DKI Jakarta berencana menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mengendalikan wabah virus Corona COVID-19. Namun Presiden Jokowi lebih memilih cara Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM).
Hal itu disampaikan oleh juru bicara Presiden Jokowi, Fadjroel Rachman. Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan bersama pimpinan redaksi, Kamis (10/9/2020) malam. Menurut Fadjroel, PSBM akan lebih efektif dengan penerapan protokol kesehatan.
"Saya ikut mendampingi Presiden kemarin (Kamis, 10/9), beliau menekankan, berdasarkan pengalaman empiris dan pendapat ahli sepanjang menangani pandemi COVID-19, pembatasan sosial berskala mikro/komunitas lebih efektif menerapkan disiplin protokol kesehatan," jelas Fadjorel, Jumat (11/9/2020).
Memang apa sih beda PSBB dengan PSBM? Dikutip dari Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 48 Tahun 2020, PSBM pada dasarnya adalah pembatasan yang dilakukan di tingkat desa, kampung, RW, hingga RT.
PSBM bisa dilakukan bila suatu daerah dianggap rentan atau memiliki peningkatan kasus COVID-19, namun kemampuan deteksi dan sumber dayanya terbatas.
Warga di lokasi PSBM diawasi secara ketat dan tidak bisa leluasa keluar-masuk selama periode 14 hari. Warga yang ingin keluar atau masuk wajib meminta surat pengantar pada tim pelaksana PSBM di wilayah yang bersangkutan, dalam hal ini adalah gugus tugas di tingkat kabupaten/kota.
"Orang luar dilarang memasuki wilayah PSBM," tulis Pasal 11 Pergub Jabar Nomor 48 Tahun 2020.
Sebelumnya juru bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito menilai sudah seharusnya Pemprov DKI melakukan pembatasan yang lebih ketat karena kasus Corona makin naik. Dia menyarankan ada pembatasan sosial berskala mikro.
"Khusus daerah yang sedang menjalankan PSBB termasuk DKI Jakarta untuk daerah yang sudah pengendaliannya sudah lebih mikro daripada kota, maka kami harapkan kecamatan pun bisa juga melakukan pembatasan sosial berskala mikro, sehingga bisa betul-betul tempat yang memiliki penularan tinggi sesuai dengan data yang ada bisa dikendalikan dengan baik," kata Wiku beberapa waktu lalu.
Studi Sebut Virus Corona Berisiko Merusak Sel Otak Pasien
Virus Corona COVID-19 tidak hanya mengganggu saluran napas, sebuah penelitian menunjukkan virus Corona COVID-19 juga dapat merusak sel otak orang yang terinfeksi.
Dikutip dari laman Daily Mail, penelitian yang diterbitkan secara online ini menunjukkan virus Corona COVID-19 mereplikasi diri lalu menyedot oksigen dari sel otak yang terinfeksi, kemudian membunuh sel tersebut.
Infeksi virus Corona pada otak memang tidak membunuh pasien Corona COVID-19, tapi menurut peneliti tersebut, infeksi virus yang tidak terkendali dapat berisiko menyebabkan mati otak pada pasien Corona.
Ahli Imunologi Universitas Yale, Dr Akiko Iwasaki dan timnya menggunakan 'organoid' otak manusia, yaitu otak kecil yang tumbuh di laboratorium dan terbuat dari sel induk manusia serta tikus untuk mempelajari invasi virus Corona secara real time.
Dalam organoid tersebut, virus Corona COVID-19 tidak hanya mengambil alih sel otak yang terinfeksi tapi juga menyerang sel lainnya dengan kecepatan tinggi, atau biasa dikenal dengan istilah hipermetabolik.
"Keadaan hipermetabolik untuk sel yang terinfeksi SARS-CoV-2 dan menyoroti kemampuan SARS-CoV-2 untuk merusak sel otak untuk mereplikasi diri (menambah jumlah virus)," terang Dr Akiko.
Berdasarkan penelitian sebelumnya tentang COVID-19 dan otak, peneliti menemukan adanya tanda-tanda kekurangan oksigen di otak dan sel-sel di sekitarnya.
Seperti jaringan listrik sel otak bekerja secara cepat, saling menyala dan terhubung. Namun jika ada satu atau lebih sel yang mati dan tidak menyala maka akan mengganggu seluruh jaringan pada otak.
Selanjutnya jika virus semakin banyak menyerang sel otak dan mematikannya, maka bukan tidak mungkin seluruh jaringan listrik di otak bakal lumpuh atau mati otak.
https://kamumovie28.com/pretty-obscene/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar