Layaknya pulau-pulau perbatasan, Miangas juga punya mercusuar sebagai ikon. Berada di bukit tertinggi pulau, wisatawan bisa menikmati Miangas dari ketinggian.
"Belum ke Miangas kalau tidak ke mercusuar," begitulah ungkapan warga Miangas pada tiap pendatang.
Tim detikcom yang melakukan ekspedisi bersama Bank BRI langsung dibikin penasaran dengan mercusuar ini.
Benar saja, pulau di ujung utara Indonesia ini tampak sangat cantik. Jadi wajar kalau kamu akan terus diajak naik ke mercusuar oleh penduduk setempat.
Untuk naik ke mercusuar, kamu bisa didampingi oleh ketua adat atau penduduk setempat. Jalannya hanya satu, melewati markas angkatan TNI POSAD.
Tapi tak perlu khawatir, karena mereka memang bertugas untuk menjaga pulau perbatasan ini. Maklum, Miangas adalah Border Cross Area.
Dari POSAD kamu akan berjalan sekitar 10 menit untuk sampai di kaki bukit. Jalan menuju mercusuar sudah dipermudah dengan adanya tangga.
Meski sudah ada akses, anak tangga yang berjumlah sekitar 190an bikin kamu berolahraga. Bukit yang curam membuat langkah saya berat dan napas tersengal.
Tegak menghadap lautan, mercusuar tampak gagah dari balik anak tangga. Saya berbalik dan melihat keindahan pulau ini dari atas bukit. Memang, paras cantik Miangas tak bisa dielakkan.
Kamu yang suka tantangan, rasanya cocok datang ke mercusuar ini. Mercusuar setinggi 45 meter ini punya 9 lantai yang bisa dijajaki.
Sayangnya, tembok mercusuar sudah habis diangkat angin. Yang tersisa hanyalah rangka mercusuar dan 168 anak tangga menuju puncak mercusuar.
Jika ingin berkunjung ke mercusuar diharapkan untuk datang pagi-pagi. Karena, angin akan semakin kencang jika sudah siang atau sore hari. Ini cukup berbahaya, mengingat tembok mercusuar yang bolong-bolong.
Rasa lelah karena mendaki bukit dan anak tangga akan terbayar lunas di puncak menara. Dari sini terlihat jelas sudut pemukiman dan garis pantai Miangas yang menggoda.
Gulungan gelombang terlihat jelas menghantam bibir pantai. Buih-buih putih meninggalkan jejak di pantai berkarang hitam.
Landasan pacu pesawat terlihat jelas di sisi pantai. Untaian pohon kelapa jadi inti pulau ini.
Mercusuar ini bukan hanya cahaya keselamatan bagi para kapal, tapi juga penduduk Miangas. Di atas mercusuar ini dipasang beberapa panel surya yang diubah menjadi listrik.
detikcom bersama Bank BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan.
Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com! (tapalbatas.detik.com)
Jika Tiket Pulau Komodo Rp 14 Juta, Bagaimana Nasib Backpacker?
Wacana tiket masuk Pulau Komodo sebesar USD 1.000 atau setara Rp 14 juta ramai dibahas dan jadi polemik. Buat kalangan tertentu seperti backpacker, harga itu jelas tidak ramah kantong.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan memberikan penjelasan terhadap hal itu ketika ditemui awak media di Kemenko Kemaritiman, Gedung BPPT, Jumat (4/10/2019). Menurut dia, tiket khusus membership seharga Rp 14 juta nantinya hanya berlaku di Pulau Komodo.
"Orang-orang yang punya tiket inilah yang bisa masuk ke Pulau Komodo," kata Luhut.
Dia menjelaskan, habitat komodo tidak hanya di Pulau Komodo. Ada pulau-pulau lain seperti Pulau Rinca yang juga jadi habitat si Naga Purba.
"Komodo kan masih banyak pulau lainnya seperti Pulau Rinca, pulau apa lagi itu, dan masih banyak. Tapi Pulau Komodo itu, komodonya masih yang besar-besar 3 meteran," papar Luhur.
Artinya, pulau-pulau lain yang jadi habitat komodo tidak dikenai tiket khusus membership premium. Dalam arti kata lain, tiketnya masih normal.
"Jadi backpacker atau yang wisata murah bisa lihat komodo di pulau-pulau sekitar Pulau Komodo," tutupnya.
Wacana kenaikan tiket komodo dan membuatnya jadi wisata kelas premium ini sendiri sebelumnya dilontarkan Luhut di Sekolah Tinggi Perikanan, Jakarta pada Rabu (2/10) lalu. Ia mengatakannya seraya memastikan Pulau Komodo tidak akan ditutup sebagaimana wacana yang sempat muncul.
"Pulau Komodo itu tidak ditutup, kita mau kelola dengan baik, (pulau) yang lain kita atur dan tata jadi wisata eksklusif. Yang penting komodo kita atur terlindungi," kata Luhut.
Luhut mengatakan, nantinya pengelola diminta menyiapkan 50 ribu tiket seharga USD 1.000 atau setara dengan Rp 14 juta (dalam kurs Rp 14 ribu) untuk membership premium tersebut. Maka nantinya akan ada USD 50 juta dolar untuk mengelola Pulau Komodo agar tetap jadi situs warisan dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar