Jumat, 11 September 2020

Tertinggi, 29 dari 111 Dokter RI yang Gugur Terkait COVID-19 Ada di Jatim

Penularan virus Corona COVID-19 di Indonesia masih belum terkendali. Jumlah orang yang terinfeksi virus Corona pun terus meningkat setiap harinya. Begitupun para dokter yang merawat pasien Corona juga sudah banyak yang terinfeksi dan meninggal.
Survey tim mitigasi Ikatan Dokter Indonesia membuat daftar sebaran kematian dokter Indonesia akibat pandemi COVID-19. Data ini dihimpun PB IDI (Ikatan Dokter Indonesia) per Kamis malam, (10/9/2020).

"Benar (akibat COVID-19)," ujar Wakil Ketua PB IDI dr Slamet Budiarto saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (11/9/2020).

Ketua Tim Mitigasi PB IDI yang memimpin pelaksanaan survei ini, dr Adib Khumaidi, SpOT, mengatakan terinfeksinya dokter-dokter yang merawat pasien Corona bisa saja terjadi saat menangani langsung pasien yang terinfeksi virus Corona.

"Terpaparnya para dokter bisa terjadi saat menjalankan pelayanan baik itu pelayanan yang langsung menangani pasien Covid di ruang-ruang perawatan (isolasi maupun ICU), atau dari tindakan medis yang ternyata belakangan diketahui kalau pasiennya mengalami Covid, ataupun pelayanan non medis seperti dari keluarga dan komunitas," jelas dr Adib, seperti rilis yang diterima oleh detikcom, Jumat (11/9/2020).

"Gambaran ini menunjukkan bahwa pekerjaan dokter saat ini memiliki risiko yang sangat tinggi untuk terpapar Covid di samping juga angka OTG (asimtomatik carrier) yang tinggi," tambah dr Adib.

Berikut sebaran wilayah kematian dokter Indonesia, diterima detikcom pada Jumat (11/9/2020).

Jawa Timur: 29 dokter
Sumatera Utara: 20 dokter
DKI Jakarta: 14 dokter
Jawa Barat: 10 dokter
Jawa Tengah: 8 dokter
Sulawesi Selatan: 6 dokter
Bali: 4 dokter
Kalimantan Selatan: 4 dokter
Sumatera Selatan: 4 dokter
Kalimantan Timur: 3 dokter
Kepulauan Riau: 2 dokter
DI Yogyakarta: 2 dokter
Aceh: 2 dokter
Papua Barat: 1 dokter
Nusa Tenggara Barat: 1 dokter
Banten: 1 dokter.

Tak Semua Relawan Dapat Vaksin, Ini Alasan Ada Plasebo dalam Uji Klinis

Saat ini peneliti di seluruh dunia tengah mempercepat pengembangan vaksin dan obat untuk mengatasi pandemi COVID-19. Beberapa kandidat obat dan vaksin juga sudah masuk uji klinis tahap akhir untuk dibuktikan efek, keamanan, dan efikasinya.
Saat melakukan tahapan uji klinis, baik vaksin atau obat, relawan akan dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok uji dan kelompok plasebo.

Plasebo atau obat kosong adalah komponen kontrol standar dari sebagian besar uji klinis, yang dilakukan untuk membuat penilaian tentang kemanjuran obat atau perawatan medis. Plasebo sendiri zat tidak aktif yang terlihat seperti obat, vaksin, atau pengobatan yang sedang diuji.

"Plasebo itu tidak ada isinya, tidak bahaya. Efek plasebo itu relawan tidak diberikan apa-apa," kata Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME), Prof Amin Soebandrio kepada detikcom, Jumat (11/9/2020).

Meski tak mendapat vaksin atau obat yang diujikan, relawan yang mendapat plasebo bisa saja mengalami efek tertentu seperti relawan di kelompok uji. Bisa efek positif, bisa juga negatif. Ini yang disebut efek plasebo.

Dikutip dari WebMD, para peneliti menggunakan plasebo selama penelitian untuk membantu mereka memahami efek obat baru membedakan mana efek obat yang memang sesungguhnya terjadi, dan mana yang sebenarnya hanya sugesti belaka.

Misalnya, beberapa orang dalam sebuah penelitian diberi obat baru untuk menurunkan kolesterol sementara kelompok lain akan mendapatkan plasebo. Tak satupun dari orang-orang dalam penelitian ini akan tahu apakah mereka mendapat pengobatan yang sebenarnya atau plasebo.

Peneliti kemudian membandingkan efek obat dan plasebo pada subjek penelitian tersebut. Dengan begitu, mereka dapat menentukan keefektifan obat baru dan memeriksa efek sampingnya.

Meski plasebo tidak berisi apa-apa, tapi beberapa studi memperlihatkan efeknya bisa sama seperti kelompok uji atau orang yang diberi pengobatan sebenarnya. Diperkirakan bahwa efek plasebo dihasilkan dari cara pikiran dapat mempengaruhi tubuh.

Plasebo adalah bagian penting dari studi klinis karena memberikan peneliti titik perbandingan untuk terapi baru sehingga dapat membuktikan bahwa terapi tersebut aman dan efektif. Mereka dapat memberi mereka bukti yang diperlukan untuk mengajukan permohonan ke badan pengawas untuk persetujuan obat baru.
https://cinemamovie28.com/teens-who-squirt-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar