Berbagai cara dilakukan untuk mencegah penularan virus Corona COVID-19 mulai dari menggunakan masker, rajin mencuci tangan dengan sabun, hingga menjaga jarak. Tetapi, para pramugari di China melakukan hal lain yang unik agar terhindar dari penularan COVID-19.
Para pramugari di China disarankan untuk menggunakan popok demi menangkal infeksi virus Corona. Berdasarkan pedoman maskapai penerbangan terbaru di negara tersebut, hal ini dilakukan untuk menghindari mereka menggunakan toilet pesawat.
Ada beberapa barang wajib dibawa awak pesawat yang tertulis dalam daftar rekomendasi untuk awak pesawat dalam penerbangan dari negara berisiko tinggi, seperti pakaian dalam sekali pakai, masker, kacamata, hingga penutup sepatu.
"Awak kabin disarankan untuk menggunakan popok sekali pakai dan menghindari penggunaan toilet, kecuali dalam keadaan khusus untuk menghindari risiko infeksi," tulis pedoman dari Administrasi Penerbangan Sipil China, dikutip dari New York Post.
Anjuran tersebut muncul setelah sebuah studi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit menemukan bahwa COVID-19 bisa menyebar di pesawat, bahkan di antara penumpang yang tidak bergejala pada Agustus lalu.
Pada akhir Maret lalu, seorang penumpang penerbangan Milan, Italia, ke Seoul, Korea Selatan, terinfeksi virus Corona. Hal itu tetap terjadi meskipun penumpang tersebut selalu menggunakan masker N95, kecuali di toilet.
Contoh lainnya, peneliti juga mengatakan meski penumpang pesawat tidak duduk bersamaan dan tanpa gejala bisa tertular virus Corona. Ini karena mereka menggunakan toilet yang sama dengan salah satu penumpang yang terinfeksi, dan membuat tempat tersebut 'sangat mungkin' menjadi sumber penularan virus.
https://movieon28.com/movies/three-ladies-2/
Fakta di Balik 6 Relawan Meninggal Saat Uji Klinis Vaksin COVID-19 Pfizer
Heboh di media sosial soal meninggalnya 6 relawan dalam uji coba vaksin COVID-19 Pfizer tahap akhir. Vaksin COVID-19 Pfizer diketahui memiliki efektivitas lebih dari 90 persen dan mendapat rekomendasi emergency use of authorization (EUA) dari BPOM AS.
Hoax yang beredar menyebutkan, vaksin Corona Pfizer memanipulasi data dan suntikan yang diberikan diklaim seperti racun. Informasi keliru ini dibagikan dalam laman akun Facebook Timothy Webster pada Kamis (10/12/2020) kemarin, dan tak sedikit yang menyukai postingan tersebut.
"Enam orang tewas dalam uji coba tahap akhir vaksin COVID-19 #vaksin Pfizer, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS telah mengungkapkan hanya beberapa jam setelah Inggris menjadi negara pertama di dunia yang meluncurkan vaksin. (4 dari 6 meninggal karena injeksi plasebo, mengapa #Pfizer harus menggunakan #plasebo yang mematikan, selain memanipulasi data dengan mencoba mengurangi munculnya badai sitokin yang diinduksi dari racun yang disuntikkan dibandingkan dengan kontras miring dengan racun yang bahkan lebih mematikan!?),"demikian informasi hoax yang beredar.
Bagaimana fakta di balik hoax kematian 6 orang beberapa jam usai menerima vaksin Corona Pfizer?
BPOM AS (FDA) menyebut kematian 6 orang tersebut tidak berkaitan dengan masalah keamanan vaksin Corona Pfizer. Hanya ada dua orang yang menerima vaksin dan empat lainnya menerima plasebo.
"Ada total enam kematian dalam percobaan 44.000 orang, dengan dua kematian di antara mereka yang mendapat vaksin dan sisanya pada mereka yang menerima plasebo, dokumen menunjukkan. Tetapi semua kematian merupakan peristiwa yang terjadi pada populasi umum pada tingkat yang sama," kata staf FDA, dikutip dari Reuters.
Bagaimana dengan fakta di balik plasebo yang diberikan diklaim mematikan dan beracun? Orang yang menerima vaksin COVID-19 pertama di Inggris juga dikabarkan tengah kritis, simak juga terkait detail data kematian relawan di halaman berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar