Untuk menghindari penyebaran virus Corona COVID-19 yang lebih luas di masa awal pandemi, beberapa negara termasuk Indonesia memutuskan menghentikan kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Seiring berjalannya waktu, tuntutan untuk kembali membuka sekolah menguat karena berbagai alasan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyadari orang tua mulai galau dengan kondisi belajar jarak jauh. Satu hal yang kerap jadi pertanyaan apakah kondisi wabah Corona sekarang sudah lebih aman sehingga anak bisa kembali ke sekolah?
Direktur Eksekutif WHO, Mike Ryan, menjelaskan bahwa anak-anak secara umum memang tidak banyak yang mengalami bentuk infeksi COVID-19 parah dibandingkan kelompok umur lebih tua. Namun, perlu diketahui bahwa anak-anak tetap bisa berperan dalam proses penyebaran virus.
"Penyakit ini bisa saja menyebar di antara anak-anak, pada akhirnya mungkin menemukan anak yang kekebalan tubuhnya lemah atau punya kelemahan sehingga menimbulkan infeksi parah," kata Mike dalam wawancara yang dibagikan WHO di situs resminya.
"Atau saat kembali ke rumah anak akan menularkannya ke kakek-nenek dan orang lain," lanjutnya seperti dikutip pada Rabu (5/8/2020).
Ini berarti bila suatu daerah masih memiliki kasus penyebaran virus Corona di tingkat komunitas, maka perlu ekstra kehati-hatian untuk memutuskan membuka sekolah. Mike menyebut perlu upaya dari masyarakat dalam menghentikan penyebaran virus sehingga anak bisa kembali bersekolah secepatnya.
"Kita harus secepatnya mengusahakan agar anak bisa kembali ke sekolah. Satu cara paling efektif yang bisa dilakukan adalah dengan menghentikan penyakit ini di tingkat komunitas masyarakat," pungkas Mike.
Satgas COVID-19 Paparkan 4 Penyebab Kematian Pasien Corona di Indonesia
Kematian pasien virus Corona di Indonesia masih terus bertambah setiap harinya. Per 4 Agustus, pasien COVID-19 yang meninggal bertambah 86 sehingga total kematian menjadi 5.388 jiwa.
Persentase kematian atau case fatality rate (CFR) virus Corona di Indonesia saat ini mencapai 4,68 persen. Masih lebih tinggi jika dibandingkan CFR dunia yakni sebesar 3,79 persen.
Tim Pakar Satgas Percepatan Penanganan COVID-19 Dr Dewi Nur Aisyah menyebut ada sederet potensi penyebab kematian pada pasien COVID-19. Berikut di antaranya:
1. Terlambat ditangani
Tingkat kematian antara lain dipicu karena banyak pasien yang baru datang ke rumah sakit saat gejala nya sudah buruk.
"Kebanyakan kita temui, pasien-pasien di rumah sakit ini ketika kondisinya sudah memburuk, baru datang ke RS. Ketika datang ke rumah sakit apalagi kondisi rumah sakitnya penuh akan sulit memprioritaskan," jelas Dewi dalam siaran pers BNPB dan dilihat detikcom, Rabu (5/8/2020).
2. Penanganan yang terlambat
Seperti yang dijelaskan oleh Dewi, kebanyakan pasien COVID-19 baru datang ke rumah sakit ketika kondisi kesehatan sudah memburuk.
"Kemungkinan potensi penyebab kematian pertama adalah penanganan yang terlambat karena pasien datang ke rs dengan kondisi yang sudah lebih buruk dibandingkan kondisi di awal," terang Dewi.
3. Mengidap penyakit tidak menular
Banyak masyarakat Indonesia memiliki riwayat penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, atau penyakit jantung yang merupakan faktor komorbid yang dapat memperparah atau memperburuk kondisi pasien Corona.
"Ketika ada kondisi penyerta kemudian terkena covid, ini akan membuat kondisi pasien akan menjadi lebih buruk. ada angka kematian tinggi karena PTM kita juga tinggi," tutur Dewi.
4. Kesediaan fasilitas kesehatan
Tidak dapat dipungkiri ketersediaan fasilitas kesehatan juga menjadi salah satu faktor potensi penyebab kematian pasien COVID-19. Karenanya pemerintah daerah harus memastikan jumlah tempat tidur RS rujukan, kamar ICU, dan SDM tenaga kesehatan cukup untuk memberikan pelayanan yang cepat dan tidak terlambat.
"Ketersediaan tempat tidur, ventilator, SDM, harus sesuai standar WHO. Kalau bisa jangan 100 persen penuh, 60 persen saja sehingga ketika ada kenaikan kasus masih bisa ditampung untuk masuk ke rumah sakit," pungkasnya.
https://cinemamovie28.com/hot-neighbors-2/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar