Jumat, 07 Agustus 2020

Asap Rokok Bisa Tularkan Virus Corona? Ini Jawaban Pakar

Para ahli mengatakan virus Corona kemungkinan bisa menularkan virus Corona COVID-19, meskipun tidak secara langsung. Bagaimana caranya?
Kepala staf medis American Lung Association, Albert Rizzo, menyebutkan bahwa droplet bisa keluar bersamaan dengan asap rokok yang dihembuskan saat merokok. Droplet itulah yang kemungkinan bisa menularkan virus Corona ke orang lain.

"Seseorang berpotensi menyebarkan virus bukan hanya saat tidak memakai masker saja. Tetapi, mereka yang perokok juga bisa menghembuskan banyak droplet ke orang-orang yang ada di sekitarnya, sehingga berpotensi terinfeksi virus tersebut," jelas Rizzo yang dikutip dari Fox News, Jumat (7/8/2020).

Seperti yang diketahui, virus Corona disebut bisa menyebar melalui berbagai cara. Mulai dari melalui droplet, kemungkinan penularan melalui udara di ruangan tertutup, permukaan yang terkontaminasi, hingga temuan virus Corona pada limbah manusia.

Asap rokok mengandung ratusan bahan kimia beracun, dan setidaknya 70 di antaranya bisa menyebabkan kanker. Asap rokok juga bisa mengurangi fungsi paru-paru, menyebabkan asma, penyakit jantung, kanker paru-paru, hingga stroke.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), penyakit-penyakit tersebut bisa berkomplikasi dengan infeksi virus Corona.

Salud Amerika, salah satu organisasi kesehatan yang berbasis di Texas mengatakan, meskipun asap rokok sudah hilang, asap itu akan menempel pada debu, pakaian, dinding, hingga permukaan lainnya. Hal ini bisa menjadi sumber virus Corona.

"Debu mungkin mengandung partikel aerosol atau asap yang berukuran lebih besar daripada virus Corona. Itu sebabnya munculah kemungkinan bahwa mereka bisa mengandung COVID-19," ujar tim peneliti Ilmu dan Teknologi Lingkungan.

Ada 3 Alat Tes Corona di Indonesia, Rapid Test Akurasinya Dipertanyakan

 Cara untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi virus Corona adalah dengan melakukan serangkaian pemeriksaan. Di Indonesia sendiri ada 3 jenis alat diagnostik virus Corona yang kerap digunakan yakni tes cepat molekuler (TCM) RT PCR, dan rapid test.
Diterangkan oleh pakar biologi molekuler Achmad Utomo, ada kelebihan dan kekurangan masing-masing alat diagnostik tersebut. Apa saja?

1. RT PCR
Real Time Polymerase Chain Reaction menggunakan sampel lendir dari hidung atau tenggorokan untuk mendeteksi keberadaan virus. Menurut Achmad, RT PCR adalah standar emas pemeriksaan COVID-19 karena bisa langsung mengenali materi genetik virus.

"Artinya bisa digunakan untuk melihat adanya infeksi akut," ujarnya dalam webinar yang diselenggarakan Society of Indonesian Science Journalist dan ditulis Jumat (7/8/2020).

Hanya saja metode pemeriksaan ini membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan hasilnya karena melalui dua kali proses yaitu, ekstraksi dan amplifikasi. Biasanya butuh beberapa hari untuk mengetahui hasil dari pemeriksaan RT PCR.

2. Tes Cepat Molekuler (TCM)
TCM dulunya dipakai sebagai alat diagnostik penyakit TBC. TCM sendiri sebenarnya adalah RT PCR yang disimplifikasi. Metode pemeriksaan dengan TCM sama akuratnya dengan PCR karena bisa mengidentifikasi RNA dari SARS-CoV-2 meski dalam waktu relatif lebih singkat.

"TCM itu basisnya adalah apa yang disebut dengan plug n play. Jadi seluruh reagen yang diperlukan itu sudah ada dalam satu kaset pemeriksaan jadi amat sangat-sangat convenient buat petugas lab. Jadi mereka cukup membuka kaset itu Masukkan cairan dari swab, tutup kasetnya, masukkan ke mesin tunggu sekitar 1 jam, sehingga tak perlu ekstraksi RNA karena sudah langsung otomatis," jelas Achmad.

Kekurangannya adalah secara operasional, harganya mahal karena kaset atau cartridge yang digunakan harus diimpor langsung. Meski cartridge tersebut sebetulnya ini sudah banyak dimiliki oleh klinik atau rumah sakit daerah milik Kemenkes, memang yang khusus untuk COVID-19 ada kendala supply.

3. Rapid Test
Jika kedua tes di atas menggunakan sampel dahak, pemeriksaan rapid test dilakukan dengan mengambil sampel darah dengan tujuan untuk melihat imunoglobin atau antibodi yang terbentuk apabila tubuh sedang melawan virus. Lama waktu pemeriksaan COVID-19 dengan rapid test memang relatif singkat, hanya 15-20 menit namun keakuratan hasil ujinya kerap dipertanyakan.

"Rapid test juga jadi masalah kalau digunakan diskrining COVID-19 karena yang diperiksa adalah antibodinya. Padahal terbentuknya antibodi juga agak lama jadi tidak pas sebenarnya digunakan untuk melakukan skrining apalagi rendah sensitivitasnya. Walau memang murah, tapi kalau banyak yang lolos juga percuma," pungkas Achmad.
https://nonton08.com/the-big-short/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar