Kamis, 15 April 2021

Denmark Setop Permanen Vaksin AstraZeneca, Kemenkes RI Tunggu BPOM-ITAGI

 Juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi masih menunggu kajian vaksin AstraZeneca dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI). Hal ini menanggapi penghentian permanen vaksinasi AstraZeneca di Denmark karena memicu pembekuan darah langka.

"Kita tunggu informasi lebih lanjut dari BPOM dan ITAGI ya," kata Nadia kepada detikcom Kamis (15/4/2021).


Hingga kini, vaksinasi AstraZeneca masih tetap dilanjutkan karena belum ada pencabutan izin penggunaan darurat (EUA) dari BPOM. Terlebih, vaksin AstraZeneca masih digunakan di banyak negara dan masuk kriteria vaksin COVID-19 yang layak digunakan hingga tersertifikasi WHO.


"Penggunaan vaksinasi AstraZeneca sampai saat ini yang kita lakukan, ini belum ada satupun kasus terkait pembekuan darah. Tentunya BPOM dan juga bersama ITAGI belum mencabut penggunaan darurat daripada vaksin Astrazeneca ini," jelas Nadia.


Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Prof Hindra Hingky Irawan sebelumnya menjelaskan kejadian pembekuan darah pasca vaksinasi AstraZeneca sangat langka. Efek samping usai vaksinasi AstraZeneca di Indonesia sejauh ini juga masuk dalam kategori ringan.


Namun, ia meminta masyarakat untuk mewaspadai sejumlah gejala yang tak kunjung hilang selama 2 minggu pasca disuntik vaksin AstraZeneca dosis pertama. Apa saja?


"Kalau pusing dikasih obat nggak membaik setelah 2 minggu, terus kalau ada sakit dada atau kesulitan napas, kalau misalnya sakit perut, nyeri tungkai, bengkak di tungkai, itu datang ke dokter untuk diperiksa," jelas Prof Hindra beberapa waktu lalu.


Saat dihubungi detikHealth, juru bicara vaksinasi COVID-19 Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Ketua ITAGI belum memberikan komentar terkait penghentian vaksinasi AstraZeneca di Denmark hingga berita ini diturunkan.


Isu pembekuan darah tidak hanya menerpa vaksin buatan AstraZeneca. Vaksin COVID-19 Janssen buatan Johnson & Johnson juga mengalami nasib serupa. Amerika Serikat baru-baru ini merekomendasikan penghentian sementara vaksin ini karena diduga terkait pembekuan darah pada beberapa orang yang mendapat suntikan vaksin ini.

https://tendabiru21.net/movies/miss-fisher-and-the-crypt-of-tears/


4 Vaksin Corona Tersandung Isu Miring, Pfizer hingga Johnson & Johnson


Berbagai isu miring menggoyang vaksin-vaksin COVID-19 yang ada saat ini. Mulai dari pembekuan darah yang menerpa AstraZeneca dan Johnson & Johnson, hingga kematian sejumlah lansia usai vaksin Pfizer beberapa waktu silam.

Tidak semua isu miring tersebut bisa dibuktikan atau terkonfirmasi kebenarannya, sebagian bahkan cuma salah paham. Namun ada juga yang memaksa sejumlah negara menghentikan sementara penggunaan vaksin tertentu.


Mulai dari Pfizer hingga Sinovac, berikut beberapa vaksin COVID-19 yang sempat diterpa isu miring.


1. Sinovac

Baru-baru ini, beredar kabar China mengakui rendahnya vaksin COVID-19 buatannya. Kabar yang kemudian viral ini memunculkan keraguan terhadan vaksin-vaksin buatan China yang menggunakan platform tertentu.


Namun Kepala Pusat Pengendali Penyakit China (CDC) menegaskan, hal itu adalah kesalahpahaman. Pasalnya dalam diskusi ilmiah di dunia yang pernah dihadirinya, ia mengusulkan agar prosedur vaksinasi dan jenis vaksin yang tidak berurutan perlu dicoba untuk memaksimalkan potensi kemanjuran vaksin.


"Ini adalah pertama kalinya manusia disuntik vaksin novel virus Corona. Semua prosedur vaksinasi kami berbasis ekstrapolasi inokulasi vaksin virus lain sebelumnya, dan sejauh ini bekerja dengan baik Namun jika kedepannya diperlukan perbaikan, kami dapat menyesuaikan karakteristik virus Corona baru dan situasi vaksinasi," klaimnya, dikutip dari Global Times, Selasa (13/4/2021).


Mengingat Sinovac adalah salah satu produk vaksin COVID-19 yang digunakan di Indonesia, Juru bicara vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi, M. Epid menegaskan, Sinovac masih efektif untuk mencegah penularan COVID-19.


"Vaksin Sinovac yang saat ini kita gunakan masih cukup efektif untuk menekan laju penularan. Dari uji klinis di Unpad pun angka pembentukan antibodi yang muncul selama uji klinis tahap 3 yakni 95-99 persen, artinya sudah sangat baik," ujarnya dalam konferensi pers, Senin (12/4/2021).

https://tendabiru21.net/movies/exam/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar