Kamis, 17 Juni 2021

Tak Semua Berhasil! Vaksin Corona Ini Divonis Gagal, Efikasi Cuma 47 Persen

 Vaksin Corona yang dikembangkan perusahaan bioteknologi Jerman, CureVac, gagal memenuhi kriteria keberhasilan vaksin COVID-19. Hasil uji coba tahap akhir menunjukkan vaksin ini hanya 47 persen efektif.

Hasil uji klinis tahap akhir ini muncul dari analisis sementara berdasarkan 134 kasus dalam penelitian dengan sekitar 40 ribu sukarelawan di Eropa dan Amerika Latin.


"CVnCoV menunjukkan kemanjuran vaksin sementara sebesar 47 persen terhadap penyakit COVID-19 dengan tingkat keparahan apa pun dan tidak memenuhi kriteria keberhasilan statistik yang telah ditentukan sebelumnya," demikian dalam rilis CureVac, dikutip dari DW News.


Perusahaan tersebut mengatakan setidaknya ada 13 varian virus penyebab infeksi di antara populasi penelitian, menambahkan bahwa versi asli dari virus corona yang muncul di kota Wuhan di China pada akhir 2019 "hampir sama sekali tidak ada" dalam uji coba sejauh ini.


"Sementara kami mengharapkan hasil sementara yang lebih kuat, kami menyadari bahwa menunjukkan kemanjuran tinggi dalam keragaman varian yang belum pernah terjadi sebelumnya ini merupakan tantangan," kata CEO Franz-Werner Haas dalam sebuah pernyataan.


"Saat kami melanjutkan analisis akhir dengan minimal 80 kasus tambahan, kemanjuran vaksin secara keseluruhan dapat berubah," lanjutnya.


Dari kasus COVID-19 yang dilaporkan dalam uji coba, 124 diurutkan untuk mengidentifikasi varian yang menyebabkan infeksi. Satu kasus disebabkan oleh versi asli dari virus corona SARS-CoV-2 yang muncul di kota Wuhan di China pada akhir 2019, sementara 57 persen kasus disebabkan oleh variant of concern, jenis yang lebih menular.

https://indomovie28.net/movies/happy-din-don/


Terbanyak Sumbang Kasus Harian RI, Ini Zona Merah Corona Jawa Barat Teranyar


 Bandung Raya siaga satu imbas laporan dua wilayah zona merah Corona Jawa Barat. Menurut data yang dihimpun Satgas COVID-19, Jawa Barat masuk zona merah Corona sejak 6 Juni lalu.

Di pekan sebelumnya, wilayah Ciamis dan Bandung Barat masuk zona merah Corona Jawa Barat. Namun, kini Ciamis tak lagi masuk zona merah Corona Jawa Barat, posisinya digantikan Bandung.


Berada di zona merah Corona, Jawa Barat menjadi penyumbang kasus COVID-19 tertinggi per Rabu (16/6/2021). Dalam 24 jam terakhir mencatat penambahan kasus COVID-19 sebanyak 2.599 kasus, melampaui DKI Jakarta yang mencatat 2.376 kasus Corona.


Data Satgas COVID-19 per 13 Juni menunjukkan hanya tiga provinsi Jawa yang masuk zona merah Corona. Selain zona merah Corona Jawa Barat, tercatat Jawa Tengah dan Jawa Timur dalam daftar baru zona merah COVID-19 pekan ini.


"Kemudian wilayah Bandung raya ini keterisian rumah sakit sudah melebihi standar WHO dan nasional yang di angka 70 persen sementara Bandung raya ini sudah di angka 84,19 persen," tutur Ridwan Kamil saat menetapkan status siaga satu di Bandung Barat karena masuk zona merah Corona Jawa Barat, Selasa (15/6/2021).


Sementara dalam sepekan terakhir, Kota Bekasi dan Kabupaten Bandung mencatat peningkatan kasus Corona melampaui seribu kasus. Kota Depok berada di 1.001 kasus dan Kota Bekasi mencapai 1.004 kasus.


Di mana saja zona merah Corona Jawa Barat dan zona kuning terbaru?


Zona merah Corona Jawa Barat

Bandung

Bandung Barat

Zona kuning Corona Jawa Barat

Cianjur

Ciamis

Kote Depok

Bekasi

Sukabumi

Garut

Kota Cirebon

Kota Banjar

Tasikmalaya

Cirebon

Sumedang

Kota Tasikmalaya

Kota Bogor

Kota Bandung

Kota Bekasi

Bogor

Kuningan

Majalengka

Subang

Purwakarta

Karawang

Pangandaran

Kota Sukabumi

Kota Cimahi

Indramayu

Di luar data zona merah Corona Jawa Barat, ini penyumbang kasus COVID-19 terbanyak di Jabar sepekan terakhir.


Kota Depok: 1.001 kasus

Kota Bekasi: 1.004 kasus

Kabupaten Bandung: 846 kasus

Kota Bandung: 747 kasus

Kabupaten Bandung Barat: 515 kasus

Kabupaten Karawang: 381 kasus

Kabupaten Bogor: 293 kasus

Kota Bogor: 291 kasus

Kabupaten Cirebon: 284 kasus

https://indomovie28.net/movies/friendbutmarried-2/

Mau Tahu Cara Mendapatkan Vaksin Gratis? Ini Kata Kemenkes

 Minat terhadap vaksinasi COVID-19 tempak mengalami peningkatan. Makin banyak pula yang penasaran mencari tahu bagaimana cara mendapatkan vaksin gratis.

Cakupan vaksinasi COVID-19 belakangan ini mulai semakin diperluas. Setelah sebelumnya memprioritaskan para lansia, petugas publik, dan tenaga kesehatan (nakes), kini vaksinasi juga mulai menyasar usia 18 tahun ke atas, meski baru mulai digencarkan di DKI Jakarta.


Terkait pertanyaan publik seputar cara mendapatkan vaksin gratis, Kementerian Kesehatan RI menegaskan, vaksin COVID-19 memang harus diterima masyarakat secara gratis. Tak terkecuali, dalam program gotong royong yang menyasar penerima vaksin melalui perusahaan.


"Vaksin ini harus diberikan secara gratis baik dari pemerintah maupun vaksinasi Gotong Royong. Kalau kemudian nanti sudah ditegaskan betul-betul tidak ada pembebanan atau apa pun, termasuk pengurangan benefit dari pekerja akibat proses vaksinasi, ini sudah suatu ketegasan," terang juru bicara vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi dalam diskusi daring, Rabu (16/6/2021).



Ia menegaskan, jika ada yang tidak mendapatkan vaksin secara gratis atau diminta membayar dan mengalami pemotongan benefit, bisa melapor ke Satuan Pengawasan Internal (SPI) atau Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Nantinya, akan dilakukan pemeriksaan dan klarifikasi lebih dulu sebelum tindak lanjut peneguran.


"Sekarang perluasan vaksinasi di semua provinsi pada usia di atas 50 tahun, kemudian di Juli akan kita lakukan perluasan sampai dengan di atas 18 tahun sesuai rencana," kata dr Nadia.


"Pada saat sasaran kita mendapatkan vaksinasi, segera untuk langsung datang ke pos vaksinasi untuk divaksin. Jangan ragu-ragu, begitu juga untuk yang mendapatkan vaksin gotong royong," sambungnya terkait cara mendapatkan vaksin gratis.

https://indomovie28.net/movies/war-path/


Tak Semua Berhasil! Vaksin Corona Ini Divonis Gagal, Efikasi Cuma 47 Persen


 Vaksin Corona yang dikembangkan perusahaan bioteknologi Jerman, CureVac, gagal memenuhi kriteria keberhasilan vaksin COVID-19. Hasil uji coba tahap akhir menunjukkan vaksin ini hanya 47 persen efektif.

Hasil uji klinis tahap akhir ini muncul dari analisis sementara berdasarkan 134 kasus dalam penelitian dengan sekitar 40 ribu sukarelawan di Eropa dan Amerika Latin.


"CVnCoV menunjukkan kemanjuran vaksin sementara sebesar 47 persen terhadap penyakit COVID-19 dengan tingkat keparahan apa pun dan tidak memenuhi kriteria keberhasilan statistik yang telah ditentukan sebelumnya," demikian dalam rilis CureVac, dikutip dari DW News.


Perusahaan tersebut mengatakan setidaknya ada 13 varian virus penyebab infeksi di antara populasi penelitian, menambahkan bahwa versi asli dari virus corona yang muncul di kota Wuhan di China pada akhir 2019 "hampir sama sekali tidak ada" dalam uji coba sejauh ini.


"Sementara kami mengharapkan hasil sementara yang lebih kuat, kami menyadari bahwa menunjukkan kemanjuran tinggi dalam keragaman varian yang belum pernah terjadi sebelumnya ini merupakan tantangan," kata CEO Franz-Werner Haas dalam sebuah pernyataan.


"Saat kami melanjutkan analisis akhir dengan minimal 80 kasus tambahan, kemanjuran vaksin secara keseluruhan dapat berubah," lanjutnya.


Dari kasus COVID-19 yang dilaporkan dalam uji coba, 124 diurutkan untuk mengidentifikasi varian yang menyebabkan infeksi. Satu kasus disebabkan oleh versi asli dari virus corona SARS-CoV-2 yang muncul di kota Wuhan di China pada akhir 2019, sementara 57 persen kasus disebabkan oleh variant of concern, jenis yang lebih menular.

https://indomovie28.net/movies/warpath-3/