Cara untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi virus Corona adalah dengan melakukan serangkaian pemeriksaan. Di Indonesia sendiri ada 3 jenis alat diagnostik virus Corona yang kerap digunakan yakni tes cepat molekuler (TCM) RT PCR, dan rapid test.
Diterangkan oleh pakar biologi molekuler Achmad Utomo, ada kelebihan dan kekurangan masing-masing alat diagnostik tersebut. Apa saja?
1. RT PCR
Real Time Polymerase Chain Reaction menggunakan sampel lendir dari hidung atau tenggorokan untuk mendeteksi keberadaan virus. Menurut Achmad, RT PCR adalah standar emas pemeriksaan COVID-19 karena bisa langsung mengenali materi genetik virus.
"Artinya bisa digunakan untuk melihat adanya infeksi akut," ujarnya dalam webinar yang diselenggarakan Society of Indonesian Science Journalist dan ditulis Jumat (7/8/2020).
Hanya saja metode pemeriksaan ini membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan hasilnya karena melalui dua kali proses yaitu, ekstraksi dan amplifikasi. Biasanya butuh beberapa hari untuk mengetahui hasil dari pemeriksaan RT PCR.
2. Tes Cepat Molekuler (TCM)
TCM dulunya dipakai sebagai alat diagnostik penyakit TBC. TCM sendiri sebenarnya adalah RT PCR yang disimplifikasi. Metode pemeriksaan dengan TCM sama akuratnya dengan PCR karena bisa mengidentifikasi RNA dari SARS-CoV-2 meski dalam waktu relatif lebih singkat.
"TCM itu basisnya adalah apa yang disebut dengan plug n play. Jadi seluruh reagen yang diperlukan itu sudah ada dalam satu kaset pemeriksaan jadi amat sangat-sangat convenient buat petugas lab. Jadi mereka cukup membuka kaset itu Masukkan cairan dari swab, tutup kasetnya, masukkan ke mesin tunggu sekitar 1 jam, sehingga tak perlu ekstraksi RNA karena sudah langsung otomatis," jelas Achmad.
Kekurangannya adalah secara operasional, harganya mahal karena kaset atau cartridge yang digunakan harus diimpor langsung. Meski cartridge tersebut sebetulnya ini sudah banyak dimiliki oleh klinik atau rumah sakit daerah milik Kemenkes, memang yang khusus untuk COVID-19 ada kendala supply.
3. Rapid Test
Jika kedua tes di atas menggunakan sampel dahak, pemeriksaan rapid test dilakukan dengan mengambil sampel darah dengan tujuan untuk melihat imunoglobin atau antibodi yang terbentuk apabila tubuh sedang melawan virus. Lama waktu pemeriksaan COVID-19 dengan rapid test memang relatif singkat, hanya 15-20 menit namun keakuratan hasil ujinya kerap dipertanyakan.
"Rapid test juga jadi masalah kalau digunakan diskrining COVID-19 karena yang diperiksa adalah antibodinya. Padahal terbentuknya antibodi juga agak lama jadi tidak pas sebenarnya digunakan untuk melakukan skrining apalagi rendah sensitivitasnya. Walau memang murah, tapi kalau banyak yang lolos juga percuma," pungkas Achmad.
Corona Belum Juga Usai, China Laporkan Kasus Infeksi Virus 'Tick-Borne'
Virus Corona COVID-19 masih mewabah di seluruh dunia. Namun, China baru-baru ini melaporkan adanya penyakit menular yang disebabkan oleh virus melalui gigitan kutu atau dikenal dengan 'tick-borne'.
Dikutip dari Times of India, media China melaporkan virus 'tick-borne' telah menginfeksi hampir 67 orang dan menewaskan sedikitnya 7 korban.
Pihak berwenang pun telah memperingatkan masyarakat tentang kemungkinan virus yang bisa menular antarmanusia.
Apa itu virus 'tick-borne'?
Virus yang ditularkan melalui gigitan kutu ini telah diidentifikasi sebagai severe fever with thrombocytopenia syndrome (SFTS).
SFTS bukanlah penyakit baru, karena virus ini telah ditemukan di China, Korea Selatan, dan Jepang sejak 2009. Patogen virus tersebut termasuk dalam kategori bunyavirus, yang merupakan keluarga arthropod-borne atau virus yang dibawa oleh hewan pengerat.
Bagaimana gejalanya?
Menurut laporan media China, seorang wanita di Nanjing mengalami gejala terkait virus ini, seperti demam dan batuk. Setelah melakukan pemeriksaan medis, dokter menemukan bahwa ia mengalami penurunan leukosit dalam darah dan juga trombosit yang rendah.
https://nonton08.com/under-the-bed-2/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar