Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Malaysia, Noor Hisyam Abdullah, mengatakan vaksin COVID-19 tak perlu menunggu label halal untuk bisa disuntikkan kepada warganya.
"Jika mereka (produsen vaksin) bisa mendapatkan sertifikasi halal itu lebih baik, tapi kami tidak mendaftarkan obat berdasarkan status halal atau tidak. Kami juga mendaftarkan obat non-halal," kata Hisyam kepada Strait Times.
Kekhawatiran apakah vaksin COVID-19 diizinkan untuk digunakan oleh umat Islam telah muncul ketika Malaysia menandatangani kesepakatan dengan produsen vaksin untuk mendapatkan jatah pengiriman.
Komite Muzakarah Khusus Dewan Nasional Urusan Islam Malaysia bertemu Kamis lalu untuk membahas apakah vaksin dapat diberikan kepada Muslim.
Pekan lalu, Menteri Agama Zulkifli Mohamad Al-Bakri mengatakan keputusan itu akan diumumkan setelah diserahkan kepada Raja, Sultan Abdullah Ahmad Shah, yang mengawasi masalah agama.
Malaysia telah menandatangani kesepakatan dengan Pfizer agar memasok 12,8 juta dosis vaksin untuk 20 persen populasi, dan perjanjian dengan Fasilitas Covax untuk mencakup 10 persen lagi.
Selain itu, Malaysia juga akan mendapatkan vaksin dari China. Hal ini yang kemudian menimbulkan pertanyaan di kalangan umat Islam setempat tentang status kehalalannya.
"Kalau pun ada bahan yang tidak boleh, proses transformasi kimiawi akan membuatnya bersih dan halal," kata Mufti Perlis Mohd Asri Zainul Abidin dalam postingan Facebook, usai menghadiri rapat komite Muzakarah pekan lalu.
Seperti negara mayoritas Muslim lainnya, permasalahan halal atau tidak di Malaysia juga menjadi masalah yang sensitif dan terkadang dapat meningkatkan ketegangan rasial.
https://movieon28.com/movies/three-ladies/
Cegah Penularan COVID-19, Pramugari China Disarankan Pakai Popok
Berbagai cara dilakukan untuk mencegah penularan virus Corona COVID-19 mulai dari menggunakan masker, rajin mencuci tangan dengan sabun, hingga menjaga jarak. Tetapi, para pramugari di China melakukan hal lain yang unik agar terhindar dari penularan COVID-19.
Para pramugari di China disarankan untuk menggunakan popok demi menangkal infeksi virus Corona. Berdasarkan pedoman maskapai penerbangan terbaru di negara tersebut, hal ini dilakukan untuk menghindari mereka menggunakan toilet pesawat.
Ada beberapa barang wajib dibawa awak pesawat yang tertulis dalam daftar rekomendasi untuk awak pesawat dalam penerbangan dari negara berisiko tinggi, seperti pakaian dalam sekali pakai, masker, kacamata, hingga penutup sepatu.
"Awak kabin disarankan untuk menggunakan popok sekali pakai dan menghindari penggunaan toilet, kecuali dalam keadaan khusus untuk menghindari risiko infeksi," tulis pedoman dari Administrasi Penerbangan Sipil China, dikutip dari New York Post.
Anjuran tersebut muncul setelah sebuah studi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit menemukan bahwa COVID-19 bisa menyebar di pesawat, bahkan di antara penumpang yang tidak bergejala pada Agustus lalu.
Pada akhir Maret lalu, seorang penumpang penerbangan Milan, Italia, ke Seoul, Korea Selatan, terinfeksi virus Corona. Hal itu tetap terjadi meskipun penumpang tersebut selalu menggunakan masker N95, kecuali di toilet.
Contoh lainnya, peneliti juga mengatakan meski penumpang pesawat tidak duduk bersamaan dan tanpa gejala bisa tertular virus Corona. Ini karena mereka menggunakan toilet yang sama dengan salah satu penumpang yang terinfeksi, dan membuat tempat tersebut 'sangat mungkin' menjadi sumber penularan virus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar