Uji coba vaksin Corona AstraZeneca yang dipimpin Oxford University dihentikan. Salah satu relawan di Inggris mengalami efek samping sehingga perlu ada pemeriksaan.
Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 dari Universitas Padjadjaran Prof Kusnandi Rusmil turut menjelaskan sedikit perbedaan bahan dasar vaksin antara AstraZeneca dengan vaksin Sinovac yang saat ini sedang dalam tahapan uji coba kepada relawan di Bandung, Jawa Barat.
Dia mengatakan, vaksin yang dikembangkan AstraZeneca merupakan vaksin dari virus yang masih hidup dan digabungkan dengan coronavirus.
"AstraZeneca itu terdiri dari virus yang hidup, virus yang hidup dari adenovirus, kemudian adenovirus itu disuntik dengan coronavirus, sehingga ada dua virus," kata Kusnandi saat menjadi pembicara dalam Dies Natalis 63 tahun Universitas Padjadjaran, Jumat (11/9/2020).
Setelah digabung antara adenovirus dan coronavirus, vaksin tersebut disuntikkan kepada sukarelawan. Sama seperti vaksin pada umumnya, setiap relawan akan memberikan reaksi yang berbeda-beda termasuk pada vaksin tiga terbesar di Amerika Serikat ini.
"Nah itu ada mungkin orang yang ga cocok sehingga ada efek dan terjadilah yang kita sebut myelitis transversa," tuturnya.
Berbeda dengan AstraZaneca, vaksin Sinovac yang diproduksi Biofarma ini merupakan virus yang dimatikan. "Jadi tidak mungkin menyebabkan sakit, aman. Cuma ada kekurangannya vaksin yang biofarma itu tidak terlalu imunigenic, jadi disuntiknya itu harus beberapa kali," ucap Kusnandi.
Pada uji klinis di Indonesia, tim peneliti menyuntikkan vaksin Sinovac asal China ini sebanyak dua kali dengan jarak 14 hari.
"Jumlah yang melakukan uji klinis ada 102 orang, kami sedang melakukan itu moga-moga dapat berhasil," pungkasnya.
WHO Sebut Penundaan Uji Klinis Vaksin Corona AstraZeneca Jadi 'Peringatan'
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merespons keputusan AstraZeneca yang menunda uji klinis fase 3 vaksin COVID-19 yang dikembangkannya bersama Universitas Oxford. WHO menyebut penundaan uji klinis ini merupakan pengungat penting bahwa perkembangan vaksin bisa mengalami kendala.
"Ini adalah seruan untuk menyadari bahwa ada pasang surut dalam uji klinis dan bahwa kita harus bersiap. Kita tidak perlu putus asa, hal seperti ini bisa terjadi," kata kepala peneliti WHO Dr Soumya Swaminathan dikutip dari Reuters, Jumat (11/9/2020).
Seluruh dunia saat ini tengah berupaya mengakhiri pandemi COVID-19 dengan mengembangkan vaksin. Sejauh ini kandidat vaksin AstraZeneca disebut yang paling menjanjikan di antara lainnya.
Namun mereka menangguhkan uji coba tahap akhir pekan ini setelah seorang relawan mengidap masalah neurologis. Kelanjutan uji klinis harus menunggu informasi lebih lanjut yang diberikan oleh badan pemantauan keamanan.
Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO Dr Mike Ryan menegaskan, persoalan vaksin baik menemukan atau menyetujui kandidat vaksin COVID-19 bukanlah perlombaan antar perusahaan atau antar negara.
"Ini adalah perlombaan melawan virus ini, dan itu adalah perlombaan untuk menyelamatkan nyawa. Ini bukan perlombaan antar perusahaan, dan ini bukan perlombaan antar negara," pungkas Ryan.
https://cinemamovie28.com/london-town/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar