Rabu, 21 Oktober 2020

Apakah Makanan Terasa seperti Ini? Bisa Jadi Pertanda Infeksi COVID-19

 Semakin hari gejala COVID-19 dilaporkan makin ringan yang membuat banyak orang tak sadar telah terinfeksi penyakit mematikan tersebut. Namun saat ini makin banyak pasien yang melaporkan tanda tak biasa yang mereka alami terutama saat makan.

Kehilangan kemampuan untuk mencium atau mengecap jadi dua gejala yang terkait dengan infeksi COVID-19. Meski banyak yang normal kembali, kondisi ini bisa membuat seseorang mengalami distorsi bau.


Ini dibuktikan oleh pengalaman yang dibagikan oleh pasien bernama Kate McHenry, yang baru-baru ini berbicara kepada BBC tentang gangguan pengecapnya.


"Saya suka makanan enak, pergi ke restoran, minum-minum dengan teman-teman, tapi sekarang semua itu sudah hilang. Daging rasanya seperti bensin dan anggur prosecco rasanya seperti apel busuk," kata Kate.


Jika pasangan saya, Craig, makan kari, saya merasa baunya sangat tak enak. Bahkan saya merasa baunya keluar dari pori-porinya, jadi saya berjuang kalau berada di dekatnya," sambungnya.


Kondisi lain juga dialami oleh Pasquale Hester. Baginya, rasa pasta gigi membuatnya muntah-muntah sehingga ia terpaksa menyikat gigi dengan garam yang rasanya, anehnya, sangat normal.


Seperti banyak penderita COVID-19 lain, butuh berminggu-minggu sebelum indra penciumannya pulih setelah ia terinfeksi virus corona. Namun, ketika dia makan kari di ulang tahunnya di bulan Juni, dia menyadari indra penciumannya yang kacau.


"Saya makan poppadum (roti India) tetapi langsung melepehnya karena rasanya seperti cat. Beberapa makanan lebih bisa dimakan daripada yang lain," kata Pasquale.


Pasien COVID-19 mengalami anosmia karena COVID-19 merusak jaringan dan ujung saraf di hidung mereka. Ketika saraf itu tumbuh kembali, parosmia atau distorsi bau bisa terjadi dan otak tidak dapat mengidentifikasi bau sebenarnya dari suatu benda.


Prof Claire Hopkins, presiden British Rhinological Society (BRS), mengatakan ada kepercayaan salah bahwa kehilangan indra penciuman akibat COVID-19 berlangsung sebentar. Padahal pada beberapa pasien kondisi ini bisa berlangsung lama dan parah.


"Ya, ada peluang bagus untuk sembuh, tetapi ada sejumlah besar orang yang akan kehilangan bau dalam jangka waktu lama dan dampaknya terabaikan sepenuhnya." kata Claire.

https://cinemamovie28.com/covet-island-of-desire/


Mitos-Fakta Curcumin yang Bantu Tingkatkan Imun Tubuh untuk Tangkal COVID-19


Curcumin senyawa yang terdapat pada kunyit dan temulawak sempat heboh diperbincangkan saat pertama kali wabah Corona merebak. Bahkan, temulawak kala itu jadi marak dicari karena dinilai bisa mencegah infeksi COVID-19.

Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOT JI) dr Inggrid Tania menjelaskan curcumin adalah pigmen berwarna kuning terkandung di dalam kunyit maupun temulawak. Ada beberapa fakta dan hoax terkait curcumin yang sempat beredar termasuk disebut memicu risiko tinggi terpapar COVID-19.


"Jadi sebetulnya curcumin ini kalau dilihat secara struktur merupakan suatu senyawa dengan sifat yang menonjolnya misalnya antiperadangan dan antiinflamasi dan meningkatkan kadar antioksidan yang diproduksi oleh tubuh," jelas dr Inggrid dalam temu media daring, Rabu (21/10/2020).


Berikut tiga hoax dan fakta terkait kurkumin:


1. Curcumin tingkatkan risiko terpapar COVID-19

Bukan untuk menangkal COVID-19, curcumin sempat disebut meningkatkan risiko terpapar. dr Inggrid menegaskan hal ini adalah hoax semata.


"Waktu awal-awal pandemi sempat keluar suatu hoax yang menyatakan bahawa knonsumsi temulawak dapat meningkatkan risiko terpapar COVID-19 karena dapat meningkatkan reseptor ACE 2," jelas dr Inggrid.


"Hoax ini sebenarnya bertentangan atau berlawanan dengan hasil-hasil riset dari Bio Informatika maupun uji pra klinik, in vitro. Karena hasil riset Bio Informatika itu juga yang dirilis di masa pandemi dengan simulasi di komputer itu menunjukkan curcumin malah mampu meningkatkan reseptor protein dari SARS-CoV-2 virusnya COVID-19," lanjutnya.

https://cinemamovie28.com/night-before-enlisting/

Ada Lebih dari 9 Juta Kasus Aktif COVID-19 di Dunia, Terbanyak di 10 Negara Ini

 Kasus aktif Corona di dunia menembus angka lebih dari 9 juta kasus. Berdasarkan laporan worldometers sebanyak 99 persen di antaranya mengalami gejala ringan COVID-19 yaitu sebanyak 9.207.420 kasus.

Sementara pasien COVID-19 yang mengalami gejala berat sebanyak 1 persen yaitu 77.048 kasus. Amerika Serikat menjadi negara yang paling banyak mencatat kasus aktif, hingga lebih dari 2 juta kasus.


Sementara di Asia, peringkat pertama ada di India. India mencatat lebih dari 700 ribu kasus aktif COVID-19 per Selasa (20/10/2020). Berikut sederet negara penyumbang kasus COVID-19 tertinggi.


Amerika Serikat

Kasus aktif: 2.748.539 kasus

Total kasus: 8.520.307 kasus

Prancis

Kasus aktif: 790.021

Total kasus: 930.745

India

Kasus aktif: 740.658

Total kasus: 7.649.158

Brasil

Kasus aktif: 398.336

Total kasus: 5.274.817

Rusia

Kasus aktif: 321.392

Total kasus: 1.431.635

Belgia

Kasus aktif: 198.823

Total kasus: 230.480

Ukraina

Kasus aktif: 173.788

Total kasus: 309.107

Argentina

Kasus aktif: 162.252

Total kasus: 1.018.999


Meksiko

Kasus aktif: 145.094

Total kasus: 854.926

Italia

Kasus aktif: 142.739

Total kasus: 10.874

https://cinemamovie28.com/japanese-mom-2/


Apakah Makanan Terasa seperti Ini? Bisa Jadi Pertanda Infeksi COVID-19


Semakin hari gejala COVID-19 dilaporkan makin ringan yang membuat banyak orang tak sadar telah terinfeksi penyakit mematikan tersebut. Namun saat ini makin banyak pasien yang melaporkan tanda tak biasa yang mereka alami terutama saat makan.

Kehilangan kemampuan untuk mencium atau mengecap jadi dua gejala yang terkait dengan infeksi COVID-19. Meski banyak yang normal kembali, kondisi ini bisa membuat seseorang mengalami distorsi bau.


Ini dibuktikan oleh pengalaman yang dibagikan oleh pasien bernama Kate McHenry, yang baru-baru ini berbicara kepada BBC tentang gangguan pengecapnya.


"Saya suka makanan enak, pergi ke restoran, minum-minum dengan teman-teman, tapi sekarang semua itu sudah hilang. Daging rasanya seperti bensin dan anggur prosecco rasanya seperti apel busuk," kata Kate.


Jika pasangan saya, Craig, makan kari, saya merasa baunya sangat tak enak. Bahkan saya merasa baunya keluar dari pori-porinya, jadi saya berjuang kalau berada di dekatnya," sambungnya.


Kondisi lain juga dialami oleh Pasquale Hester. Baginya, rasa pasta gigi membuatnya muntah-muntah sehingga ia terpaksa menyikat gigi dengan garam yang rasanya, anehnya, sangat normal.


Seperti banyak penderita COVID-19 lain, butuh berminggu-minggu sebelum indra penciumannya pulih setelah ia terinfeksi virus corona. Namun, ketika dia makan kari di ulang tahunnya di bulan Juni, dia menyadari indra penciumannya yang kacau.


"Saya makan poppadum (roti India) tetapi langsung melepehnya karena rasanya seperti cat. Beberapa makanan lebih bisa dimakan daripada yang lain," kata Pasquale.


Pasien COVID-19 mengalami anosmia karena COVID-19 merusak jaringan dan ujung saraf di hidung mereka. Ketika saraf itu tumbuh kembali, parosmia atau distorsi bau bisa terjadi dan otak tidak dapat mengidentifikasi bau sebenarnya dari suatu benda.


Prof Claire Hopkins, presiden British Rhinological Society (BRS), mengatakan ada kepercayaan salah bahwa kehilangan indra penciuman akibat COVID-19 berlangsung sebentar. Padahal pada beberapa pasien kondisi ini bisa berlangsung lama dan parah.


"Ya, ada peluang bagus untuk sembuh, tetapi ada sejumlah besar orang yang akan kehilangan bau dalam jangka waktu lama dan dampaknya terabaikan sepenuhnya." kata Claire.

https://cinemamovie28.com/new-folder/