarkan hasil uji klinis, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan efikasi Sinovac sebesar 65,3 persen. Angka ini memenuhi persyaratan WHO yakni di atas 50 persen.


Riset awal pada tenaga kesehatan di DKI Jakarta yang mendapatkan vaksin Sinovac menunjukkan efektivitas di dunia nyata sebesar 90 persen lebih.


2. Efek samping

Uji klinis di Bandung menunjukan efek samping Sinovac bersifat ringan hingga sedang.


Efek samping lokal yang umum terjadi mencakup:

nyeri

indurasi atau iritasi

kemerahan

pembengkakan.

Sedangkan efek samping sistemik berupa:

myalgia atau nyeri otot

fatigue atau atau kelelahan

demam.

3. Dosis dan interval penyuntikan

Vaksin COVID-19 Sinovac memiliki dosis 0,5 ml per penyuntikan, dengan jarak penyuntikan pertama hingga kedua 28 hari pada dewasa berusia 18-59 tahun.


Corporate Secretary PT Bio Farma Bambang Heriyanto sempat memprediksi vaksin Sinovac dibanderol seharga Rp 200.000 per dosis.


Perbandingan selengkapnya antara vaksin Sinovac, AstraZeneca, dan Sinopharm bisa disimak di halaman berikutnya.


AstraZeneca

1. Efikasi

Mengacu pada studi di Lancet, uji klinis tahap ke-3 di Brasil, Afrika Selatan, dan Inggris menunjukan efikasi vaksin COVID-19 AstraZeneca mencapai 70,4 persen.


Sedangkan WHO menyatakan vaksin AstraZeneca 63,09 persen mampu mencegah gejala pada infeksi COVID-19.


2. Efek samping

Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) menyatakan bahwa hingga Mei 2021, terdapat sekitar 9.000 kasus KIPI non-serius dan 18 kasus KIPI serius pasca penyuntikan vaksin AstraZeneca. Keluhan non-serius mencakup demam, nyeri, mual, hingga lelah.


Namun, vaksin AstraZeneca beberapa kali diduga memicu kasus pembekuan darah, terlebih pada penerima vaksin berusia muda.


Berikut efek samping yang dilaporkan selama uji klinis vaksin AstraZeneca dikutip dari laman GOV.UK


Sangat umum (mempengaruhi lebih dari 1 dari 10 orang)

Nyeri, gatal, dan rasa panas di area suntikan

Merasa tidak enak badan

Menggigil atau demam

Sakit kepala

Mual

Nyeri sendi atau nyeri otot

Umum (dirasakan 1 dari 10 penerima)

Bengkak, kemerahan, dan benjolan di area suntikan

Demam

Muntah atau diare

Radang tenggorokan

Pilek atau batuk

Menggigil

Jarang (dirasakan 1 dari 100 penerima)

Nafsu makan menurun

Sakit perut

Kelenjar getah bening membesar

Keringat berlebih

Kulit gatal atau ruam

3. Dosis dan interval pemberian

Penyuntikan dosis 1 dan 2 vaksin AstraZeneca bersela waktu 12 minggu atau sekitar 3 bulan. Penentuan waktu ini mengacu pada studi tentang interval paling tepat untuk efikasi vaksin terbaik.


"Interval antara 8-12 minggu berkaitan dengan efikasi vaksin yang lebih baik," terang WHO dalam laman resmi.: 

https://cinemamovie28.com/movies/fearless-5/