Rabu, 05 Agustus 2020

Dampak Ledakan di Lebanon, RS Rusak dan Terancam Kekurangan Obat

 Ledakan dashyat di kota Beirut, Lebanon, menyebabkan puluhan orang tewas, sementara ribuan orang lainnya terluka. Jumlahnya diperkirakan akan terus meningkat karena evakuasi masih terus dilakukan.
Dikutip dari Nytimes, Menteri Kesehatan Masyarakat Lebanon Hamad Hassan mengatakan bahwa ledakan besar mengguncang Beirut menewaskan setidaknya 78 orang dam 4.000 lainnya luka-luka.

Palang Merah Lebanon mengatakan rumah sakit di kota Beirut penuh dan rusak parah, sehingga ratusan korban harus ditolak dan dipindahkan ke rumah sakit di luar Beirut. Sedangkan untuk mendapatkan pertolongan pertama, sebagian korban terpaksa ditangani di jalan atau di tempat parkir.

Rumah Sakit St George di pusat Beirut, salah satu rumah sakit terbesar, mengalami kerusakan parah sehingga harus ditutup dan mengirim pasien yang sebelumnya dirawat ke tempat lain.

Dr Peter Noum, kepala hematologi dan onkologi anak, mengkonfirmasi setiap lantai rumah sakit St George rusak. Pasien dan pengunjung yang dirawat mengalami luka-luka akibat puing dan kaca yang jatuh.

Bahkan, orang tua dari empat anak yang dirawat karena kanker sangat panik. Mereka mengambil anak-anak mereka dan melepaskan jarum infus sendiri untuk pergi ke rumah sakit lain atau bahkan pulang ke rumah.

Rumah sakit Bikhazi Medical Group yang memiliki 60 tempat tidur terpaksa harus merawat 500 korban dalam beberapa jam setelah ledakan, meskipun mengalami kerusakan parah tetapi rumah sakit harus beroperasi.

Menteri Hassan mengumumkan bahwa pemerintah akan menanggung biaya perawatan di rumah sakit. Meskipun demikian, petugas kesehatan khawatir korban terus bertambah tetapi stok obat semakin menipis.

Ratusan ribu dosis obat yang digunakan untuk memasok pusat kesehatan di seluruh Lebanon disimpan di gudang karantina dekat pelabuhan dan gudang tersebut rusak parah.

26 Perusahaan DKI Ditutup karena Corona, Kenapa Kantor Rawan Penularan?

Ada sebanyak 26 perkantoran DKI Jakarta ditutup. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menutup perkantoran tersebut dalam kurun waktu satu minggu ini.
Sebab, ada karyawan perusahaan-perusahaan tersebut yang terpapar virus Corona. Selain itu, ada tiga perusahaan di antaranya yang ditutup karena tidak menjalankan protokol kesehatan COVID-19.

"Perusahaan yang tutup karena COVID-19, (ada) 26 perusahaan. Perusahaan ditutup karena tidak menjalankan protokol kesehatan COVID-19, (ada) tiga perusahaan," ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi Provinsi DKI Jakarta Andri Yansyah dalam keterangan tertulisnya, Rabu (5/8/2020).

Achmad Yurianto yang saat itu masih menjabat sebagai juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 menjelaskan, penularan Corona rentan terjadi di kantor. Alasannya karena ruangan tertutup dan padat, sehingga risiko penularan Corona menjadi tinggi.

Organisasi kesehatan publik internasional, Vital Strategies, pun sebelumnya menyarankan agar setiap perkantoran memiliki tim khusus penanganan COVID-19. Hal ini bisa membuat protokol kesehatan bisa berjalan dengan baik, sehingga lingkungan kantor lebih aman dari risiko penularan Corona.

"Perlu ditunjuk karyawan atau tim khusus yang bisa mengikuti perkembangan kebijakan dan prosedur (protokol kesehatan -red) baru, membantu penerapannya, dan berperan sebagai penghubung antara pegawai dan pemilik usaha terkait masalah COVID-19," tulis Vital Strategies seperti dikutip dari situs resminya pada Kamis (30/7/2020).

Bukan berarti saat di kantor, kamu menjadi abai protokol kesehatan. Ingat lagi syarat aman dari Corona saat di kantor dan sepulang dari kantor sebagai berikut.
https://cinemamovie28.com/doraemon-nobitas-great-battle-of-the-mermaid-king/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar