Selasa, 03 Desember 2019

Jangan Sampai Salah, Ini Beda HIV dan AIDS

Di kalangan awam, Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) seringkali disama artikan. Meskipun memang penyebabnya saling beriringan, tapi keduanya memiliki diagnosis yang berbeda. Jika dipermudah, HIV adalah virus yang menyebabkan kondisi AIDS.

HIV adalah virus yang dapat menyebabkan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh. Virus ini hanya bisa tertular antar manusia dan menyerang ke sistem imun yang mengakibatkannya tidak bisa bekerja efektif seperti seharusnya. Namun, perkembangan virus ini masih bisa dikendalikan oleh obat-obatan hingga bisa memutus siklus hidupnya di dalam tubuh.

Dikutip dari Healthline, karena HIV adalah virus jadi bisa ditularkan dari satu orang ke orang lainnya. Virus ini dapat ditularkan melalui pertukaran cairan tubuh, jarum suntik, berhubungan seks tanpa pelindung, hingga melalui ASI dan selama kehamilan.

HIV tidak selalu menunjukkan gejala yang signifikan, tapi biasanya penderitanya akan mengalami flu sekitar 2-4 minggu setelah penularan. Meskipun tertular, sistem imun tidak rusak secara cepat, ada masanya atau periode latensi. Periode ini akan berlangsung selama bertahun-tahun.

Penularan HIV dapat dideteksi dengan tes darah atau air liur seseorang dan membutuhkan waktu beberapa minggu. Selain itu, ada tes lain dengan mencari antigen atau protein yang diproduksi oleh virus dan antibodi. Dengan tes ini, HIV dapat dideteksi dalam waktu yang lebih cepat dengan beberapa hari setelah infeksi terjadi. Keduanya cukup akurat dan mudah dijalani oleh penderita.

Berbeda dengan HIV, AIDS atau HIV stadium 3 merupakan suatu kondisi yang disebabkan oleh virus serupa. Kondisi ini berkembang saat kerusakan yang diakibatkan HIV semakin serius dan kompleks. AIDS juga bisa terjadi saat sistem imun orang tersebut sudah rusak parah hingga tidak dapat melawannya atau disebut sebagai infeksi oportunistik.

Saat HIV sudah berkembang menjadi AIDS ini, harapan hidupnya bisa turun secara signifikan dan sulit untuk diperbaiki lagi. Tapi, HIV tidak selalu berkembang menjadi stadium 3. Hal ini dapat dicegah dengan melakukan pengobatan HIV antiretroviral dan berbagai terapi sesuai dengan arahan dokter.

Dalam mendiagnosisnya, AIDS lebih rumit dibandingkan HIV. Karena HIV telah menghancurkan sel kekebalan tubuh yang disebut sel CD4, salah satu cara untuk mendeteksinya adalah dengan menghitung jumlah sel tersebut. Umumnya, orang tanpa HIV memiliki 500 hingga 1.200 sel CD4. Namun, saat sel itu turun hingga 200, dipastikan ia mengidap AIDS.

HIV Menular di Toilet Umum? Mitos-mitos Berikut Tak Perlu Dipercaya Lagi https://kamumovie28.com/dont-go-breaking-my-heart/

Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Obat yang dapat menyembuhkan untuk penyakit dari virus ini secara total pun belum bisa ditemukan sampai saat ini.

HIV memang menular, tetapi tidak bisa begitu saja menginfeksi orang lain. Banyak sekali mitos yang bermunculan saat ini tentang hal-hal apa saja yang bisa menularkan HIV, mulai dari penggunaan toilet secara bergantian, bertukar pakaian, hingga bersalaman dan berjabat tangan dengan orang pengidap virus HIV.

Tentu, hal tersebut perlu diluruskan dengan benar, agar orang-orang pengidap HIV tidak merasa terkucilkan dilingkungan sosialnya. Ketua Umum Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Indonesia, dr Hanny Nilasari, SpKK membantu meluruskan mitos-mitos yang telah beredar di masyakarat.

"Penggunaan toilet yang bergantian tentunya tidak menularkan infeksi, kemudian bertukar pakaian juga tidak, berbagi makanan dan minuman juga tidak, berenang di dalam satu kolam yang sama pun tidak, karena sebetulnya ditularkannya virus HIV itu melalui kontak seksual," kata dr Hanny di Gedung Adhyatama Kemenkes RI, Jalan HR. Rasuna Said, Jakarta Selatan, pada Rabu (27/11/2019).

Tak hanya sampai di situ, mitos yang beredar tentang cara penularan virus HIV, seperti melalui gigitan nyamuk, keringat, hingga bertempat tinggal serumah dengan orang yang terinfeksi HIV juga salah kaprah.

"Misalnya gigitan nyamuk, nyamuk itu bukan reservoir (tempat hidup dan berkembang biak agen penyebab penyakit) yang baik untuk si virus, sehingga dia tidak akan bisa berkembang disana, dia akan mati dan kemudian kalau pun dia mengigit orang lain, itu tidak akan menularkan. Kemudian keringat juga begitu, tinggal serumah dengan orang yang terinfeksi jika tidak melakukan apa-apa ya tidak, kalau kontak seksual ya pasti kena," tambah dr Hanny.

Hal-hal mitos seperti itu memang harus dihilangkan, karena bisa membuat mereka yang mengidap HIV akan merasa terkucilkan di lingkungannya. Jargon 'Jauhi Penyakitnya Bukan Orangnya', bukanlah hanya untuk dibaca dan diingat begitu saja, tetapi juga harus dipahami dan dipraktikkan.  http://kamumovie28.com/side-effects/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar