Kamis, 05 Desember 2019

Viral Ambulans 'Dipaksa' Beri Jalan untuk Rombongan Polisi

Ketika mengemudi, membuka jalan bagi kendaraan darurat seperti ambulans apalagi ketika mendengar suara sirine dan kedip lampu adalah hal yang harus dilakukan. Perbedaan waktu sesedikit apapun bisa membuat perbedaan kondisi pasien saat berada di ambulans.

Tapi apa yang kira-kira terjadi ketika rombongan polisi dan ambulans bertemu di jalan yang sama? Siapa yang memberi jalan kepada siapa?

Sebuah video viral belum lama ini menunjukkan ambulans terpaksa memberikan jalan bagi rombongan polisi. Potongan video yang diunggah pertama kali oleh Lian, pria asal China, membuat kesal warganet. Banyak yang menyayangkan sebab harusnya ambulans lebih didahulukan apalagi jika dalam keadaan darurat.

Dalam video itu memang terlihat lalu lintas cukup padat. Tetapi kemudian, suara sirine ambulans terdengar dan banyak mobil memberi jalan sebagaimana mestinya.

"Pagi itu memang jalan cukup padat dan terdengar suara sirine. Mobil pun memberikan jalan tapi tiba-tiba ada serombongan polisi yang mendahului," demikian dikutip dari China Press.

Tiba-tiba, seorang pengawal polisi dengan dua sepeda motor meminta pengemudi memberi ruang bagi tiga mobil untuk lewat. Mereka bahkan memaksa ambulans banting setir, menyingkir dari jalan, sehingga mobil SUV bisa lewat.

Rasanya, aturan di negara manapun menganjurkan agar ambulans harus didahulukan dari rombongan lain. Di Indonesia sendiri, Undang-undang Lalu Lintas No. 22 Tahun 2009 Pasal 134, menyebut urutan pengguna jalan yang harus diprioritaskan, di antaranya:

1. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas
2. Ambulans yang mengangkut orang sakit.
3. Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada kecelakaan lalu lintas.
4. Kendaraan pimpinan lembaga Negara Republik Indonesia.
5. Kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga International yang menjadi tamu negara.
6. Iring-iringan pengantar jenazah.
7. Konvoi dan/atau kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan kepolisian.

Ingin Cari Kerja, Pria Ini Meninggal Kena Serangan Jantung Saat Interview

Seorang pria asal China yang baru berusia 36 tahun meninggal dunia saat melakukan interview kerja. Sesaat sebelumnya, dia lancar menjawab pertanyaan yang diajukan tapi tak lama, dia jatuh tak sadarkan diri.

Kala itu, ia bercerita ingin pindah kerja karena mendapatkan beban yang berat di pekerjaan sebelumnya dan mengharuskannya lembur hampir setiap hari. "Kami dengar dia selalu lembur di pekerjaan lamanya karena alasan itu dia mencari pekerjaan baru," kata seorang pewawancara yang tidak ingin disebutkan namanya, dikutip Asia One dari koran lokal The Paper.

Saat kehilangan kesadaran, pewawancaranya pergi memeriksanya dan mendapati detak jantung dan nadinya tak beraturan. Mereka langsung memanggil ambulans dan menemaninya ke rumah sakit.

Sayangnya pria itu dinyatakan meninggal oleh dokter karena serangan jantung. Sebelumnya, ia dilaporkan mengidap hipertensi dan diduga pemicu serangan jantung yang terjadi padanya.

Seorang dokter yang sempat menanganinya, dr Hong spesialis kardiolog rumah sakit tersebut mengatakan, mereka yang memiliki tekanan darah tinggi paling berisiko mengidap masalah jantung. Tetapi bukan berarti yang tidak mengalami gejala apapun bebas dari masalah itu.

Ada beberapa kasus di mana pasien tiba-tiba pingsan tanpa menunjukkan gejala khas. Kematian akibat serangan jantung dan mendadak pada usia di bawah 35 tahun sering terjadi saat beraktivitas fisik misal olahraga.

"Pasien yang menderita serangan jantung seharusnya tidak memaksakan diri mereka lebih jauh. Mereka harus merawat diri mereka sendiri dengan lebih baik untuk mencegah kekambuhan," kata dr Hong.

Telah banyak kasus karyawan yang meninggal dunia karena serangan jantung yang disebabkan oleh pekerjaan terlalu banyak. Bahkan di Jepang, pemerintah tengah mempersiapkan langkah-langkah untuk membatasi pekerja dari jam kerja berlebihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar