Sabtu, 25 Januari 2020

China Rancang Kereta Berkecepatan 600 Km/Jam

Soal teknologi, China tak mau kalah dari negara lain. terbaru, sedang dirancang kereta berkecepatan 600 km per jam!

Dilansir dari CNN Travel, Minggu (26/5/2019) China Railway Rolling Stock Corporation (CRRC) sedang merancang kereta high-speed magnetic-levitation (maglev). Jika berjalan lancar, akan diproduksi pada tahun 2021.

Kereta tersebut kini sedang dirancang di Qingdao, kota di bagian timur China. Nantinya, kereta maglev akan beroperasi menghubungkan kota-kota besar di China.

"Contoh Beijing ke Shanghai, dibutuhkan sekitar 4,5 jam dengan pesawat, sekitar 5,5 jam dengan kereta api berkecepatan tinggi, dan hanya akan sekitar 3,5 jam dengan kereta maglev, "kata wakil kepala CRRC, Ding Sansan, bagian kepala tim penelitian dan pengembangan.

Kereta Maglev menggunakan tolakan magnet, untuk melayang dan mengurangi gesekan, serta mendorongnya melaju. 3 Tahun sudah penelitian untuk kereta ini, lima set prototipe sudah disiapkan sebagai dasar teknis untuk badan kereta yang ringan dan berkekuatan tinggi.

Kita tunggu saja!

Antre Naik Puncak Everest, 2 Pendaki Tewas

Dua pendaki tewas di Gunung Everest. Penyebabnya, ada kerumunan orang terjebak di antrean yang mengarah ke puncak.

Melansir CNN, Minggu (26/5/2019), pendaki asal India, Anjali Kulkarni (55), meninggal dalam pendakian kembali ke puncak Gunung Everest Rabu lalu. Kata putranya, Shantanu Kulkarni, dia terjebak di 'kemacetan' yang terjadi di atas kamp empat di ketinggian 8.000 mdpl.

Itu adalah kamp terakhir sebelum puncak. Pendaki lainnya asal Amerika, Donald Lynn Cash (55), juga meninggal setelah pingsan karena penyakit ketinggian saat turun dari puncak. Itu dikatakan oleh perusahaan ekspedisi Nepal Pioneer Adventure Pvt. Ltd.

Climber Nirmal Purja memposting gambar di Instagram mengenai lalu lintas manusia yang padat di gunung itu pada hari Rabu. Ia, menunjukkan banyaknya jejak padat pendaki di punggung bukit terbuka di arah puncak.

Dia menambahkan bahwa ada sekitar 320 orang dalam antrian ke puncak. Padahal daerah ini dikenal sebagai zona kematian. Puncak Gunung Everest memiliki ketinggian 8.848 meter, pada tingkat itu, setiap hirupan napas hanya mengandung sepertiga oksigen.



Tubuh manusia juga cepat memburuk pada ketinggian itu. Artinya, kebanyakan orang hanya dapat menghabiskan beberapa menit di atas sana, jika tanpa pasokan oksigen tambahan dan ini jadi faktor utama kematian.

Menurut Shantanu Kulkarni, ibunya telah mendaki selama lebih dari 25 tahun dan telah dilatih untuk mendaki Gunung Everest selama enam tahun terakhir. Dia telah menyelesaikan sejumlah pendakian, termasuk mendaki Gunung Elbrus di Rusia dan Gunung Kilimanjaro di Tanzania.

Anjali Kulkarni memiliki agen periklanan bersama suaminya. "Tetapi mereka berdua pensiun untuk mengejar impiannya, yakni berdiri di puncak Gunung Everest," kata Shantanu.

Cash, seorang kakek dari Utah, pingsan di dekat zona kematian di jalan setapak yang memiliki ketinggian sekitar 8.770 meter, menurut Pioneer Adventure. "Tim kami melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan hidupnya," catat perusahaan itu, seraya menambahkan bahwa Sherpa (pemandu Gunung Everest) bahkan menariknya untuk turun gunung.

"Upaya terbaik telah dilakukan, pasokan oksigen yang cukup dan dukungan medis, tapi mereka tidak dapat menyelamatkan hidupnya," katanya.

Lebih dari 200 pendaki Gunung Everest tewas di puncaknya sejak 1922 sejak kematian pertama dicatat. Mayoritas mayat diyakini masih terkubur di bawah gletser atau salju.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar